Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China menjadi momen penting setelah absen hampir satu dekade. Namun, di luar itu, kehadiran para petinggi perusahaan teknologi dan keuangan AS yang mendampingi Trump, seperti Tim Cook, Elon Musk, dan Jensen Huang juga menjadi sorotan tersendiri.
Kehadiran para CEO tersebut dinilai bukan sekadar urusan bisnis, tetapi juga bagian dari strategi diplomasi dagang AS. Sebab, sosok-sosok seperti Tim Cook dan Elon Musk dikenal luas dan memiliki citra positif di mata masyarakat China. Produk-produk Apple seperti iPhone, iPad, dan Apple Watch bahkan dianggap sebagai standar tinggi teknologi komputasi pribadi di kalangan anak muda China.
Di sisi lain, lawatan tersebut juga bisa dibaca sebagai melemahnya posisi negosiasi AS secara geopolitik. Trump disebut membawa para CEO papan atas sebagai “kartu AS” dalam upaya mempertahankan pengaruh ekonomi Washington, khususnya pada sektor semikonduktor dan teknologi tinggi.
AS masih unggul dalam desain chip melalui perusahaan seperti Nvidia. Namun, China menguasai bahan baku dan terus mendorong kemandirian teknologi dengan sistem yang lebih tertutup dibanding model terbuka yang dipromosikan AS.
China dinilai memiliki posisi strategis melalui penguasaan mineral tanah jarang yang sangat penting bagi industri elektronik dan militer global, termasuk untuk produksi jet tempur F-35 buatan Amerika. Kendali China atas rantai pasokan bahan baku tersebut bisa menjadi ancaman serius bagi AS karena Beijing memiliki kemampuan menghentikan pasokan global sewaktu-waktu.
Pengamat James King dari Chatham House, via DW News, menyebut pemilihan para pemimpin bisnis yang ikut dalam kunjungan tersebut dilakukan secara cepat dan terbagi dalam dua kategori.
Pertama, CEO perusahaan AS yang memiliki bisnis besar di China dan dianggap sebagai “teman China”. Kedua, CEO perusahaan AS yang tengah mengalami kesulitan bisnis di pasar China dan memiliki persoalan yang ingin diselesaikan.
King juga menilai hubungan AI antara kedua negara kini bersifat permusuhan. Meski AS menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan AI, perusahaan-perusahaan China disebut lebih ramping namun efisien. Kerja sama pengembangan model bahasa besar (LLM) antara kedua negara pun dinilai masih sangat mustahil terjadi.
Menurut data Australian Strategic Policy Institute, China kini unggul dalam 66 dari 74 teknologi canggih kritis dunia. Area yang masih belum dikuasai penuh antara lain semikonduktor paling mutakhir dan beberapa model AI tertentu. Kondisi itu membuat China dinilai secara efektif telah memenangkan persaingan teknologi global.
Baca Juga: Trump Sebut Venezuela ‘Negara Bagian ke-51’, Caracas Langsung Melawan
Selama pandemi COVID-19, Barat disebut terlambat menyadari kecepatan perkembangan teknologi China akibat minimnya kontak langsung. Kini mulai muncul kesadaran baru bahwa ekonomi global sedang bergerak menuju paradigma baru dengan kepemimpinan teknologi China.
Dominasi tersebut disebut terjadi di berbagai sektor strategis seperti bioteknologi, farmasi, kendaraan listrik (EV), dan baterai. Kondisi ini memunculkan ancaman nyata bagi perusahaan-perusahaan besar AS dan Eropa, yang dinilai menghadapi risiko gangguan bisnis serius dalam lima tahun ke depan akibat persaingan dari China.





