Raksasa otomotif asal Jepang, Honda mencatat rugi bersih tahunan pertama dalam 70 tahun. Kerugian ini terutama disebabkan investasi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang gagal membuahkan hasil.
Permintaan EV ternyata tidak sekuat perkiraan Honda. Perusahaan otomotif terbesar kedua Jepang ini pun mencatat total rugi operasional sebesar 423 miliar yen Jepang atau senilai Rp46,98 triliun (kurs Rp 111 per yen Jepang).
Honda akan memangkas beberapa target produksi kendaraan listrik. Selain itu, mereka berencana memesan suku cadang dari Cina yang harganya lebih murah untuk menekan biaya.
Perubahan kebijakan insentif pajak EV di Amerika Serikat (AS) berperan besar dalam kerugian perusahaan. Presiden AS Donald Trump mencabut insentif pajak EV sejak September 2025. Kebijakan tarif mobil dan suku cadang impor ke AS pada 2025 juga menggerus keuntungan perusahaan otomotif.
Kegagalan investasi EV membuat Honda merombak visinya. CEO Honda, Toshihiro Mibe mengatakan mereka akan membatalkan target penjualan mobil listrik seperlima dari total penjualan pada 2030.
“Kami juga membatalkan rencana untuk membuat semua mobil menjadi EV pada 2040,” katanya dikutip dari BBC, Jumat (15/5).
Honda berencana fokus dalam bisnis sepeda motornya yang terus tumbuh. Selain itu, fokus juga diberikan untuk bisnis jasa keuangan dan produksi kendaraan hibrida.
Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson mengatakan hal ini tidak mengejutkan. Politik, kenaikan biaya hidup, dan kompetisi dari perusahaan Cina membuat Honda menarik kembali rencana mereka dan menelan bebannya.
“Perusahaan otomotif tradisional lainnya juga bertaruh transisi cepat pengendara ke EV, tapi kalah akibat perubahan dunia,” kata Danni dikutip dari BBC.
Meski permintaan naik secara umum untuk EV, perusahaan besar seperti Honda sulit beralih secepat itu. Apalagi adanya konflik Iran dan AS-Israel turut menaikkan banyak biaya.




