Ringkasan Berita:
- Ponorogo masih kekurangan juru sembelih halal bersertifikat menjelang Iduladha.
- Saat ini hanya ada sekitar 500 juleha bersertifikat di Ponorogo.
- Kebutuhan meningkat karena terdapat ribuan masjid dan musala penyelenggara kurban.
- Kemenag Ponorogo menggelar pelatihan sertifikasi untuk 200 peserta baru.
Ponorogo (beritajatim.com) – Ketersediaan juru sembelih halal atau juleha bersertifikat di Kabupaten Ponorogo masih jauh dari ideal menjelang Hari Raya Iduladha 2026. Jumlah tenaga penyembelih hewan kurban yang memiliki sertifikasi resmi dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan ribuan masjid dan musala di Bumi Reog.
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo mencatat saat ini baru terdapat sekitar 500 juleha bersertifikat di Ponorogo. Padahal, jumlah tempat ibadah yang berpotensi melaksanakan penyembelihan hewan kurban mencapai ribuan titik.
Berdasarkan data Kemenag, terdapat 2.379 masjid dan 3.613 musala di Ponorogo. Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga penyembelih halal meningkat tajam setiap momentum Iduladha.
Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kemenag Ponorogo, Mohammad Tohari, mengatakan jumlah juleha bersertifikat saat ini masih belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan.
“Tentu kita membutuhkan tenaga penyembelih profesional lebih banyak lagi. Saat ini juleha yang bersertifikat di Ponorogo 500-an orang, sedangkan masjid ada 2.379 titik dan ada musala sebanyak 3.613 titik,” kata Tohari, Jumat (15/5/2026).
Untuk menutup kekurangan tersebut, Kemenag Ponorogo berkoordinasi dengan DPD Juleha Ponorogo dan sejumlah instansi terkait guna menggelar kembali program sertifikasi juleha.
Sebanyak 200 peserta mengikuti pelatihan tata cara penyembelihan hewan kurban sesuai syariat Islam. Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat pembekalan mulai teknik penggunaan alat sembelih yang tajam, cara memutus saluran makan dan pernapasan dalam satu kali sembelihan, hingga metode penyembelihan yang tidak menyiksa hewan.
“Kalau satu musala atau masjid satu hewan kurban, masih kurang untuk disebar juleha ini,” katanya.
Menurut Tohari, keberadaan juleha bersertifikat bukan hanya sekadar formalitas administrasi, tetapi penting untuk memastikan proses penyembelihan berjalan sesuai standar halal.
Karena itu, panitia kurban diimbau tetap mengutamakan penggunaan jasa juleha bersertifikat meskipun jumlahnya masih terbatas.
“Salah satunya terkait kehalalan, daging yang dibagikan ke masyarakat itu harus dijamin halal. Itu kegunaan juleha bersertifikat,” jelasnya.
Selain menjamin kehalalan, keberadaan juleha terlatih juga dinilai penting untuk meminimalkan risiko saat proses penyembelihan berlangsung, termasuk mengantisipasi hewan kurban lepas yang dapat membahayakan warga sekitar.
“Kegiatan sertifikasi juleha ini juga sebagai edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya. [end/beq]




