FAJAR, MAKASSAR – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh siswa SMA Sekolah Islam Athirah Bukit Baruga. Mereka tidak hanya cakap ilmu pengetahuan yang terus berkembang, namun juga pengetahuan agama yang baik.
Ini dibuktikan dengan 52 siswa mereka yang lulus sertifikasi mengajar mengaji dengan metode ummi. Metode ini menekankan pendekatan kasih sayang dengan teknik tujuh tahapan pembelajaran yang terstruktur.
Masing-masing pembukaan, apersepsi, penanaman konsep, pemahaman konsep, latihan atau keterampilan, evaluasi, dan penutup. Metode ini fokus pada tartil, kemudahan, dan pembiasaan tajwid langsung, menggunakan buku ajar enam jilid serta alat peraga yang seragam.
Mereka semua merupakan bagian dari 154 siswa yang mengikuti prosesi penamatan beberapa waktu lalu. Mereka telah menyelesaikan studi angkatan 2023-2026.
Kepala Sekolah Islam Athirah Bukit Baruga, Bakry Liwang menyampaikan, pihak sekolah terus berupaya menanamkan ilmu, nilai, dan jati diri kepada peserta didik melalui penguatan iman, ilmu, dan amal. Menurutnya, itu bekal penting bagi siswa dalam menghadapi masa depan.
Dia juga menegakan, Athirah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan. Terbukti dengan perolehan sertifikasi ISO 21.001 pada tahun 2018, yang menjadi standar sistem manajemen organisasi pendidikan di Athirah.
“Tidak semua sekolah di Sulsel mendapatkan ISO ini. Jadi hal ini menunjukkan bahwa organisasi pendidikan yang kami kelola memiliki standar yang kuat, bahkan mendekati standar internasional,” lanjutnya.
Selain itu, SMA Islam Athirah Bukit Baruga juga memperoleh akreditasi tanpa visitasi pada 2022 lalu. Menurut pihak sekolah, hal tersebut diberikan karena sistem pendidikan yang dinilai sudah terpercaya.
Pada tahun ajaran baru ini, sekolah hanya menerima 156 siswa baru yang dibagi dalam enam kelas. Kebijakan pembatasan jumlah siswa dilakukan demi menjaga kualitas layanan pendidikan.
“Kalau kami buka semua, mungkin bisa sampai tujuh atau delapan kelas. Tapi kami mempertimbangkan kualitas layanan sehingga hanya menerima 156 siswa baru,” jelasnya.
Dia menambahkan, siswa SMA Islam Athirah Bukit Baruga berasal dari 41 kabupaten/kota di Indonesia. Keberagaman itu dinilai menjadi ruang belajar bagi siswa untuk saling berbagi pengalaman dan budaya.
Sementara Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, mengajak para lulusan untuk berani keluar dari zona nyaman dengan meneladani tokoh-tokoh besar dunia, seperti Presiden pertama Indonesia Soekarno dan Presiden ketiga Indonesia B. J. Habibie.
“Soekarno tidak memilih hidup nyaman sebagai pegawai di zaman Belanda. Beliau keluar dari zona nyamannya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga dikenal dunia,” ujarnya.
Dia juga mencontohkan perjuangan B. J. Habibie yang sempat mengalami kesulitan saat menempuh pendidikan di Jerman, namun akhirnya dikenal dunia melalui kontribusinya di bidang penerbangan.
Selain tokoh nasional, Syamril turut mengajak siswa meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS yang dinilai tetap teguh menghadapi tantangan demi membawa perubahan besar bagi umat manusia. (wid)





