Bank Dunia memperkirakan harga pupuk global bisa naik lebih dari 30 persen pada 2026 akibat terganggunya arus perdagangan di Selat Hormuz. Di tengah situasi itu, China diingatkan tidak menimbun stok pupuk dan pangan dunia.
Sekelumit kabar baiknya, kenaikan harga pupuk dunia tidak akan setinggi tahun 2021 dan 2022 dan berpotensi turun pada 2027. Di sisi lain, harga pupuk di Indonesia justru turun 20 persen. Bahkan, Indonesia mengekspor pupuk ke Australia senilai sekitar Rp 7 triliun.
Pada Rabu (14/5/2026), Bank Dunia merilis laporan bertajuk "Fertilizer Prices Surge as Strait of Hormuz Disruptions Tighten Supplies" di Washington DC, Amerika Serikat (AS), waktu setempat. Laporan perkembangan pupuk dunia itu disajikan Ekonom Pertanian Senior Grup Prospek Ekonomi Pembangunan Bank Dunia John Baffes dan Analis Riset Grup Prospek Ekonomi Pembangunan Bank Dunia Kaltrina Temaj.
Dalam laporan itu disebutkan, Indeks Harga Pupuk dunia pada triwulan I 2026 naik lebih dari 12 persen, menandai kenaikan kali keenam dalam tujuh triwulan. Pada April 2026, Indeks Harga Pupuk naik 14,05 persen secara bulanan, lebih tinggi ketimbang kenaikan Indeks Harga Energi yang sebesar 12,07 persen.
Harga pupuk urea membukukan kenaikan terbesar, sedangkan kenaikan harga pupuk-pupuk jenis lain lebih moderat. Bank Dunia mencatat, harga nitrogen (urea) melonjak di atas 850 dolar AS per ton pada April 2026.
Harga pupuk tersebut naik 80 persen sejak Februari 2026 dan merupakan level tertinggi sejak April 2022. Lonjakan harga pupuk itu disebabkan penutupan Selat Hormuz. Selat di Teluk Persia itu merupakan jalur pelayaran utama ekspor pupuk dari Timur Tengah yang menyumbang hampir seperempat dari ekspor urea global.
Tekanan itu semakin intensif lantaran merembet kepada penurunan produksi pupuk di hampir seluruh kawasan dunia. Iran menghentikan produksi amonia di tengah konflik, sementara Qatar menangguhkan produksi urea, amonia, dan sulfur setelah kerusakan pada fasilitas utama.
India juga mengurangi produksi urea dan amonia karena pasokan gas alam (LNG) yang lebih rendah. Pasokan yang lebih ketat dan potensi pembatasan ekspor dari China turut menambah kekhawatiran pasar.
Aneka tekanan itu mendorong keterjangkauan pupuk bagi petani ke level terlemahnya sejak pertengahan 2022. Kendati demikian, kenaikan harga pupuk dunia tetap jauh di bawah lonjakan harga pada 2021 dan 2022. Kala itu, harga pupuk dunia melonjak lebih dari 50 persen dan 100 persen di tengah gangguan pasokan di Rusia dan Belarus—dua pemasok utama pupuk dunia.
Baffes menjelaskan, kali ini, dunia merespons gangguan pasokan pupuk dengan lebih tenang. Ada tiga faktor pemicunya. Pertama, para petani di belahan bumi Utara telah mengamankan sebagian besar pasokan pupuk mereka.
Kedua, harga gas alam (biaya produksi utama untuk pupuk berbasis nitrogen) naik kurang tajam dibandingkan setelah invasi Rusia ke Ukraina. Ketiga, arus perdagangan dari Timur Tengah semakin dialihkan melalui koridor darat, melewati Selat Hormuz.
Indeks Harga Pupuk dunia pada 2025 sebesar 138,7. Indeks tersebut diperkirakan naik menjadi 181,3 pada 2026 dan turun menjadi 152,1 pada 2027.
Mempertimbangkan ketiga faktor itu, lanjut Baffes, Bank Dunia memperkirakan Indeks Harga Pupuk dunia naik lebih dari 30 persen 2026. Kenaikan indeks itu bakal dipengaruhi biaya input yang lebih tinggi—terutama untuk pupuk berbasis nitrogen dan fosfat—dan permintaan global yang tangguh.
“Kenaikan harga tersebut diperkirakan akan mereda pada 2027 seiring pulihnya ekspor dan masuknya pasokan baru. Namun, risiko kenaikan harga tetap ada jika harga energi yang tinggi serta gangguan pengiriman dan produksi pupuk terus berlanjut hingga triwulan III-2026,” katanya.
Bank Dunia mencatat Indeks Harga Pupuk dunia pada 2025 sebesar 138,7. Indeks tersebut diperkirakan naik menjadi 181,3 pada 2026 dan turun menjadi 152,1 pada 2027.
