MASIH berlangsung hingga hari ini di Beijing, arah angin pertemuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah mulai terbaca. Tidak berbeda dari awal inisiasi pertemuan itu, Beijing tampak di atas angin.
Beijing telah di atas angin sejak awal. Karena, meski Tiongkok secara formalitas sebagai pengundang, pertemuan kenegaraan ini merupakan permintaan Trump sejak tahun lalu. Walaupun Trump terus pamer arogansi sepanjang tahun ini, baik lewat penetapan tarif perdagangan maupun serangan ke Iran, nyatanya ia pula yang datang dengan banyak permintaan kepada Tiongkok.
Trump mengatakan membawa agenda soal Iran, produk pertanian, sampai artificial intelligence (AI). Ia pun membawa bos-bos perusahaan raksasa teknologi AS sebagai daya jual bagi Beijing.
Di sisi lain, isu yang menarik bagi Beijing hanya satu. Itu adalah Taiwan. Dalam pertemuan, Xi terang-terangan mengatakan, jika tidak ditangani dengan baik, isu itu dapat mendorong hubungan bilateral kedua negara ke posisi yang 'berbahaya'.
Baca Juga :
Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing Berlangsung Selama Dua JamTiongkok mungkin sebenarnya juga punya banyak permintaan kepada AS. Secara logika, negara mana yang suka dikenai tarif bea masuk tinggi. Belum lagi AS juga masih memblokade kapal-kapal tanker Tiongkok di Selat Hormuz.
Namun, sikap Xi yang lugas menyebutkan satu isu sebagai kartu mati pertemuan telah menegaskan arah angin itu. Ia seolah ingin menunjukkan bahwa apa pun tekanan AS, tidak membuat mereka goyah. Negosiasi hanya bisa terbuka jika permintaan utama mereka diperhatikan.
Satu gestur dari Tiongkok inilah yang harus dicermati dunia dari pertemuan itu, termasuk Indonesia. Permintaan Tiongkok memang hanya satu, tetapi dampaknya bisa luas. Bukan hanya pada stabilitas dunia, ataupun sebaliknya, ketidakstabilan baru, kelanjutannya ialah dampak pada ekonomi hingga teknologi militer.Piala Thomas
Presiden Tiongkok Xi Ji Jinping menyambut Presiden AS Donald Trump. Foto: CGTN
Hingga saat ini sikap AS soal Taiwan ialah tidak mendukung kemerdekaan, meskipun di sisi lain memasok senjata bagi mereka. Sebaliknya Beijing menginginkan AS tegas menolak kemerdekaan Taiwan. Peringatan halus Xi soal ‘jebakan Thucydides’ memberi sinyal bahwa Beijing punya batas kesabaran soal 'muka dua' AS terkait dengan Taiwan.
Kita tentu berharap jangan sampai ada perang baru lagi di tengah situasi global yang sudah genting saat ini. Namun, di sisi lain, dunia juga harus sama waspadanya jika permintaan Beijing itu direspons, atau sedikitnya mendapat angin segar dari AS.
Perbaikan hubungan bilateral Tiongkok-AS jelas akan membuat keduanya makin menjadi kekuatan utama perdagangan dunia. Perbaikan hubungan kedua negara akan membuat komoditas-komoditas penting, baik di masa sekarang maupun mendatang, seperti kedelai untuk pangan hingga mineral tanah jarang untuk teknologi AI dan militer, akan didominasi mereka.
Baca Juga :
Xi dan Trump Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap TerbukaBegitu pun bagi Indonesia, dinamika hubungan Tiongkok-AS harus memperjelas fokus di berbagai kerja sama bilateral dan multilateral yang dijalin. Kerja sama itu tidak hanya harus membawa keuntungan nyata saat ini, tetapi juga memastikan mitra-mitra yang dapat diandalkan dalam situasi krisis.
Mulailah dari yang paling dekat. Indonesia harus dapat memastikan keanggotaan di ASEAN menghasilkan sejumlah kerja sama penting. Sebagai mitra geografis terdekat, negara-negara ASEAN harus dapat menjadi bantalan stabilitas di tengah gejolak dunia yang tak kunjung menemukan kepastian.




