Jakarta, tvOnenews.com - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat masih terus menjadi perhatian publik. Setelah viral dugaan ketidakadilan terhadap peserta dari SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra atau Ocha, kini sorotan mengarah pada dua juri lomba yang hingga saat ini belum menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Dua juri yang menjadi sorotan, Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni, disebut belum menemui maupun meminta maaf secara personal kepada Ocha meski polemik lomba tersebut sudah ramai diperbincangkan di media sosial.
Menanggapi hal itu, pihak MPR RI akhirnya buka suara dan menjelaskan alasan mengapa kedua juri tersebut tidak tampil langsung ke publik.
MPR Sebut Permintaan Maaf Sudah Diwakili LembagaSekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah mengatakan permintaan maaf sebenarnya sudah disampaikan melalui lembaga MPR, sehingga tidak lagi bersifat personal.
Menurutnya, para juri merupakan bagian dari kesekretariatan MPR dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Juri ini adalah perwakilan kesekretariatan. Jadi permohonan maaf yang sudah disampaikan beberapa hari lalu itu sudah mewakili kegiatan tersebut,” kata Siti Fauziah kepada awak media, Rabu (13/5/2026).
Ia menegaskan, permintaan maaf yang disampaikan oleh pihak kesekretariatan dianggap sudah mencakup seluruh unsur pelaksana kegiatan, termasuk para juri.
“Artinya bukan personal lagi, tapi itu kelembagaan yang langsung meminta maaf,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan publik terkait alasan Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni yang belum muncul langsung memberikan klarifikasi atau permintaan maaf kepada Ocha maupun masyarakat Kalimantan Barat.
Ocha Akui Belum Pernah Dihubungi JuriSebelumnya, Josepha Alexandra atau Ocha mengaku hingga saat ini belum menerima permintaan maaf langsung dari kedua juri tersebut.
“Untuk sampai sekarang belum ada sih,” kata Ocha saat ditanya terkait komunikasi dari juri.
Kasus ini mencuat setelah jawaban Ocha dalam babak final LCC disebut disalahkan oleh juri padahal dinilai benar oleh banyak pihak di media sosial. Keputusan itu membuat SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan poin dan memicu tudingan adanya ketidakadilan dalam lomba.



