EtIndonesia. Asisten Deputi Presiden AS Sebastian Gorka pada Rabu (13 Mei) mengatakan bahwa Presiden Trump telah meninggalkan sebuah surat instruksi di Ruang Oval untuk Wakil Presiden JD Vance. Surat itu dimaksudkan untuk digunakan jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada Trump dan Vance harus mengambil alih jabatan presiden.
Sebastian Gorka mengatakan dalam wawancara dengan New York Post bahwa pihak AS memiliki prosedur penanganan yang sudah ditetapkan. Meski rincian isi surat tersebut tidak dapat diungkapkan, ia menegaskan bahwa pengaturan seperti itu memang benar-benar ada.
Pada Januari lalu, Trump juga pernah membahas ancaman pembunuhan dari Iran dalam sebuah wawancara. Saat itu Trump mengatakan bahwa ia telah meninggalkan instruksi yang jelas: jika rencana Iran untuk membunuhnya berhasil, militer AS akan “menghapus Iran dari muka bumi.”
Trump kala itu mengatakan Iran seharusnya tidak melakukan hal tersebut, namun ia memang telah meninggalkan perintah terkait. Meski demikian, ia tidak secara spesifik menyebut adanya surat instruksi yang ditinggalkan di Ruang Oval untuk Wakil Presiden Vance.
Trump tiba di Beijing pada 13 Mei untuk memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari. Gorka menyebut bahwa hal ini juga memicu kekhawatiran sebagian orang terhadap keselamatan pribadi Trump selama kunjungannya ke Tiongkok.
Gorka mengatakan bahwa Trump adalah satu-satunya orang yang menghalangi jalan PKT menuju dominasi dunia, sehingga PKT ingin menyingkirkannya. Namun ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak khawatir PKT akan mengambil tindakan terhadap Trump selama kunjungan kali ini.
Belakangan ini, keselamatan jiwa Trump memang beberapa kali menghadapi ancaman. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pernah mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir, Presiden Trump telah mengalami tiga upaya pembunuhan besar yang gagal.
Sumber : NTDTV.com





