REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Di tengah perdebatan panjang antara Timur dan Barat pada awal abad ke-20, Majalah Al-Tamaddun al-Islamy edisi1937 pernah memuat sebuah tulisan menarik tentang bagaimana sejumlah pemikir Barat memandang Nabi Muhammad SAW dan peradaban Islam.
Tulisan itu bukan sekadar pujian terhadap Islam, melainkan juga refleksi tentang hubungan umat Islam dengan kaum Nasrani Arab, serta pentingnya kejujuran ilmiah dalam menilai sejarah.
Baca Juga
Mengapa Masyarakat Mesir Sangat Menghormati Roti dan Menyebutnya 'Isy atau Kehidupan?
Mesir Kirim Jet Tempur ke Uni Emirat Arab, Begini Tanggapan Santai Iran
Hizbullah, Para Pemburu Mematikan, dan 3 Pesan Kuat untuk Tentara Israel
Salah satu kisah yang paling menonjol dalam tulisan tersebut adalah cerita mengenai filsuf Prancis, Auguste Comte.
Menurut naskah itu, Comte pada awalnya dikenal sebagai sosok yang kerap menyerang Islam dan Nabi Muhammad SAW.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Penulis menggambarkannya sebagai intelektual yang dipengaruhi semangat gerejawi Eropa yang keras terhadap Islam. Namun pandangannya berubah setelah dia melakukan perjalanan ke Mesir dan berdialog dengan sejumlah ulama Muslim.
Rasa ingin tahunya mendorong Comte menelusuri lebih jauh sejarah Nabi Muhammad SAW dan peradaban Islam.
Dia kemudian mengunjungi Andalusia dan menyaksikan langsung jejak-jejak kejayaan peradaban Islam di sana.
Setelah itu, dia menetap cukup lama di Roma dan melakukan penelitian di perpustakaan Vatikan untuk mempelajari syariat Islam serta kehidupan Nabi Muhammad SAW secara mendalam.
Dari proses panjang itulah, menurut tulisan tersebut, Comte mulai mengagumi pribadi Rasulullah SAW, ajaran Islam, dan warisan peradaban Muslim.
Infografis Pesan Terakhir Rasulullah di Jabal Rahmah - (Dok Republika)