Rupiah Sentuh Rp17.613 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi. Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot sempat menyentuh level Rp17.613 per dolar Amerika Serikat (AS), yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah tercatat melemah 0,48% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.529 per dolar AS.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi faktor eksternal yang semakin besar di tengah libur pasar domestik selama dua hari. Kondisi tersebut membuat Bank Indonesia (BI) hanya dapat melakukan intervensi melalui pasar internasional.

“Karena apa? Kita lihat bahwa liburnya pasar di Indonesia ini ya membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Ibrahim mengatakan BI terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Menurutnya, rupiah yang sempat bergerak di atas Rp17.600 per dolar AS pada pagi hari kemudian kembali turun ke bawah level tersebut.

“Artinya apa? Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Ya mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin,” tambahnya.

Ibrahim menambahkan, pada awal pekan depan intervensi diperkirakan tidak hanya dilakukan oleh BI, tetapi juga pemerintah melalui Kementerian Keuangan, termasuk lewat lelang global bond di Tiongkok.

Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi besarnya anggaran subsidi energi, khususnya impor minyak mentah untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).

“Apalagi dari minyak mentah dari 1,5 juta barrel minyak mentah yang diimpor 85% adalah untuk subsidi bahan bakar minyak untuk masyarakat,” tambahnya.

Menurutnya, tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor energi memberikan sentimen negatif terhadap rupiah dan memperkuat posisi mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Ia bahkan memperkirakan rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS dalam perdagangan Mei 2026. Jika level tersebut terlampaui, Ibrahim menilai ada kemungkinan pelemahan berlanjut hingga Rp22.000 per dolar AS.

Untuk meredam tekanan tersebut, Ibrahim memproyeksikan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Juni mendatang sebesar 25 hingga 50 basis poin.

“Ya bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah. Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga,” ucapnya

Baca Juga: Rupiah Melemah Sentuh Level Psikologis Baru di Atas Rp17.600 per USD

Baca Juga: Purbaya Minta Masyarakat Jangan Panik Soal Rupiah: Tak Akan Sejelek 98

Kendati demikian, ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Hal itu tercermin dari dominasi investor domestik dalam kepemilikan obligasi pemerintah.

“Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus karena 90% ya obligasi yang membeli adalah domestik,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Kebakaran Melanda RSUD Dr Soetomo, 1 Pasien Meninggal Dunia
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Penulisan Nama Menlu AS Diganti demi Bisa Masuk China
• 7 jam laludetik.com
thumb
RSUD Dr Soetomo: Pasien ICU Meninggal Bukan Akibat Kebakaran
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rupiah Melemah ke Rp 17.604, Pemerintah Sebut Utang RI Hampir Rp 10.000 Triliun Masih Aman
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Arahan Prabowo, Kapolda Metro Jaya Kini Berpangkat Jenderal Bintang Tiga
• 17 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.