Risiko Hantavirus Jadi Pandemi Global Masih Rendah, Kewaspadaan Harus Dijaga

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kekhawatiran penyebaran hantavirus merebak di jagat maya. Dalam pantauan di media sosial X, sejumlah warganet khawatir jika hantavirus dapat menjadi pandemi global.

Menanggapi hal tersebut, Dosen mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta, Listiana Masyita Dewi, (Syita) meminta masyarakat untuk tetap tenang.

Baca Juga :

Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Penyebaran Hantavirus di Indonesia
Ia menilai, risiko hantavirus menjadi pandemi global saat ini dinilai rendah karena sebagian besar hantavirus tidak mudah menular antarmanusia.

"Penularannya terutama berasal dari rodensia ke manusia," ujar Syita, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 14 Mei 2026.

Syita menerangkan, hantavirus berbeda dengan Covid-19 yang penularannya melalui udara. Penyebaran hantavirus umumnya memerlukan paparan dekat terhadap urin, feses, atau liur rodensia yang terinfeksi. 

"Kasus ini menjadi viral karena banyak media dan media sosial membandingkannya dengan awal pandemi Covid-19. Apalagi wabah terjadi di kapal pesiar dan melibatkan pelacakan penumpang lintas negara," jelasnya. Jaga kewaspadaan Syita menekankan, pentingnya kewaspadaan terhadap beberapa jenis hantavirus, seperti Andes hantavirus, karena memiliki kemampuan penularan antarmanusia melalui kontak erat. 

Faktor lain yang perlu diwaspadai, antara lain perubahan iklim, urbanisasi, dan peningkatan populasi rodensia.

"Ketiga faktor tersebut berpeluang meningkatkan risiko munculnya wabah lokal di masa depan," tambahnya.

Ilustrasi Pexels

Syita mengajak masyarakat untuk mengenali gejala hantavirus, baik pada diri sendiri maupun orang di lingkungan sekitar. Masyarakat harus menaruh perhatian khusus apabila menemukan seseorang yang mengalami demam akut disertai nyeri otot hebat, sakit kepala, mual, atau sesak napas setelah memiliki riwayat paparan rodensia atau lingkungan yang terkontaminasi tikus.

"Kecurigaan semakin kuat bila muncul gejala fase lanjut seperti sesak napas progresif yang mengarah ke HPS atau penurunan jumlah urin dan tanda perdarahan yang mengarah ke HFRS," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ahmad Dhani Murka, Sebut Lita Gading Lakukan Hoaks dan Bully Psikis ke Safeea
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Gunung Semeru Meletus Hari Ini, Muntahkan Abu Vulkanis Setinggi 600 Meter
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Ketua PGRI Jateng Sebut SE Mendikdasmen Nomor 7/2026 Bisa Ancam Guru Honorer, Ini Alasannya
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Rustic Market Explore The Museum, Wisata Bernuansa Eropa Instagramable di Bogor-Gaya Hidup
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rekayasa Lalin Selama Jalan Daan Mogot Jakbar Ditutup Sebagian untuk Proyek Galian hingga 2027
• 9 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.