jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar acara bertajuk Dari Hulu ke Hilir, Kisah Interaksi Masyarakat dan Alam.
Adapun rangkaian kegiatan meliputi pemutaran film dan diskusi publik, untuk mengajak generasi muda peduli terhadap perlindungan mangrove dan lahan gambut.
BACA JUGA: KLH/BPH Tegaskan Tempuh Jalur Hukum Bagi Pelanggar Tata Kelola Sampah di Bantargebang
Menteri LH/Kepala BPLH, Moh. Jumhur Hidayat menuturkan Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga ekosistem mangrove dan lahan gambut.
Hal ini dianggap sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
BACA JUGA: OTP Penerbangan Haji dari Bandara Adi Soemarmo Capai 96,8 Persen
Menurutnya, mangrove dan gambut memiliki peran strategis sebagai penyimpan karbon alami, sekaligus penyangga kehidupan, termasuk sumber mata pencaharian masyarakat.
Jumhur juga menyebut, komitmen pemerintah atas penguatan tata kelola mangrove tertanam melalui fondasi hukum mandat PP Nomor 27 Tahun 2026.
BACA JUGA: Bukukan Pendapatan Rp8,29 Triliun, SIG Perkuat Pasar Ekspor dan Transformasi
Saat ini pemerintah tengah menyusun Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional. Rencana tersebut akan menjadi pedoman arah kebijakan nasional dalam upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove secara terpadu.
Dia juga mengajak generasi muda untuk berhenti khawatir terhadap krisis iklim dan mulai bertindak dengan turut serta dalam aksi nyata menjaga lingkungan, termasuk ekosistem mangrove dan gambut.
“Perubahan sejati seringkali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten di daerah masing-masing,” ujarnya pada saat launching program KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda) di Jakarta, pada Rabu (13/5).
Peluncuran program KELANA dilakukan secara simbolis oleh Menteri LH/Kepala BPLH, bersama dengan Sestama, Deputi TLSDAB, Plt Deputi PSLB3, Direktur Utama BPDLH, Direktur PPEPD, Direktur PPKWPL, World Bank, Puteri Indonesia Lingkungan 2024, National Geographic Indonesia, perwakilan komunitas, mahasiswa, pelajar SMP dan SMA.
Program KELANA dipaparkan dalam bentuk video yang membahas tentang ekosistem gambut dan mangrove, melalui rangkaian aktivitas anak muda yang berinteraksi langsung dengan alam.
Paparan video ini menceritakan peran ekosistem tersebut sebagai penyimpan karbon alami, pengatur tata air, serta berbagai manfaat lain, menjadikannya salah satu ekosistem penting bagi mitigasi perubahan iklim.
“Sekarang kami mulai dengan KELANA di mangrove. Nanti ada film tentang sampah, climate change, pencemaran, ada gambut dan sebagainya. Itu semua nanti kami kenalkan kepada anak-anak muda,” tambahnya.
Selain video program KELANA, diputar pula film dokumenter yang mengangkat kisah tentang hubungan erat masyarakat dengan ekosistem mangrove.
Menunjukkan peran ekosistem mangrove sebagai benteng alami yang mampu meredam energi gelombang dan membantu melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan bencana, termasuk tsunami.
Video yang mencontohkan peristiwa tsunami di Palu pada 2018 menjadi pengingat tentang pentingnya pengelolaan ekosistem pesisir dan tata ruang yang berkelanjutan.
Film dokumenter ini turut menampilkan kiprah para pegiat lingkungan, termasuk komunitas Mangrove Rangers, yang aktif menjaga dan merawat ekosistem mangrove di Sulawesi Tengah.
“Kolaborasi permanen antara kementerian dan energi kreatif. Jadilah garda depan, jadilah digital ambassadors yang mengisi ruang siber bukan dengan keluhan, melainkan dengan narasi harapan dan solusi nyata,” tutur Jumhur.
Edukasi melalui film dokumenter ini menjadi media pembelajaran transformatif yang mengajak generasi muda untuk memahami betapa pentingnya menjaga lingkungan dan terdorong melakukan kontribusi nyata.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama dengan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), sebagai bagian dari upaya KLH/BPLH untuk memperluas literasi lingkungan, khususnya untuk ekosistem mangrove dan gambut.
Sekaligus mengajak masyarakat dan anak muda untuk berperan aktif melestarikan ekosistem dan demi menjaga keselamatan, lingkungan, dan masa depan bersama.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada




