REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –Ibadah haji kerap memunculkan rasa penasaran bagi banyak non-Muslim. Bagi umat Islam yang baru pertama kali akan berhaji, menjelaskan makna dan rangkaian ritual haji kepada teman-teman non-Muslim juga bisa menjadi tantangan tersendiri.
Lalu bagaimana cara menjelaskan soal ibadah haji kepada teman yang Non Muslim?
Baca Juga
Mengapa Masyarakat Mesir Sangat Menghormati Roti dan Menyebutnya 'Isy atau Kehidupan?
Mesir Kirim Jet Tempur ke Uni Emirat Arab, Begini Tanggapan Santai Iran
Hizbullah, Para Pemburu Mematikan, dan 3 Pesan Kuat untuk Tentara Israel
Konsultan dan professor studi Islam asal India, Prof Shahul Hameed menjelaskan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna tentang persatuan, kesetaraan, dan penghambaan kepada Allah.
“Haji adalah rukun Islam kelima. Umat Islam yang mampu secara fisik dan finansial dianjurkan melaksanakannya sekali seumur hidup,” ujarnya dikutip dari About Islam, Jumat (15/5/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurutnya, haji dilakukan di Makkah dan beberapa lokasi di sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Muzdalifah selama beberapa hari pada bulan Dzulhijjah.
Prof Shahul Hameed menjelaskan, ritual haji dimulai dengan memasuki keadaan ihram, yaitu kondisi suci di mana jamaah dilarang melakukan sejumlah hal seperti memakai pakaian biasa, memotong rambut dan kuku, menggunakan parfum, hingga melakukan hubungan suami istri.
Setelah itu, jamaah menuju Mina lalu wukuf di Arafah, yang menjadi puncak dan inti ibadah haji. Dari Arafah, jamaah bergerak ke Muzdalifah untuk bermalam sebelum kembali ke Mina.
Pada 10 Dzulhijjah, jamaah melaksanakan penyembelihan hewan qurban, mencukur atau memotong rambut, serta melempar jumrah.
Infografis Rahasia di Balik Pilar-Pilar Raudhah. Infografis haji. - (Republika)