JAKARTA, KOMPAS — Pasar obligasi Indonesia tengah menghadapi ujian di tengah ketidakpastian geopolitik dan penyesuaian kebijakan moneter global. Surat Berharga Negara atau SBN Ritel dengan tenor pendek pun menjadi pilihan menarik karena imbal hasil yang bersaing dengan produk tenor panjang.
Hingga pekan kedua Mei 2026, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun terpantau masih bertahan tinggi di kisaran 6,7 persen. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 62 basis poin sejak awal tahun.
Imbal hasil surat utang tenor pendek, seperti 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun, kini juga ada di atas 6 persen. SUN tenor 1 tahun, misalnya, ada di posisi 6,27 persen dan tenor 5 tahun di 6,61 persen.
Senior Economist DBS Bank Radhika Rao, dalam diskusi daring, Rabu (13/5/2026), menilai, kurva imbal hasil obligasi cenderung menunjukkan fenomena penyempitan selisih (flattening bias).
Imbal hasil surat utang tenor pendek kini rata-rata meningkat, setelah pada triwulan akhir 2025 hingga awal tahun ini cukup berjarak sekitar 1 persen dengan obligasi 10 tahun.
”Antara bagian tengah kurva (obligasi tenor pendek menengah) dengan tenor 10 tahun tidak memiliki celah yang besar. Di sisi lain, suku bunga di tenor pendek ikut terkerek naik akibat penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus meningkat," tutur Radhika.
Pada titik ini, ia menilai, pasar obligasi sudah mulai melihat arus masuk yang kecil dan signifikan. Sepanjang Mei 2026 hingga tanggal 12 Mei, memang mulai terlihat tanda-tanda pembalikan arah dengan adanya pembelian bersih asing (net inflow) sebesar Rp 1,6 triliun.
"Jika ada sedikit peningkatan pada imbal hasil jangka panjang, itu juga akan memberikan sejumlah level yang menarik," katanya.
Investor masih didorong untuk tetap membeli SBN. Pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari SBN Ritel tahun 2026 sebesar Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun melalui delapan seri penerbitan.
Salah satu instrumen terbaru yang diluncurkan adalah Sukuk Tabungan seri ST016. Instrumen berbasis syariah ini menawarkan imbal hasil 6,05 persen untuk tenor 2 tahun dan 6,25 persen untuk tenor 4 tahun.
Direktur Retail Mandiri Sekuritas Theodora V.N. Manik menyampaikan, kepada Kompas, Jumat (15/4/2026), bahwa animo masyarakat tetap tinggi meskipun situasi global tidak menentu.
"Animo masyarakat dalam melakukan investasi SBN Ritel masih tinggi seiring dengan kebutuhan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian global," kata perempuan yang disapa Dora tersebut.
Melalui Mandiri Sekuritas, investor tercatat cenderung menyukai tenor pendek, yakni 2-3 tahun, yang mencakup 65-75 persen dari total pemesanan. "Hal ini menunjukkan preferensi investor terhadap instrumen dengan jangka waktu pendek dan risiko rendah masih cukup tinggi," katanya.
Lepas dari itu, volatilitas di pasar obligasi Indonesia yang cukup dinamis dalam beberapa bulan terakhir tetap menjadi sumber kewaspadaan investor.
Faktor fluktuasi mata uang menjadi variabel krusial bagi investor asing. Tingkat depresiasi rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun kini sudah mencapai 5,52 persen ke sekitar harga Rp 17.500 per dolar AS.
Guncangan harga energi yang memicu ekspektasi pengetatan suku bunga lebih lanjut juga jadi sorotan investor. ”Jika nilai tukar terus melemah, hal itu biasanya tidak memberikan sinyal baik bagi arus modal masuk baru (fresh inflows)," katanya.
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan porsi kepemilikan investor nonresiden (asing) di SBN terus menyusut. Per akhir April 2026, kepemilikan asing berada di level 12,75 persen atau setara Rp 862,36 triliun.
Posisi ini menurun dibandingkan dengan Januari 2026 yang sebesar 13,17 persen, bahkan jauh lebih rendah dari periode April 2025 yang masih mencapai 14,36 persen.
Meski demikian, Radhika melihat sisi positif dari sisi fiskal. Defisit anggaran pemerintah diperkirakan tetap terjaga sehingga suplai surat utang baru tidak akan mengejutkan pasar secara berlebihan.
Kementerian Keuangan saat ini memanfaatkan instrumen obligasi yang tersedia untuk melakukan intervensi di pasar obligasi. Langkah ini bertujuan untuk menahan kejatuhan harga SBN yang lebih dalam.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, pengendalian imbal hasil sangat penting untuk mencegah efek domino. Jika yield naik terlalu tajam, investor asing berpotensi mencatatkan kerugian modal (capital loss) yang memicu aksi jual massal.
"Kita kendalikan itu supaya asing tidak keluar, atau malah masuk kalau yield-nya membaik, sehingga rupiah akan menguat," ujar Purbaya (Kompas, 12/5/2026).





