Di tengah perayaan Kenaikan Yesus Kristus, Gereja Katedral Jakarta menyoroti persoalan polusi dan sampah di Indonesia, khususnya di Ibu Kota.
Romo Yohanes Deodatus Pastor Gereja Katedral Jakarta mengajak seluruh umat Kristiani untuk ikut menjaga alam dan lingkungan sebagai bagian dari bentuk kasih terhadap ciptaan Tuhan.
“Seluruh makhluk itu layak untuk kita jaga, kita cintai. Maka keutuhan alam ciptaan yang akhir-akhir ini kita lihat dengan polusi ya di Jakarta yang sudah kalau lihat aplikasi kan sudah itu merah gitu ya. Itu nafas kita Kita udara yang kita hirup itu sudah ya mulai tidak sehat ya. Maka kita harus buat sesuatu,” ujar Romo Deodatus di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Tidak hanya sekedar menjaga lingkungan dan polusi, Romo Deodatus juga mengajak umat untuk mengelola sampah dengan baik. Karena ini jadi salah satu masalah di Jakarta.
“Juga perkara sampah, di Jakarta sudah akan ada kebijakan baru untuk membuang sampah. Karena apa? Ya karena sampah kita terlalu banyak dan kita tidak tahu bagaimana mengelola itu dengan baik ya. Maka aakan ada kebijakan baru untuk untuk sampah di Jakarta. Nah, hal-hal macam ini yang mesti kita ingat, juga menjadi bagian dari perintah Yesus untuk kita semua,” ujarnya.
Peribadatan Kenaikan Yesus Kristus di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (14/5/2026). Foto Lea Citra Santi Baneza suarasurabaya.netDiea menekankan, bentuk perayaan Kenaikan Yesus Kristus tidak hanya beribadah dan berkumpul pada hari ini. Tapi, juga menjaga alam dan mengasihi sesama manusia.
Untuk diketahui, berdasarkan data hari ini di laman IQAir, Jakarta jadi kota paling berpolusi nomor 2 di Indonesia. Indeks Kualitas Udara (AQI) atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 113 atau tergolong tidak sehat. Sedangkan kota paling berpolusi adalah Bekasi dengan skor 138.
Sementara kualitas udara di Surabaya masuk kategori sedang dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 56 dan polutan utamanya PM2.5
Polusi udara memang menghantui masyarakat dan menjadi ancaman serius yang meresahkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap napas yang dihirup oleh penduduk kota menjadi semakin berisiko, dengan partikel-partikel berbahaya dan gas beracun yang menyusup ke dalam sistem pernapasan.
Terkait masalah sampah, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup per Februari 2026, capaian sampah terkelola nasional baru mencapai 25 persen atau sekitar 36.684 ton per hari, sementara 75 persen lainnya (105.483 ton per hari) belum tertangani secara memadai dan masih berisiko mencemari lingkungan.
KLH menekankan optimalisasi pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, dengan fokus pada pengurangan sampah di sumbernya, termasuk perubahan perilaku masyarakat dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, sangat penting. Tujuannya meminimalkan sampah yang masuk ke TPA dan menghentikan praktik open dumping.(lea/bil/ham)




