Cara Gen Z Menikmati Lari, Mulai dari Healing hingga Konten Media Sosial

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Tren gaya hidup sehat perlahan mulai menjadi bagian dari rutinitas generasi muda, termasuk Gen Z. Salah satu cabang olahraga yang belakangan semakin banyak diminati adalah lari.

Selain menjadi bagian dari gaya hidup sehat, setiap Gen Z tentu punya tujuan masing-masing dalam menjalani aktivitas lari. Ada yang menjadikannya sebagai momen healing, menjaga kebugaran tubuh, sampai mengejar target personal.

Meski Gen Z kerap dianggap rentan terpapar FOMO (Fear of Missing Out), faktanya nggak semua ikut tren lari hanya demi eksistensi semata. Sejumlah teman kumparan dari kalangan Gen Z bahkan punya alasan dan cara tersendiri yang membuat mereka benar-benar menikmati rutinitas lari.

Penasaran bagaimana cara teman kumparan menikmati olahraga ini? Yuk, simak cerita selengkapnya di bawah ini!

Cara Gen Z Menikmati Olahraga Lari

Di tengah tren yang berkembang, Gen Z sering kali dicap sebagai easy run enthusiast. Namun, pendapat itu dibantah oleh teman kumparan Fuad (25). Menurutnya, banyak Gen Z justru punya sisi kompetitif dan ambisi besar saat menjalani hobi lari.

“Kurang setuju sih (Gen Z dicap easy run enthusiast), rata-rata Gen Z banyak yang ambis. Apalagi sekarang udah banyak event race yang menurut mereka sangat menantang buat mengeluarkan kemampuan,” katanya. Bahkan, Fuad sendiri juga cukup ambisius dalam mengejar target personal best (PB), lho.

Meski begitu, ia juga nggak menutup kemungkinan kalau lari jadi bentuk healing dari rutinitas sehari-hari. Sebagai pekerja korporat, Fuad merasa aktivitas lari bisa jadi stress release setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.

Untuk menambah semangat latihan, Fuad biasanya memilih lokasi lari dengan view bagus dan kalau bisa dekat tempat makan. Wilayah Bandung jadi salah satu lokasi favoritnya karena nyaman dipakai lari serta punya banyak pilihan kuliner yang menarik untuk disinggahi.

Menurut Fuad, preferensi rute lari yang estetik dan nyaman memang cukup identik dengan pelari Gen Z. “Biasanya Gen Z banget nih yang suka cari lokasi beginian. Kelar lari bisa langsung ngopi santai,” ucapnya sambil tertawa.

Di sisi lain, ada teman kumparan Haikal (24) yang cenderung lebih fleksibel dalam menjalani rutinitas larinya. Ia lebih suka menikmati lari dengan santai tanpa terlalu fokus mengejar target tertentu, karena buatnya yang paling penting adalah tetap konsisten.

“Kalau konsisten, lama-lama pace juga bakal naik sendiri. Aku yang biasanya pace 9 sekarang udah upgrade ke 7–8,” ucapnya bangga.

Haikal sendiri menganggap lari sebagai cara healing sekaligus bentuk tantangan untuk diri sendiri agar terus berkembang. Ada kalanya ia juga ingin memacu kemampuan, terutama saat menjalani latihan interval.

Setelah menuntaskan sesi larinya, Haikal juga biasanya mengunggah aktivitas tersebut ke media sosial. Menurutnya, hal itu jadi cara seru untuk mendokumentasikan aktivitas maupun progres pribadinya. “Setidaknya orang-orang harus tahu kalau kita tuh punya kehidupan,” katanya.

Fenomena lari di kalangan Gen Z juga mendapat perhatian dari captain andalan teman kumparan Running Club, Captain Widi. Menurutnya, menjadi easy run enthusiast adalah hal yang sah-sah saja dilakukan oleh semua pelari, termasuk Gen Z.

“Karena pada dasarnya kita ini pelari rekreasional. Nggak perlu kenceng, sudah mulai aware sama kesehatan itu salah satu langkah yang bagus,” ujarnya.

Captain Widi sendiri mengaku lebih memilih lari santai asalkan tetap konsisten. Sebab, kalau terlalu sering mengejar PB di setiap sesi latihan, mental justru bisa lebih cepat lelah.

Untuk urusan rute, Capatain Widi biasanya menyesuaikan dengan jadwal hariannya. Saat weekday, ia cenderung memilih rute yang dekat dan praktis supaya setelah lari bisa langsung lanjut ke kantor.

Sementara saat weekend, ia lebih suka mencari rute dengan view bagus, udara adem, atau mencoba jalur baru yang lebih menantang, seperti rute hilly di sekitar Semanggi dan flyover Kuningan.

Ia pun termasuk aktif mengunggah aktivitas larinya di media sosial. Namun bagi Widi, hal itu bukan untuk mencari validasi, melainkan sebagai semacam diary perjalanan atau catatan progres latihannya selama ini.

Nah, kalau menurut Captain Yaman, sebutan “easy run enthusiast” nggak sepenuhnya tepat untuk menggambarkan Gen Z. Soalnya, nggak sedikit juga pelari Gen Z yang serius dan mampu berlari kencang, baik saat long run maupun race.

Bagi Captain Yaman sendiri, lari sudah menjadi bagian dari cara untuk melepas stres setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, ia rutin berlari sebagai bagian dari proses healing-nya.

Menariknya, Captain Yaman nggak perlu jauh-jauh mencari lokasi lari favorit. Ia cukup berlari di sekitar rumah karena lingkungannya sudah dikelilingi sawah, gunung, dan aliran sungai yang bikin suasana terasa menenangkan.

Sama seperti beberapa pelari sebelumnya, Capatain Yaman juga memanfaatkan media sosial untuk membagikan progres larinya. “Ya rugi kalau capek long run tapi nggak pamerin Strava di medsos, karena salah satu motivasi buat bisa PB ya pengin nunjukin hasil larinya juga,” ucapnya.

Jangan ketinggalan info event Fun Run! Gabung komunitas teman kumparan Running Club sekarang http://kum.pr/running


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lengkap! 8 Pernyataan Sikap SMAN 1 Pontianak, Buntut Polemik Penilaian Juri Lomba Cerdas Cermat MPR RI di Kalbar
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Kebakaran Gedung PPJT RSUD Dr Soetomo Surabaya Tewaskan Pasien, Asap Pekat dari Lantai 5
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Bakar Rp508 Triliun untuk Perang Iran, Menhan AS Tutup Mulut saat Didesak Kongres
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Daftar Sapi Kurban Presiden Prabowo untuk Iduladha 2026, Ada yang Dibeli Rp130 Juta
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Menteri ATR: Penentuan lokasi LP2B menjadi kewenangan daerah
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.