Presiden Palestina Mahmoud Abbas tengah menyiapkan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu parlemen yang telah lama tertunda. Ia menyebut langkah itu sebagai komitmen untuk melanjutkan reformasi di tubuh Otoritas Palestina.
Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan partai Fatah pada Kamis (14/5). Konferensi selama tiga hari itu bertujuan memilih pimpinan komite pusat, badan tertinggi di Fatah.
Pertemuan ini merupakan yang pertama digelar dalam satu dekade terakhir. Tertundanya konferensi partai penguasa di dalam tubuh Otoritas Palestina tersebut salah satunya dipicu perang di Gaza.
“Kami memperbarui komitmen penuh untuk melanjutkan implementasi seluruh langkah reformasi yang telah kami janjikan,” kata Abbas dalam pidatonya, seperti dikutip dari Reuters.
Terkait pemilu, Abbas hanya memastikan pemungutan suara akan digelar. Namun, ia belum mengungkap tanggal pasti pelaksanaan pemilu di Palestina.
Menurut laporan kantor berita Palestina, WAFA, pada Kamis malam waktu setempat Abbas kembali terpilih secara aklamasi sebagai pemimpin Fatah, termasuk sebagai ketua komite pusat.
Abbas dan Otoritas Palestina mendapat tekanan dari Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan sejumlah negara Arab untuk segera menggelar pemilu serta melakukan reformasi. Tekanan itu muncul di tengah isu korupsi dan kebuntuan politik di tubuh Otoritas Palestina.
Palestina terakhir kali menggelar pemilu pada 2006. Saingan Fatah, Hamas, memenangkan pemilu tersebut secara telak.
Namun, kemenangan Hamas berujung konflik internal di Palestina. Konflik itu kemudian menyebabkan Fatah terusir dari Gaza yang selanjutnya dikuasai penuh oleh Hamas.





