Matematika sering kali dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Padahal, pengenalan numerasi sejak dini merupakan langkah penting dalam membangun fondasi intelektual dan kemampuan analitis masyarakat. Dengan belajar matematika yang menyenangkan siswa diajak membangun penalaran hingga memecahkan masalah.
Karena itu, pembelajaran seharusnya kontekstual, bukan hanya menggunakan apa yang ada di sekitar siswa, melainkan sesuai tahapan berkembang anak, dari yang konkret ke abstrak. Metode ini dikenal dengan istilah CPA atau concrete (konkret), pictorial (gambar), dan abstract (abstrak).
Metode ini berawal dari gagasan seorang psikolog pendidikan asal Amerika Serikat, Jerome Bruner, pada 1964 ketika belajar konsep baru seorang anak melalui beberapa tahapan, mulai dari memanipulasi benda konkret (enactive), mempresentasikan konsep melalui proses visualisasi (iconic), lalu menggunakan simbol untuk mempresentasikan sebuah konsep (symbolic).
Pendidik dari Singapura, Kho Tek Hong mengadopsi gagasan ini menjadi CPA yang menjelaskan konsep Matematika secara bertahap dan bermakna sehingga dapat dipahami siswa. Pada 1980, CPA diterapkan pada kurikulum Matematika untuk SD di Singapura.
Kalau Fisika dan Biologi punya laboratorium, kenapa Matematika tidak?
Pendekatan belajar Matematika ini lah yang coba dikenalkan kembali oleh Kathleen Victoria dan Kimberly Georgia di Indonesia. Kembar berusia 17 tahun ini yang masih duduk di kelas 2 SMA ini mengajar adik-adik kelasnya untuk belajar Matematik yang menyenangkan melalui program edukasi "Bermain Matematika" yang tayang setiap akhir pekan di TVRI.
"Banyak banget anak-anak di Indonesia itu sebelum mengerjakan soal Matematika sudah mikir matematika itu sangat susah. Jadi stigma itu sudah tertanam di otak mereka. Karena itu, mereka merasa matematika pasti membosankan dan menakutkan. Nah, lewat program ini kami ingin kasih tahu bahwa sebenarnya bermain Matematika itu asyik," kata Kathleen saat ditemui di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Setiap akhir pekan mereka syuting bersama puluhan anak-anak yang menjadi peserta acara. Bagi mereka, belajar Matematika tidak harus selalu menyimak guru atau pengajar yang menulis di papan tulis, tetapi bisa juga lewat permainan dan obyek fisik supaya anak-anak bukan cuma melihat angka sebagai angka.
Tahap ini dikenal dengan tahapan konkret, yakni melibatkan penggunaan obyek fisik untuk mengeksplorasi konsep Matematika. Misalnya, jika ingin mengajarkan penjumlahan, bisa dengan memberikan anak-anak tiga batu dan meminta mereka menambahkannya dengan dua batu lagi, lalu menjumlahkannya.
Melalui metode ini, anak-anak dapat melihat dan menyentuh objek nyata yang mewakili angka. Pada tahap awal ini, anak-anak tidak perlu menggunakan pena dan kertas untuk menulis angka atau rumus Matematika.
Tahapan kedua adalah gambar, yakni menggunakan gambar untuk merepresentasikan obyek. Setelah anak-anak memahami penjumlahan dengan batu, mereka diajarkan untuk menggunakan diagram batang untuk menunjukkan penjumlahan tersebut. Tahap ini membantu anak-anak merepresentasikan permasalahan yang abstrak dengan simbol yang lebih konkrit.
Dan terakhir, tahapan abstrak yang melibatkan penggunaan simbol dan angka untuk memodelkan masalah atau perhitungan. Setelah anak-anak memahami konsep melalui gambar, pengajar bisa memperkenalkan simbol Matematika seperti "3 + 2 = 5". Ini membantu mereka mengaitkan pengalaman konkret dan visual dengan notasi Matematika. Ketiga tahapan ini, kata Kimberly, sangat terkait satu sama lain.
