Bisnis.com, MAKKAH — Menjelang fase puncak ibadah haji 2026, para pembimbing ibadah dan Musyrif Dini mengingatkan jemaah haji Indonesia agar menjaga stamina, adab, dan perilaku selama berada di Tanah Suci. Jemaah diminta tidak memaksakan ibadah sunnah yang berpotensi menguras tenaga sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah.
Musyrif Dini yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Abdullah Kafabihi Machrus, mengatakan bahwa inti ibadah haji terletak pada wukuf di Arafah. Karena itu, kesiapan fisik menjadi faktor penting agar jemaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik.
"Al-Hajju Arafah, haji itu intinya wukuf di Arafah. Maka sebelum itu jangan memforsir tenaga," ujar Kiai Kafabihi saat diwawancarai tim Media Center Haji, dikutip pada Kamis (14/5/2026).
Dia mengimbau jemaah tidak berlebihan menjalankan ibadah sunnah seperti umrah berkali-kali atau aktivitas lain yang menguras energi. Menurutnya, menjaga kondisi tubuh jauh lebih penting agar jemaah dapat fokus menjalankan rukun haji di Armuzna.
Kiai Kafabihi juga menekankan pentingnya menjaga akhlak selama berada di Arab Saudi. Menurut dia, perilaku jemaah Indonesia selama ini dikenal santun dan menjadi citra positif bangsa di mata dunia.
“Adab, tutur kata, dan perilaku jemaah harus dijaga karena itu menjadi keharuman Indonesia,” katanya.
Baca Juga
- Kesiapan Tenda Jemaah Haji di Arafah Capai 90%, Kemenhaj Antisipasi Kemacetan saat Puncak Haji
- 19 WNI Ditangkap di Arab Saudi, Kasus Haji Ilegal hingga Rekam Perempuan Tanpa Izin
- Kisah Jemaah Haji Aceh: Mencari Rumah Baru di Depan Ka'bah, Gantikan yang Tersapu Air Bah
Selain menjaga perilaku, dia meminta jemaah memperbanyak doa untuk bangsa Indonesia dan para pemimpin agar diberikan keberkahan, keamanan, dan keselamatan.
“Kita doakan Indonesia agar menjadi negara yang aman, makmur, dan mendapat ampunan Allah,” ujarnya.
Senada, Musyrif Dini Kementerian Haji dan Umrah RI KH Muhammad Cholil Nafis meminta jemaah, khususnya lansia, tidak memaksakan diri menjalankan ibadah sunnah di Masjid Nabawi maupun Masjidilharam apabila kondisi fisik tidak memungkinkan.
Menurut dia, jemaah yang sudah memiliki niat baik tetap mendapatkan pahala meski terhalang uzur seperti sakit atau anjuran menjaga kesehatan.
“Karena dia sudah ada niat baik tapi terhalang oleh uzur,” kata Kiai Cholil.
Dia menambahkan, jemaah lansia sebaiknya lebih banyak beristirahat di hotel dibanding memaksakan diri berjalan jauh demi mengejar ibadah sunnah. Terlebih suhu udara di Arab Saudi mulai meningkat menjelang puncak haji.
“Meskipun qaol yang rojih itu tetap shalat di masjid, tetapi jika sudah niat shalat di masjid dan terhalang oleh uzur itu, maka dia sudah dapat pahala,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Musyrif Dini, Prof Asrorun Ni’am Sholeh, meminta jemaah tidak berpikir 'aji mumpung' dengan memperbanyak umrah atau tawaf sunnah sebelum fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurutnya, banyak jemaah kelelahan karena terlalu memforsir diri menjalankan ibadah sunnah, padahal puncak haji membutuhkan kondisi fisik yang prima.
“Umrah ya sewajarnya, thawaf juga sewajarnya saja bagi yang memiliki keterbatasan fisik. Enggak usah dipaksakan tetapi tetap menjalankan ibadah karena kita berada di pemondokan tanah haram itu juga adalah tanah suci,” kata Ni’am.
Dia menilai fokus utama jemaah saat ini seharusnya diarahkan pada kesiapan menghadapi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga lontar jumrah di Mina yang menjadi inti pelaksanaan ibadah haji.
Para pembimbing ibadah berharap jemaah Indonesia dapat menjalani puncak haji dengan aman, lancar, dan memperoleh haji yang mabrur melalui persiapan fisik yang baik, kepatuhan terhadap arahan petugas, serta menjaga adab selama berada di Tanah Suci.