Pada 2026, harga pupuk urea diperkirakan naik sekitar 60 persen, DAP (Diammonium Phosphate) naik 6 persen, dan MOP (Muriate of Potash) atau KCL naik 12 persen secara tahunan. Kemudian pada 2027, harga pupuk urea, DAP, dan MOP diperkirakan turun masing-masing sebesar 30 persen, 10 persen, dan 6 persen secara tahunan.
Di tengah tekanan harga dan pasokan pupuk dunia, Mantan Presiden Bank Dunia David Malpass memperingatkan China agar berhenti menimbun pangan dan pupuk untuk meringankan krisis pasokan lobal yang dipicu perang di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan pada 13 Mei 2026 dalam World Business Report, program bisnis dan keuangan BBC World Service.
“Mereka memiliki cadangan bahan makanan dan pupuk terbesar di dunia. Mereka bisa berhenti menambah cadangan mereka,” ujar Malpass.
Pernyataan itu terkait dengan kebijakan Pemerintah China yang menghentikan ekspor beberapa jenis pupuk dengan alasan perlindungan pasokan domestik sejak Maret 2026. Padahal, pada 2025, China berkontribusi sekitar 25 persen terhadap produksi pupuk global, dengan ekspor mencapai lebih dari 13 miliar dolar AS.
Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kedutaan Besar China di Washington DC, Liu Pengyu, menyatakan, China berkomitmen untuk menjaga stabilitas pasar pangan dan pupuk global. Akar penyebab di balik gangguan saat ini dalam rantai pasokan pangan dan pupuk global sangat jelas. Kesalahan ini tidak dapat dialihkan ke China (BBC, 13/5/2026).
Di Indonesia, Pemerintah RI masih mempertahankan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang telah turun sebesar 20 persen sejak Oktober 2025. Bahkan, ekspor pupuk tetap digulirkan di tengah dunia kenaikan harga dan tekanan pasokan pupuk dunia.
Pada 22 Oktober 2025, Pemerintah RI menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen. Penurunan HET itu tanpa menambah alokasi dana subsidi pupuk sehingga tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Penurunan HET itu mencakup seluruh jenis pupuk bersubsidi yang digunakan petani, yakni urea, NPK, ZA, dan pupuk organik. HET pupuk urea, misalnya, turun dari Rp 2.250 per kilogram (kg) menjadi Rp 1.800 per kg (Kompas, 22/10/2025).
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak ada kenaikan harga pupuk di tengah gejolak di kawasan Timur Tengah. HET pupuk bersubsidi yang telah diturunkan sekitar 20 persen tetap berlaku.
Di sisi lain, Indonesia juga bakal mengekspor pupuk urea ke Australia senilai total sekitar Rp 7 triliun. Pada 14 Mei 2026, PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur telah mengekspor 47.250 ton pupuk urea senilai sekitar Rp 600 miliar ke Australia.
“Ekspor tersebut merupakan tahap awal dari komitmen pembelian pupuk oleh Australia sebanyak 250.000 ton. Hal itu akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp 7 triliun,” ujarnya dalam acara Pelepasan Ekspor Perdana Pupuk Urea ke Australia di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, melalui siaran pers.
Amran juga menjelaskan, ekspor pupuk tersebut menjadi tonggak baru penguatan kerja sama sektor pupuk melalui skema antarpemeirntah (G2G), yakni Indonesia dan Australia. Setelah Australia, Indonesia juga akan memperkuat pasar ekspor pupuk ke sejumlah negara mitra dagang strategis lain, seperti India, Filipina, Brazil, dan Bangladesh.
Sebenarnya, ekspor pupuk bukanlah hal baru bagi Indonesia. Merujuk Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, pada 2023, 2024, dan 2025 Indonesia mengekspor pupuk masing-masing senilai 656,3 juta dolar AS, 574 juta dolar AS, dan 858,8 juta dolar AS. Pada Januari-Maret 2026, total nilai ekspornya mencapai 73,8 juta dolar AS.
Bagi Indonesia, Australia juga bukan pasar baru ekspor pupuk. Pada 2023, 2024, dan 2025, ekspor pupuk Indonesia ke Australia masing-masing senilai 90,7 juta dolar AS, 202,8 juta dolar AS, dan 153,1 juta dolar AS. Sementara pada Januari-Maret 2026, nilai ekspornya mencapai 45,8 juta dolar AS.
Bahkan, nilai ekspor pupuk Indonesia masih lebih besar ketimbang nilai impornya. Impor pupuk Indonesia pada 2023, 2024, dan 2025 masing-masing senilai 2,03 miliar dolar AS, 1,98 miliar dolar AS, dan 2,51 miliar dolar AS. Pada Januari-Maret 2026, nilai impornya mencapai 698,5 juta dolar AS.
Impor pupuk itu terutama berasal dari Rusia, Belarus, dan Uzbekistan. Pada 2025, misalnya, impor pupuk Indonesia dari Rusia, Belarus, dan Uzbekistan masing-masing senilai 698 juta dolar AS dan 117,1 juta dolar AS, dan 102,4 juta dolar AS.





