Bisnis.com, CIREBON - Program hilirisasi pertanian melalui pembangunan Kebun Benih Datar (KBD) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, diproyeksikan menjadi pengungkit produktivitas tebu sekaligus fondasi perbaikan kualitas benih untuk mendukung target swasembada gula nasional.
Skema ini menempatkan perbenihan sebagai titik awal pembenahan rantai produksi, dari hulu hingga panen, agar petani tidak lagi bergantung pada benih turun-temurun yang menurunkan rendemen dan hasil tebu.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian Hermansyah mengatakan KBD dirancang sebagai pusat penyediaan benih tebu bermutu yang terstandar, adaptif terhadap lahan setempat, serta mampu meningkatkan efisiensi budidaya.
Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap produktivitas kebun rakyat naik tanpa harus memperluas lahan tanam. Fokus utamanya adalah perbaikan kualitas input, bukan sekadar intensifikasi konvensional.
Ia pun menilai, Cirebon memiliki prasyarat agroklimat yang kuat untuk menjadi episentrum perbenihan tebu di Jawa Barat.
"Tebu adalah komoditas utama di wilayah ini. Jika benihnya diperbaiki dari sumbernya melalui KBD, maka efeknya akan berantai ke produksi, kualitas gula, dan pendapatan petani," ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Baca Juga
- Maung Bandung Pincang, Persib Tetap Bidik Poin Penuh atas PSM
- Jabar Mau Hapus Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar, KDM Buka Suara
- Titah KDM soal Sampah Berpotensi Hasilkan Cuan, Indramayu Lirik RDF
Menurut dia, selama ini persoalan produktivitas tebu rakyat kerap berulang pada siklus yang sama: kualitas benih menurun, biaya perawatan meningkat, sementara hasil panen stagnan.
KBD diposisikan untuk memutus siklus tersebut dengan memastikan petani memperoleh benih unggul yang seragam, sehat, dan siap tanam.
Di tingkat petani, kebutuhan akan modernisasi berjalan beriringan dengan perbaikan benih. Rahmat, petani tebu asal Karangsembung yang juga Ketua Koperasi Semangat Masyarakat (SEMAR) menyebut benih unggul akan efektif bila ditopang alat dan mesin pertanian.
"Kami butuh traktor, sugar cane harvester, dan drone pertanian. Tanpa itu, benih bagus pun tidak maksimal di lapangan," katanya.
Rahmat menilai, tantangan terbesar bukan hanya pada teknis budidaya, tetapi keterbatasan tenaga kerja dan menurunnya minat generasi muda di sektor pertanian.
Modernisasi, kata dia, dapat mempercepat proses tanam, pemeliharaan, hingga panen, sekaligus membuat pertanian lebih menarik bagi anak muda.
"Kalau prosesnya cepat dan efisien, hasilnya terlihat. Itu yang bisa mengubah cara pandang generasi muda," ujarnya.
Rahmat berharap, KBD di Cirebon juga diharapkan menjadi model pengembangan perbenihan berbasis wilayah. Dengan benih yang diproduksi dan diseleksi langsung sesuai karakter lahan setempat, risiko ketidaksesuaian varietas dapat ditekan.
"Dampaknya bukan hanya pada peningkatan tonase tebu, tetapi juga rendemen gula yang selama ini menjadi keluhan pabrik gula dan petani," tutur Rahmat.
Hermansyah menambahkan, pendekatan hilirisasi melalui KBD bukan proyek jangka pendek. "Perbenihan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam satu musim, tetapi dampaknya berkelanjutan," tuturnya.
Ia menekankan pentingnya konsistensi pendampingan teknis, distribusi benih yang tepat sasaran, dan dukungan peralatan modern agar program tidak berhenti di tahap percontohan.
Data lapangan pun menunjukkan sebagian kebun tebu rakyat masih menggunakan pola tanam lama dengan input terbatas. Kondisi ini membuat biaya produksi tinggi karena kebutuhan pupuk dan perawatan meningkat akibat kualitas benih yang menurun.
Dengan KBD, katanya, siklus tersebut diharapkan berubah: benih sehat menekan kebutuhan input berlebih, sementara produktivitas meningkat.
"Bagi petani, keberadaan KBD menjadi harapan baru untuk keluar dari pola produksi yang stagnan. Kalau benihnya bagus dan alatnya ada, kami optimistis hasil panen bisa naik signifikan," kata Hermansyah.





