Sejumlah artis hingga influenser menyatakan kekecewaan atas tuntutan yang ditetapkan pengadilan terhadap manten Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Pengadilan menyatakan Nadiem dituntut 18 tahun penjara dan membayar uang pengganti senilai Rp 5,6 triliun di kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook.
Jaksa penuntut umum atau JPU menuntut Nadiem membayar denda senilai Rp 1 miliar subsider 190 hari penjara. Selain itu, penegak hukum menuntutnya uang pengganti Rp 5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan.
Sementara untuk pidana pokoknya, jaksa menuntut Nadiem dibui 18 tahun. Dengan begitu, jika denda dan uang pengganti tidak dapat dibayarkan Nadiem, total tuntutan hukuman penjara yang didapatnya adalah 27,5 tahun.
Merespons tuntutan yang tinggi tersebut, para artis pun meluapkan kekecewaan. Melalui akun media sosial probadi mereka para artis menyatakan sikap.
Cinta Laura: Jangan Mau Masuk Pemerintahan Kalau Tak Mau DihancurkanArtis Cinta Laura kecewa dengan tuntutan 18 tahun penjara yang jaksa berikan kepada sosok yang telah mengabdikan bertahun-tahun hidupnya untuk memajukan negara. Terlepas dari setuju atau tidak terhadap pandangan politik sosok tersebut, Cinta mengaku ini bukan yang pertama.
Menurutnya ada pola yang kerap terjadi di Indonesia, yakni individu cerdas, kompeten, dan berdedikasi yang masuk ke dunia politik justru berakhir “dihancurkan”.
“Tidak selalu karena mereka bersalah, tetapi semata-mata karena mereka ‘mengganggu’,” tulis Cinta Laura dalam instagram resminya, dikutip Jumat (15/5).
Cinta mengatakan di tengah ajakan kepada generasi muda untuk masuk pemerintahan, mengabdi kepada negara, dan membawa perubahan, muncul pertanyaan mengapa orang-orang mau melakukannya jika melihat kondisi seperti ini terjadi secara nyata?
Ia menilai pihak-pihak yang bermain di balik layar bukan sedang melindungi Indonesia. Melainkan justru mengajarkan generasi muda berbakat bahwa pilihan paling aman adalah tetap tidak terlihat atau bahkan pergi.
Cinta juga menanggapi komentar “kalau begitu pergi saja” dengan meminta publik berhenti membiarkan ego menutupi kebenaran. Menurutnya, banyak anak bangsa yang cerdas sangat mencintai Indonesia, memilih tetap tinggal, membangun, dan mencari cara lain untuk berkontribusi di luar pemerintahan karena sistem dinilai terlalu berisiko untuk dijalani dari dalam.
“Tapi inilah kenyataan yang lebih pahit: tak peduli seberapa kelas dunia startup, kreator, dan inovator kita, JIKA pemerintah tetap korupsi dan rakus kekuasaan, JIKA aturan tidak melindungi orang atau memungkinkan industri benar-benar berkembang, apa yang sebenarnya bisa kita harapkan sebagai masyarakat?,” tegas Cinta.
Tak hanya itu, ini adalah momen yang menyedihkan bagi Indonesia. Cinta mengatakan bukan karena satu orang yang sedang diadili, tetapi karena apa yang ditandakan hal ini bagi setiap orang cerdas dan idealis yang menyaksikannya. Negara ini mungkin belum siap melindungi orang-orang yang cukup berani untuk mencoba mengubahnya.
“Kepada keluarga Nadiem dan kepada setiap orang Indonesia yang merasakan beban momen ini, kalian tidak sendirian dalam kesedihan, frustrasi, atau cinta kalian terhadap apa yang seharusnya bisa menjadi negara ini,” tulis Cinta.
Kata Maudy AyundaSelain Cinta, artis Ayunda Faza Maudya atau dikenal Maudy Ayunda mengatakan masyarakat kini menjadi saksi atas apa yang bisa terjadi pada orang-orang cerdas dan berniat baik yang berupaya membawa inovasi di Indonesia.
“Ini sungguh memilukan dan membuat marah,” tulis Maudy dalam media sosial resminya, dikutip Jumat (15/5).
Maudy juga mengaku hatinya hancur untuk Nadiem Makarim dan Franka Franklin Makarim. Ia mengatakan tidak bisa membayangkan kemarahan dan kesedihan yang dirasakan keduanya, seraya mendoakan mereka beserta anak-anak mereka.
Maudy turut menyampaikan kesedihannya terhadap Indonesia dan orang-orang berbakat serta berniat baik di dalamnya. Menurutnya, situasi ini membuat banyak orang kemungkinan akan berpikir berkali-kali sebelum memutuskan bekerja di pemerintahan atau terlibat bersama pemerintah dalam kapasitas apa pun.
“Hati saya hancur karena ini terasa seperti langkah besar menuju kemunduran,” tulis Maudy.
Kritik dari Ferry IrwandiSementara itu, influenser sekaligus pendiri Malaka Project, Ferry Irwandi, mengaku selama ini termasuk pihak yang keras mengkritik kebijakan Nadiem Makarim saat menjabat menteri. Namun, menurutnya, proses hukum yang kini dihadapi Nadiem tidak bisa dibenarkan maupun dianggap wajar.
Alumni Politeknik Keuangan Negara STAN itu menilai kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan tersebut, berdasarkan fakta-fakta persidangan yang sejauh ini muncul, terasa tidak masuk akal.
“Menurut pendapat saya, ini sama anehnya dengan yang menimpa Ibam dan sangat dipaksakan. Kesiksa banget ngeliat belakangan yang terjadi Sama Pak Nadiem, sama Mas Ibam, Sama Mas Wawan, sama Mas Khariq,” tulis Ferrry dalam media sosial resminya.
Ferry juga menyoroti dugaan ketimpangan dalam penegakan hukum. Menurutnya, di saat kasus lain, anggaran pengadaan kaos kaki senilai Rp 6,9 miliar di Badan Gizi Nasional (BGN) justru tidak dipermasalahkan. Ia juga menyinggung pejabat pembuat komitmen (PPK) yang terlibat dalam pusaran kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek (2019–2022) yang disebut menerima uang kickback, justru tidak ditangkap.
“Uang sitaan korupsi dipamerkan triliunan yang kita gak tahu siapa koruptornya, hebat banget! Hebat!,” tulis Ferry.




