Penularan virus hanta masih menjadi perhatian publik, baik secara global maupun di dalam negeri. Perkembangan wabah virus hanta di kapal pesiar MV Hondius pun masih terus ditunggu masyarakat.
Dalam pernyataan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lewat pernyataan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 13 Mei 2026, setidaknya terdapat 11 kasus terinfeksi yang telah dilaporkan. Tiga orang di antaranya meninggal.
Dikutip dari laman resmi WHO, Tedros mengatakan, situasi terkait penularan virus hanta di kapal pesiar memang masih membutuhkan perhatian khusus. Meski begitu, risiko kesehatan pada masyarakat luas tetap rendah. Ia pun memastikan bahwa wabah ini tidak seperti wabah Covid-19 yang pernah terjadi.
”Saat ini belum ada tanda-tanda bahwa kita akan menyaksikan awal dari wabah yang lebih besar,” kata Tedros. ”Namun, tentu saja, situasinya bisa berubah.”
WHO menyebutkan, virus yang ditemukan pada penularan virus hanta di kapal MV Hondius adalah virus hanta dengan tipe Andes (ANDV). Virus tipe tersebut selama ini ditemukan di Amerika Selatan, terutama di Argentina, Chile, Uruguay, Brasil Selatan, dan Paraguay.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang juga anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Erlina Burhan, dalam seminar daring yang diadakan Forum Diskusi Denpasar 12 di Jakarta, Rabu (13/5/2026), mengatakan, virus Andes merupakan satu-satunya jenis virus hanta yang terkonfirmasi memiliki kemampuan menular dari manusia ke manusia. Sebagian besar jenis virus hanta lainnya menular dari hewan ke manusia.
Meski begitu, ia menyampaikan, penularan virus Andes antarmanusia selama ini jarang terjadi. Biasanya, penularan ditemukan pada kontak yang amat dekat pada kluster keluarga. Virus jenis ini menimbulkan penyakit berupa hantavirus cardio-pulmonary syndrome (HPS).
Virus ini lebih banyak ditemukan di Amerika dengan tingkat kematian 30-40 persen. Biasanya gejala yang muncul dari penularan virus ini demam tinggi, mialgia berat, malaise, nyeri kepala, serta mual dan diare. Pada kondisi yang lebih buruk bisa menimbulkan batuk dan sesak napas, gangguan pada paru, serta syok yang berisiko meninggal.
Penularan virus Andes antarmanusia selama ini jarang terjadi. Biasanya, penularan ditemukan pada kontak yang amat dekat.
Jenis penyakit tersebut berbeda dengan yang selama ini ditemukan di wilayah Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Jenis virus hanta yang ditemukan di Asia dan Eropa, antara lain, virus Hantaan, Seoul, dan Puumala. Virus ini yang menimbulkan penyakit berupa hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS).
Gejala dari penyakit tersebut, antara lain, demam mendadak, nyeri kepala hebat, nyeri punggung ataupun perut, dan mata merah akibat injeksi konjungtiva. Pada kondisi yang lebih buruk bisa menyebabkan perdarahan. Tingkat kematian akibat penyakit HFRS 1-15 persen.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI telah melaporkan bahwa di Indonesia setidaknya sudah ditemukan 23 kasus virus hanta pada periode 2024-2026. Virus yang ditemukan adalah yang menyebabkan penyakit HFRS.
Erlina menyebutkan, jenis virus yang ditemukan di Indonesia, antara lain, Seoul. Jenis virus tersebut lebih ringan dari virus Andes. Virus ini juga menular dari tikus ke manusia dan belum ditemukan adanya penularan antarmanusia.
Erlina menyebutkan, pola penularan utama dari virus hanta berasal dari binatang pengerat atau rodensia, terutama tikus. Virus tersebut terbawa melalui urine, feses, dan air liur tikus yang mengering dan bercampur dengan debu. Partikel debu tersebut yang kemudian terhirup oleh manusia hingga akhirnya menyebabkan infeksi.
”Jadi, bukan dari gigitan jalur utama (penularan)-nya walaupun mungkin ada yang dari gigitan. Sementara area yang paling berisiko (penularan) berada di gudang atau rumah tua, area pascabanjir, sawah dan ladang yang banyak tikus, serta ruang tertutup yang biasanya ada tikus bersarang,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi yang juga Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Tjandra Yoga Aditama menuturkan, virus hanta yang ditemukan di dunia terdiri dari beberapa jenis virus. Setidaknya terdapat delapan varian virus hanta.
Varian itu, antara lain, virus Hantaan (HTNV) yang banyak dilaporkan di Asia, seperti Korea Selatan, China, dan Eropa. Selain itu, jenis virus lainnya, yakni virus Puumala yang dilaporkan di Eropa, virus Seoul yang dilaporkan di Asia hingga Amerika, dan virus Dobrava-Belgrade di Eropa. Keempat jenis virus tersebut yang terkait dengan penularan HFRS.
Sementara itu, jenis virus hanta lain yang juga ditemukan yang terkait dengan penularan HPS, antara lain, virus Sin Nombre yang dilaporkan di Amerika Serikat dan Kanada, virus Bayou di Amerika Serikat, virus Black Creek Canal di Amerika Serikat, serta virus Andes di Amerika Serikat.
”Virus Andes ini yang ditemukan di kapal pesiar dan varian ini juga yang dilaporkan menyebabkan terjadinya penularan manusia ke manusia,” kata Tjandra.
Dalam artikel yang diterbitkan di laman resmi Universitas Airlangga, pakar mikrobiologi klinik yang juga pengurus Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) Agung Dwi Wahyu Widodo menuturkan, kunci utama untuk mencegah virus hanta adalah dengan pengendalian rodensia atau hewan pengerat. Utamanya, menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus.
Ia pun memberikan sejumlah rekomendasi terkait upaya pengendalian rodensia tersebut, antara lain, dengan melakukan inspeksi rutin dengan menutup akses masuk tikus ke dalam tempat tinggal ataupun fasilitas kesehatan.
Cara lainnya melalui desinfeksi lingkungan dengan menggunakan klorin dengan kadar 0,1 persen atau desinfektan standar rumah sakit pada area berisiko. Setiap petugas kesehatan diharapkan juga menggunakan alat pelindung diri terstandar sesuai indikasi saat menangani pasien.
”Edukasi masyarakat juga penting dengan memberikan pemahaman untuk menghindari paparan langsung dengan debu atau area yang terkontaminasi kotoran tikus,” ucap Agung.
Erlina menambahkan, upaya lain untuk mencegah penularan virus hanta bisa dilakukan dengan menutup akses paparan hewan pengerat dengan menutup celah atau lubang di dinding, lantai, ataupun atap. Selain itu, simpan makanan dalam wadah tertutup rapat, mengelola sampah rutin, serta memperbaiki saluran air dan atap bocor.
Sementara itu, pengendalian tikus bisa dilakukan dengan menggunakan perangkap yang sesuai, menghindari paparan langsung dengan tikus mati atau hidup, serta membersihkan sarang tikus dengan sarung tangan dan masker.
Pastikan juga lingkungan bersih dan aman dengan membuka ventilasi udara, menyemprotkan desinfektan, serta menghindari cara membersihkan kotoran tikus menggunakan sapu kering ataupun di-vacuum. Paparan aerosol dari kotoran tersebut bisa sangat berbahaya.
”Jadi, kalau mau membersihkan ruang yang lama tertutup jangan langsung disapu. Ruangan perlu dibasahi dulu supaya tidak ada debu yang terhirup,” kata Erlina.




