Ayam Walik dan 69 Buku untuk Mahfud MD

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Rumah di salah satu sudut kawasan Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta itu ramai disambangi berbagai kalangan, Rabu (13/5/2026) malam. Ada akademisi, wartawan, seniman, hingga aktivis sosial. Mereka datang dengan satu tujuan, yakni merayakan ulang tahun ke-69 Mohammad Mahfud MD.

Mahfud sebenarnya nyaris tak pernah menggelar acara khusus untuk merayakan ulang tahunnya. Namun, karena inisiatif sejumlah sahabat dan kerabat, kali ini Mahfud hanya bisa pasrah.

Saat pidato, Mahfud mengungkapkan, salah satu alasannya jarang membuat acara ulang tahun adalah karena bingung menentukan siapa yang diundang dan tidak. Dengan sosok sekaliber Mahfud, tentu dapat dibayangkan jumlah relasi yang dimilikinya sehingga tidak memungkinkan bisa mengundang semua.

Sejumlah jabatan penting pernah diemban Mahfud, mulai dari Menteri Pertahanan serta Menteri Kehakiman dan HAM pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (2000-2001), Anggota DPR (2004-2008), dan Ketua Mahkamah Konstitusi (2008-2013). Terakhir, Mahfud menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2019-2024) pada peridoe kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Selain itu, sosok yang pada Pemilihan Presiden 2024 mencalonkan diri sebagai wakil presiden bersama calon presiden Ganjar Pranowo itu juga gamang ketika urusan sudah menyangkut penentuan tamu berstatus VIP dan VVIP alias tamu penting dan super penting. “Karena bagi saya semua orang sama, jadi tidak enak,” tutur Mahfud.

Acara perayaan ulang tahun Mahfud pada Rabu malam pun dikemas dalam format sederhana yang dihadiri keluarga serta puluhan orang-orang dekat saja. Acara berlangsung semisantai dengan jamuan prasmanan berupa rawon, sate ayam, tekwan, dan wedang ronde.

Baca JugaMahfud MD Masuk Tim Reformasi Polri, Angin Segar Perbaikan Korps Bhayangkara?

Usai santap malam, sejumlah tamu dipersilakan menyampaikan sambutan untuk Mahfud yang didampingi sang istri, Zaizatun Nihayati. Ketiga anak mereka, yakni Muhammad Ikhwan Zein, Vina Amalia, dan Royhan Akbar, juga duduk bersama.

Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Tri Agung Kristanto menjadi yang pertama mendapat kesempatan itu. Mewakili Penerbit Buku Kompas (PBK), Tri Agung menyerahkan “kado” berupa buku berjudul Pemikiran Hukum dan Politik Mahfud MD.

“Buku ini disiapkan selama tiga tahun dan hari ini menjadi momentum yang pas untuk melahirkan buku ini,” ujar Tri Agung yang juga merupakan salah satu editor buku tersebut.

Buku setebal 146 halaman itu berisi 33 tulisan pilihan karya Mahfud yang dimuat di Harian Kompas selama 20 tahun terakhir. Buku tersebut terdiri dari tiga bab yang terbagi dalam tema prinsip hukum, prinsip politik, serta prinsip hukum dan politik.

Kompas pun memberikan sebanyak 69 eksemplar buku kepada Mahfud sebagai simbol 69 tahun usianya. Mahfud kemudian membagikan buku yang masih dicetak terbatas itu kepada para tamu. Setelah acara, buku itu akan dicetak massal dan diedarkan ke seluruh toko buku di Indonesia.

Hal ini diiringi harapan agar Mahfud bisa kembali terus mencurahkan sumbangsihnya bagi kebaikan dan kejayaan negeri ini.

Selain buku, Tri Agung juga memberikan kado berupa sepasang ayam walik. Ayam lokal langka itu memiliki bulu-bulu yang melengkung ke luar atau seperti terbalik (disebut walik dalam bahasa Jawa). Ada kepercayaan sebagian masyarakat bahwa ayam jenis ini bisa menolak bala.

Namun, Tri Agung mengatakan, walik juga berarti “kembali” dalam bahasa Jawa. Hal ini diiringi harapan agar Mahfud bisa kembali terus mencurahkan sumbangsihnya bagi kebaikan dan kejayaan negeri ini.

Bukan hanya Kompas, sejumlah tamu lain juga mempersembahkan kado untuk Mahfud. Seniman Butet Kartaredjasa menghadiahi puisi dan musisi Sri Krishna Encik menyumbangkan lagu.

Ada pula kado spesial dari pelatih tim nasional Indra Sajfri berupa jersei timnas Indonesia yang sudah terbingkai. Jersei itu pun bukan jersei biasa, melainkan jersei yang sudah ditandatangani oleh seluruh anggota skuad timnas.

Tak kalah istimewa juga hadiah yang diberikan Muhammad Ikhwan Zein, putra sulung Mahfud. Lelaki yang akrab disapa Wawan itu menulis buku berjudul Belajar Hidup dari Abah, yang turut diluncurkan dalam kesempatan tersebut.

Baca JugaJadi Cawapres Ganjar, Ini Gagasan Mahfud MD untuk Indonesia Emas 2045

Buku itu berisi rangkuman refleksi Wawan tentang pengalaman dan memori sejak kecil bersama sang ayah yang dipanggilnya dengan sebutan “abah” itu. Ada pula kisah soal nilai-nilai keteladanan dan prinsip hidup yang diterapkan Mahfud kepada keluarga.

“Saya berharap catatan-catatan sederhana saya di buku ini bisa memberikan gambaran atau pembelajaran hal-hal baik bagi generasi penerus abah nanti,” ucapnya.

Bukan hanya bagi keluarga, Mahfud juga menjadi sumber keteladanan bagi orang banyak. Sejumlah testimoni dari para sahabat dan kolega yang selama puluhan tahun bersentuhan dengannya pun dibeberkan dalam syukuran tersebut.

Salah satunya perihal integritas, di mana Mahfud dikenal tegas soal urusan ini. Hal itu pula yang membuatnya melaju mulus menjadi Hakim Konstitusi kemudian Ketua MK pada 2008.

Tidak susah mengkampanyekan orang yang integritasnya sudah tidak diragukan lagi oleh siapa pun.

Hal ini digarisbawahi Masduki Baidlowi, sahabat lama Mahfud sekaligus rekan satu fraksi saat menjadi anggota DPR periode 2004-2009. Kala itu, Masduki yang ditugaskan menyukseskan pemilihan Mahfud di parlemen tidak kesulitan meyakinkan para anggota DPR lainnya.

“Tidak susah mengkampanyekan orang yang integritasnya sudah tidak diragukan lagi oleh siapa pun. Itu pengalaman saya. Ngomong ke sana ke mari itu mudah sekali karena semua memang tidak ada yang meragukan,” ujar Masduki.

Perihal integritas ini juga disampaikan staf khusus Mahfud saat menjabat Menko Polhukam, Budi Kuncoro. Dia mengungkapkan, setelah dilantik, Mahfud langsung mengumpulkan para deputi di kementeriannya itu khusus untuk mewanti-wanti soal menjaga integritas tersebut.

Selain itu, masih kata Budi, Mahfud juga memanggil biro umum dan memberikannya sejumlah uang. Uang itu dimaksudkan untuk memenuhi keperluan keluarga Mahfud sehingga tidak mengambil dari uang dinas.

Baca JugaIntegritas Rentan, Korupsi Rawan Terjadi

“Jadi setiap bulan kepala biro itu lapor, uang yang terpakai sekian, terus diisi lagi, bulan depan begitu lagi seterusnya. Jadi satu sen pun tidak ada uang negara (dipakai untuk keperluan keluarga),” ucap Budi.

Sementara itu, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar, mengatakan, Mahfud juga dikenal sebagai sosok yang egaliter. Hal itu dirasakannya sendiri sebagai murid Mahfud saat menyusun disertasi doktor. “Walau saya murid, tapi diperlakukan setara,” ujarnya.

Zainal pun menyebut Mahfud sebagai sosok yang bisa menyatukan antara integritas dan konsistensi tindakan. Hal ini di antaranya tampak melalui peran Mahfud saat mengawal agenda-agenda masyarakat sipil selama menjabat di pemerintahan.

Di ujung acara, Mahfud pun menyampaikan rasa terima kasih kepada semua tamu yang hadir dan mendoakannya. Dia juga menyampaikan terima kasih atas diterbitkannya 33 artikel karyanya di Kompas menjadi sebuah buku.

Baca JugaJangan Kacaukan Asas Hukum

Selain itu, dia juga berpesan kepada semua pihak, baik yang di dalam pemerintahan maupun di luar, agar terus bersama-sama bersinergi untuk menyelamatkan dan memajukan Indonesia.

Selamat ulang tahun, Prof Mahfud!


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Idul Adha, warga Jakbar diimbau terapkan eco kurban
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Dewan Juri Lomba Cerdas Cermat Akhirnya Buka Suara, Akui Anulir Jawaban Peserta Karena Alasan Ini
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Pelaku Menikahi Korban, Penghentian Kasus Kekerasan Seksual Anak di Batam Dipertanyakan
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Xi Jinping Peringatkan Trump soal Taiwan: Bisa Picu Bentrok China-AS
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Sulit Dapatkan LPG 12 Kg, SPPG di NTT Berhenti Beroperasi Sementara
• 16 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.