"Jadi penyampaian suatu materi itu benar-benar penting, karena jika kita menyampaikan sesuatu dengan cara yang seru dan menarik mereka akan menaikkan perhatiannya terhadap apa yang kita sampaikan," kata Kimberly.
Pengalaman keduanya mengajar berangkat dari rumah. Orangtua mereka, Teddy Darmawan dan Laura Christine kerap meminta mereka membantu mengajari adik mereka yang hanya terpaut satu tahun. Dari situ, mereka belajar untuk mengajar anak-anak agar memahami konsep, bukan sekadar menghafal rumus Matematika.
Selain mengajar adiknya, keduanya juga aktif mengajar anak-anak dari Indonesia Timur melalui program Sekolah GenIUS di Tangerang, Banten. Pengalaman berinteraksi dengan banyak anak membuat mereka memahami bahwa pembelajaran Matematika membutuhkan pendekatan yang nyata dan menyenangkan.
Kathleen dan Kimberly mengaku, bahkan di sekolah bertaraf Internasional yang mereka tempuh, metode pembelajaran seperti itu belum menjadi bagian utama proses belajar Matematika. Karena itu mereka berharap program “Bermain Matematika” dapat menjadi inspirasi agar sekolah-sekolah di Indonesia mulai menggunakan laboratorium atau alat bantu matematika seperti halnya laboratorium fisika dan biologi.
“Kami pikir kalau Fisika dan Biologi punya laboratorium, kenapa Matematika tidak? Padahal Matematika itu dasar hampir semua hal. Pondasi dari Matematika itu penting banget. Kalau pondasinya belum kuat, nanti akan terus terbawa sampai SMP, SMA, bahkan kuliah,” ujar Kathleen.
Harapan terbesar mereka adalah mengubah cara pandang anak-anak terhadap Matematika dan mendorong lebih banyak generasi muda masuk ke bidang STEM (science, technology, engineering, mathematics). "STEM itu kadang menantang, tetapi menyenangkan untuk dipelajari,” ujar Kimberly.
Kongres Internasional Pendidikan Matematika atau International Congress on Mathematical Education (ICME) 2024 pun menekankan pentingnya Matematika untuk mengatasi masalah nyata. Bahkan, pendidikan Matematika berperan mengatasi efek perubahan iklim, keberlanjutan, membangun keadilan, dan peningkatan keterampilan pemecahan masalah.
Matematika memberi kita harapan untuk memahami realitas dan kebenaran dengan jelas, berbagi definisi bersama, belajar kerja sama.
Matematika juga dapat menjadi bekal menghadapi ketidakpastian, membangun kepercayaan pada pengetahuan, dan membayangkan masa depan berkelanjutan. Selain mendorong kemajuan ilmiah dan teknologi, Matematika juga berkontribusi pada kohesi dan ketahanan sosial.
”Matematika memberi kita harapan untuk memahami realitas dan kebenaran dengan jelas, berbagi definisi bersama, belajar kerja sama, memakai data secara bertanggung jawab, menemukan strategi saling menguntungkan, dan banyak lagi,” ucap Betul Tanbay, Ketua Dewan Pengurus International Mathematical Union-International Day of Mathematics. (Kompas.id, 11 April 2026).
Di Indonesia, kemampuan Matematika siswa masih berada di bawah standar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan, skor numerasi Indonesia hanya 366, sedangkan rata-rata global dalam ukuran Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) adalah 472.
Nilai Matematika dalam Tes kemampuan akademik (TKA) sekolah menengah atas (SMA) juga rendah hanya sebesar 36,1 secara rata-rata. Nilai Matematika TKA pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) pun tak jauh berbeda.
Untuk memperbaiki ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tengah menggalakkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) demi menghapus stigma pelajaran Matematika menakutkan menjadi menyenangkan. Melalui pendekatan ini kualitas pendidikan diharapkan dapat meningkat, sehingga melahirkan generasi yang kritis, adaptif, dan mampu memecahkan masalah.
Karena sesungguhnya, Matematika itu menyenangkan…





