Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump menggelar pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada hari ini, Kamis (14/5/2026), di Beijing, China. Dalam pertemuan itu, sejumlah isu dibahas mulai dari Taiwan hingga Selat Hormuz.
Dilansir dari CNBC, Trump tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) disambut Wakil Presiden China Han Zheng. Kemudian, Trump menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dengan Xi Jinping di Beijing pada hari ini, Kamis (14/5/2026).
Trump telah berpartisipasi dalam upacara penyambutan dan mengadakan pertemuan bilateral dengan Xi Jinping. Kemudian, Trump mengunjungi Kuil Surga yang bersejarah dan menghadiri jamuan makan kenegaraan.
Trump kemudian dijadwalkan meninggalkan China pada esok hari, Jumat (15/5/2026) setelah minum teh dan makan siang dengan Xi Jinping.
Senator Steve Daines yang juga turut melakukan perjalanan ke China bersama delegasi kongres mengatakan bahwa terdapat kepentingan kedua pemimpin untuk menjaga hubungan tetap stabil. Selain itu, pertemuan keduanya sebagai upaya untuk meredakan ketegangan, bukan memutuskan hubungan.
"Kami berharap melihat beberapa kesepakatan perdagangan yang dihasilkan, saya pikir itu akan terkait dengan Boeing, daging sapi, dan kacang-kacangan," kata Daines dilansir dari CNBC pada Kamis (14/5/2026).
Adapun, dalam pertemuan Trump dengan Xi Jinping tersebut, terdapat sejumlah isu yang dibahas:
Saat Xi Singgung Thucydides TrapDalam pertemuan dengan Trump, Xi Jinping membuka pembahasan dengan adanya kekhawatiran prospek perang di masa depan antara AS dan China.
“Seluruh dunia menyaksikan pertemuan kita,” kata Xi dilansir dari New York Post.
Menurut Xi, saat ini transformasi yang belum pernah terjadi dalam satu abad sedang dipercepat di seluruh dunia. Situasi internasional pun bersifat dinamis dan bergejolak. Dunia pun menurutnya telah sampai di persimpangan jalan baru.
“Bisakah China dan Amerika Serikat mengatasi Thucydides Trap dan menciptakan paradigma baru hubungan antar negara besar? Bisakah kita menghadapi tantangan global bersama dan memberikan lebih banyak stabilitas bagi dunia? Bisakah kita, demi kesejahteraan kedua bangsa kita dan masa depan umat manusia, membangun masa depan yang lebih cerah bersama untuk hubungan bilateral kita?" kata Xi.
Xi merujuk pada konsep geopolitik yang dikenal sebagai Thucydides Trap, atau risiko yang muncul ketika kekuatan yang sedang berkembang menantang kekuatan yang lebih kuat dan mapan.
Konsep tersebut dicetuskan oleh profesor Harvard Graham Allison, setidaknya sejak 2014. Konsep itu dinamai mengacu sejarawan Yunani kuno Thucydides yang menulis bahwa kebangkitan Athena menempatkan Sparta pada posisi defensif sedemikian rupa sehingga perang tidak dapat dihindari.
Trump yang berbicara setelah Xi tidak secara spesifik menanggapi pernyataan Xi. Namun, Trump memprediksi hubungan antara China dan AS akan lebih baik dari sebelumnya.
“Suatu kehormatan berada bersama Anda. Suatu kehormatan menjadi teman Anda. Saya sangat menantikan diskusi kita. Ini diskusi besar. Ada yang mengatakan, ini mungkin pertemuan puncak terbesar yang pernah ada," kata Trump.





