Salah satu raksasa otomotif Jepang, Honda, untuk pertama kalinya mencatatkan kerugian tahunan pada tahun fiskal yang baru saja berakhir pada Maret.
Honda mengumumkan kerugian sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar 2,7 miliar dolar AS itu di Tokyo, Jepang, Kamis (14/5/2026). Laporan kerugian itu merupakan yang pertama sejak perusahaan terdaftar di Bursa Efek Tokyo pada 1957.
Kerugian besar itu salah satunya disebabkan tertundanya rencana produksi kendaraan listrik untuk pasar Amerika Serikat.
Pada bulan Maret lalu, Honda membatalkan peluncuran dan pengembangan sejumlah model kendaraan listrik (EV) di AS. Tiga model EV yang dibatalkan diproduksi di AS adalah Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX.
Perubahan kebijakan pemerintah oleh Presiden AS Donald Trump, termasuk tarif impor dan penghapusan insentif pajak untuk pembeli kendaraan listrik, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penundaan proyek kendaraan listrik tersebut.
Pemerintahan Trump telah mengurangi program insentif untuk kendaraan listrik dan menahan dana kepada negara bagian yang ingin menambah lebih banyak stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik. Meskipun dibayangi harga bensin di AS yang melonjak akibat perang di Iran.
Trump juga memblokir mandat kendaraan listrik yang ketat di California tahun lalu. Tarif Trump pada mobil dan suku cadang impor, meskipun diturunkan menjadi 15 persen dari awalnya 25 persen, juga berdampak pada profitabilitas Honda.
Perubahan peraturan dan faktor-faktor lainnya itu telah menyebabkan permintaan kendaraan listrik menurun secara signifikan.
Honda Civic saat dipamerkan dalam Auto China 2026 di Beijing, China, 24 April 2026. (AP PHOTO/NG HAN GUAN)
SUV Honda Passport Trailsport 2026 di Colorado, AS, 12 Mei 2026. AP/DAVID ZALUBOWSKI
Sedan Accord 2026. AP/DAVID ZALUBOWSKI
Sejumlah analis mengatakan, Honda Motor Co mungkin terlalu ambisius dan terlalu cepat ketika banyak pasar, terutama segmen EV, saat ini masih belum siap. Akibatnya, Honda harus menghentikan banyak rencananya terkait peluncuran model kendaraan listrik, termasuk yang sedang dikembangkan dalam usaha patungan dengan Sony Corp.
Menurut CEO Honda Toshihiro Mibe, saat ini perusahaan masih memetakan strategi pertumbuhan baru yang mencakup upaya berkelanjutan untuk mencapai netralitas karbon.
Namun, Mibe mengakui jika saat ini tetap diperlukan pengembangan model hibrida dan model kendaraan mesin bensin biasa, bukan hanya kendaraan listrik.
”Kami akan melanjutkan penelitian dan pengembangan kami untuk terus mengembangkan teknologi masa depan, termasuk baterai kendaraan listrik,” kata Mibe.
Meski di sektor mobil mencatatkan hasil yang kurang menggembirakan, laba bersih Honda yang berpusat di Tokyo itu tetap terjaga berkat bisnis sepeda motornya yang sehat dan tumbuh positif. Hal itu membantu penjualan keseluruhan produk Honda untuk tahun fiskal ini yang naik 0,5 persen menjadi 21,8 triliun yen atau sekitar 138 miliar dolar AS.
Honda yang dikenal dengan produksi mobil ikonik seperti sedan Accord dan sepeda motor Super Cub, telah menjual 3,4 juta mobil di seluruh dunia pada tahun ini, turun dari 3,7 juta dari tahun fiskal sebelumnya.
Sementara untuk produk sepeda motor, Honda telah menjual 22,1 juta sepeda motor secara global, naik dari 20 juta unit pada tahun lalu. Honda mendominasi beberapa pasar sepeda motor, termasuk di India.
Tantangan besar itu tidak hanya dialami Honda, produsen otomotif Jepang lainnya juga menghadapi hal serupa. Mereka tertekan oleh tarif AS, perang di Timur Tengah yang berkepanjangan, dan persaingan ketat dari perusahaan otomotif China.
Toyota, salah satu produsen mobil terbesar di dunia berdasarkan penjualan unit, pekan lalu memperkirakan penurunan laba bersih sebesar 22 persen pada tahun fiskal ini.
Sementara Nissan yang dalam beberapa waktu terakhir telah menutup sejumlah pabrik dan memangkas ribuan pekerja, masih terpukul oleh tarif AS, inflasi, dan persaingan yang semakin ketat. Nissan Motor Corp, yang berpusat di kota pelabuhan Yokohama, melaporkan kerugian sebesar 533 miliar yen, sekitar 3,4 miliar dolar AS pada tahun fiskal ini.
Kerugian itu lebih kecil dari kerugian tahun fiskal sebelumnya yang mencapai 670,9 miliar yen. Adapun penjualan tahunan Nissan turun 5 persen menjadi 12 triliun yen, sekitar 76 miliar dolar AS.
CEO Nissan Ivan Espinosa mengatakan, saat ini Nissan telah membuat kemajuan yang stabil dan melihat "tanda-tanda yang positif" dari rencana pemulihan.
"Kami telah melampaui pemulihan dan memasuki fase pertumbuhan. Kami akan membangun momentum ini melalui manajemen biaya yang disiplin dan eksekusi produk yang lebih cepat, mendorong penjualan dan profitabilitas," ujar Espinosa.
Nissan yang dikenal dengan produk seperti sedan Altima, SUV Pathfinder, kendaraan listrik Leaf, dan model mewah Infiniti, telah menjual 3,15 juta kendaraan secara global selama tahun fiskal ini.
Menanggapi kerugian Honda dan Nissan, analis di Bloomberg Intelligence, Tatsuo Yoshida, mengatakan, ”Perbedaan utama Honda dengan Nissan adalah kekuatan produk dan kekuatan merek Nissan yang lemah dan pemulihan yang tidak dapat diprediksi, sementara kerugian Honda adalah kerugian besar dalam sekali waktu karena perubahan strategi".
"Produk kendaraan ICE (mesin pembakaran internal) dan HEV (kendaraan listrik hibrida) Honda masih kuat, dan kekuatan mereknya tinggi. Profitabilitas di bidang sepeda motor dan keuangan juga bagus," kata Yoshida.
Beberapa waktu lalu sempat muncul rencana agar Nissan menggabungkan beberapa operasinya dengan Honda Motor Co, tetapi pembicaraan tersebut gagal. Meskipun merger tidak mungkin terjadi, peluang kemitraan dan kerja sama terbatas tampaknya lebih realistis.
Produsen mobil Jepang kini tengah berjuang dan bersaing ketat dengan pemain baru, produsen mobil China yang mulai mendominasi pasar Asia.(AP/AFP)





