Sejumlah anggota korps musik dari TNI Al segera bersiap saat kapal perang fregat Kerajaan Belanda HNLMS De Ruyter mulai terlihat di kejauhan. Dipandu kapal tunda, kapal perang tersebut akhirnya sandar dengan sambutan iringan musik di Dermaga Jamrud, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (14/5/2026).
Kapal perang dengan panjang 144 meter dan lebar 18 meter tersebut tidak langsung bisa sandar, perlu waktu sekitar hampir satu jam bagi kapal akhirnya bisa benar-benar sandar dan terikat tali.
Sambutan hangat ditunjukkan oleh sejumlah anggota TNI AL. Sesaat merapat, anggota TNI AL yang terlibat dalam kegiatan penyambutan memberi hormat dan dibalas kembali dengan hormat oleh segenap awak yang terlihat di kapal.
Setelah urusan tali-temali selesai, dan pintu kapal terbuka. Lima penari membawakan Tari Remo, tari khas Surabaya yang biasa dipentaskan saat menyambut tamu. Sejumlah awakpun memenuhi pinggir kapal untuk melihat dan beberapa banyak yang merekam dengan kamera HP.
Kapal perang Kerajaan Belanda tersebut sedang menjalankan misi Pacific Archer 2026, sebuah perjalanan ke negara-negara di Asia Tenggara dan Pasifik yang memakan waktu 5,5 bulan. Kunjungan ini sebagai bentuk komitmen berkelanjutan Belanda terhadap keamanan maritim, kebebasan navigasi, dan memperdalam hubungan dengan negara-negara mitra di Indo-Pasifik, termasuk Indonesia.
Saling memberi hormat. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Awak kapal. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Bendera Belanda. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Kunjungan ini menyoroti pandangan Belanda bahwa Indo-Pasifik adalah kawasan ekonomi dan geopolitik yang sangat penting, dan bahwa perkembangan di sana memiliki implikasi langsung terhadap kemakmuran dan keamanan Belanda dan Eropa karena hubungan perdagangan yang kuat.
Dengan beroperasi di kawasan ini, Belanda berupaya memperkuat hubungan militer-diplomatik dengan mitra regional, meningkatkan pertukaran informasi dan kesiapan, serta berkontribusi pada lingkungan maritim yang stabil berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).
Surabaya merupakan salah satu dari beberapa pemberhentian yang dipilih secara strategis seperti di Kochi, Manila, Hai Phong, Incheon dan Tokyo. Kapal perang kerajaan Belanda tersebut akan kembali berlayar pada Minggu (17/5/2026) mendatang untuk mengikuti RIM of Pacific (RIMPAC) 2026 yang merupakan latihan perang maritim internasional terbesar di dunia yang diadakan dua tahun sekali (setiap tahun genap) di sekitar Hawaii, dipimpin oleh Armada Pasifik AS.





