JAKARTA, KOMPAS.com - Jemaat Katedral Jakarta menilai Hari Kenaikan Yesus Kristus mempunyai makna berani menyuarakan kebenaran di tengah dinamika sosial.
Salah satu jemaat, Redemptus Risky (26) meyakini bahwa rentang waktu 40 hari sejak kebangkitan hingga kenaikan digunakan Yesus untuk memantapkan ajaran kepada para murid.
Hal ini, kata Risky, memberikan tanggung jawab besar bagi umat masa kini untuk meneladani sikap dan ajaran Yesus, terutama ketegasannya saat menghadapi pengadilan.
"Dia (Yesus) selalu menjawab dengan kebenaran tanpa ragu-ragu walaupun dia (Yesus) tahu apa dampak dari kebenaran yang disampaikan. Dia tetap mengutarakan apa yang menurut dia benar gitu menurut saya teladan itu yang teladan-teladan itu yang perlu saya ikuti, bicara tentang kebenaran," ucap Riski di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Baca juga: Jadi Garam dan Terang, Pesan Ibadah Hari Kenaikan Yesus di Katedral Jakarta
Risky pun menyebut ajaran tentang menyampaikan kebenaran adalah sebuah teladan yang sangat relevan pada masa kini dan wajib diikuti para pengikut-Nya.
"Dia selalu menjawab dengan kebenaran tanpa ragu-ragu walaupun Dia tahu apa dampak dari kebenaran yang disampaikan. Dia tetap mengutarakan apa yang menurut Dia benar gitu menurut saya teladan itu yang teladan-teladan itu yang perlu saya ikuti, bicara tentang kebenaran," ucapnya.
Pandangan senada turut disampaikan oleh Esther (23). Ia mengajak umat untuk melihat rangkaian karya penebusan secara utuh, bukan sekadar berfokus pada penderitaan Yesus di kayu salib.
Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga dinilai sebagai bukti nyata dari terpenuhinya janji yang sudah tertulis dalam Alkitab.
"Di luar dari penderitaan di salib, kenaikan-Nya ini menandakan kalau Dia (Yesus) sudah menang, yakni menang lawan dosa dan menang atas maut," ujar Esther.
Baca juga: KPK Fasilitasi 8 Tahanan Nasrani Ibadah di Hari Kenaikan Yesus Kristus
Dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari, Esther mengingatkan bahwa penebusan dosa itu harus diikuti dengan cara menjalankan hidup untuk mengamalkan kebaikan.
Ia menyayangkan jika pengampunan Tuhan justru dijadikan dalih oleh sebagian orang untuk terus mengulangi kesalahan yang sama.
Ia pun menitipkan harapan agar umat manusia bisa selalu hidup dengan mengamalkan kebaikan sesama, sebagai bentuk ucapan syukur karena sudah ditebus dosanya oleh sang Juru Selamat.
"Intinya sih perbuatan baik yang kamu lakukan tidak menyelamatkanmu, tapi cuma Tuhan Yesus yang menyelamatkanmu. Makanya, alasan kenapa kita berbuat baik kepada orang lain itu adalah murni sebagai bentuk ucapan syukur karena kita telah diselamatkan," tutupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




