Suara lenguh sapi dan kambing yang mengembik terdengar begitu jelas ketika memasuki Pasar Hewan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/5/2026). Pasar hewan sudah penuh dengan dagangan. Untuk melangkah saja perlu kehati-hatian. Puluhan truk dan kendaraan bak terbuka diparkir mengelilingi pasar. Pasar sudah mulai ramai meski Idul Adha 1447 H baru akan jatuh pada 27 Mei 2026.
Nijar mengenakan topi koboi dan jam warna keemasan saat memegang tali kekang sapi. Saat itu, ia membawa 14 sapi, namun hanya lima yang dipajang karena tempatnya tidak cukup. ”Sapi madura berumur tiga tahun dijual Rp 25 juta”, ujar lelaki asal Probolinggo, Jawa Timur, ini memulai percakapan.
Puluhan kendaraan bak terbuka, termasuk truk, mulai menurunkan domba dan sapi. Keramaian pasar ini sudah dimulai sejak subuh. Di pasar ini, sapi mendominasi hewan ternak yang dijual. Aktivitas jual beli didominasi transaksi antarpedagang. Tetapi, dijumpai juga pembeli perseorangan walau hanya sedikit. Banyak pedagang menjual hewan dagangan mereka dan menggantinya dengan membeli bakalan sapi untuk dipelihara.
Tidak hanya hewan kurban yang dijual di pasar hewan ini. Namun, banyak juga pedagang membawa sapi atau kambing bakalan yang akan digemukkan. Salah satu pedagang itu adalah Yogi. Pagi itu, ia duduk di bak truk. Dengan truk itu, ia membawa 11 sapi berusia enam bulan. Pada hari-hari biasa, sapi bakalan dijual Rp 10 juta per ekor, tetapi mendekati Idul Adha, harganya melonjak menjadi Rp 13 juta per ekor. ”Paling buat tahun depan baru untuk kurban. Sapi yang gede keluar, yang kecil masuk. Sapi bakalan dibawa ke Tasikmalaya, Jawa Barat,” kata Yogi, pedagang sapi asal Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Pasar hewan yang beroperasi sejak 1969 tersebut berdiri di atas tanah pribadi milik H Rusydi Rush (alm) atas permintaan pedagang. Pasar Hewan Jonggol mendapat izin resmi dari pemerintah daerah tahun 1983.
Di ujung pasar berdiri warung dengan tiang bambu. Juhri tengah duduk dan sesekali berdiri menunggu pembeli kerbau. Kerbau-kerbau yang dijual itu milik temannya. Ia menyebut bahwa dirinya hanya belantik. Juhri menjadi pedagang kerbau sejak 1985 dan lancar sampai sekarang. ”Ini kerbau umur 2,5 tahun dijual Rp 20-an juta,” ujar Juhri.
Tak hanya sapi dan kerbau, di pasar hewan tersebut juga tersedia kambing dan domba. Salah satu pedagang domba adalah Haji Dimyati yang berasal dari Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Saat ditemui, Dimyati duduk berlindung dari terik matahari di belakang mobil bak terbuka. Saat itu, ia membawa 18 domba. Domba-domba yang siap dikurbankan itu dijual antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per ekor. Menurut dia, banyak pedagang hewan lain yang sudah mengenalnya dapat mengambil hewan di rumahnya. ”Tahun ini agak sepi, beda dengan tahun kemarin. Dari pagi hingga jam 10 ini belum ada yang laku,” kata Dimyati.
Tak hanya sebagai pasar hewan, pasar ini juga menjadi sumber penghidupan bagi pemilik warung makan, penjual pakaian, penjual alat-alat pertanian, penjual ikan asin, hingga tukang cukur. Nalam, pria kelahiran 1951, adalah salah satunya. Sejak tahun 1981, ia menjadi tukang cukur di pasar tersebut. Hari itu, ia sangat bersyukur karena saat ditemui sudah mendapat penghasilan Rp 200.000. Ia tidak mematok berapa harga jasanya. Beberapa pelanggan membayarnya Rp 15.000, tetapi ada juga yang membayar Rp 20.000. ”Pelanggannya, ya, pedagang, belantik, pokoknya yang bekerja di pasar ini,” kata Nalam.





