FAJAR, SURABAYA– Kedatangan Miguel Pereira ke Persebaya Surabaya tampaknya bukan sekadar proyek transfer biasa. Di balik rumor yang terus menguat dalam beberapa pekan terakhir, tersimpan ambisi lama Bernardo Tavares yang selama ini belum benar-benar berhasil ia wujudkan saat menangani PSM Makassar: memiliki striker asing subur yang benar-benar sesuai dengan filosofi permainannya.
Karena itu, kehadiran Miguel Pereira mulai dipandang sebagai bagian dari obsesi terpendam Bernardo dalam membangun lini serang ideal.
Selama melatih PSM Makassar, Bernardo memang sukses menciptakan tim yang kompetitif, agresif, dan disiplin secara taktik. Ia bahkan berhasil membawa Pasukan Ramang menjuarai Liga 1 2022/2023 dan bersaing di level Asia Tenggara.
Namun di balik keberhasilan tersebut, ada satu hal yang selalu terasa kurang sempurna.
PSM tidak pernah benar-benar memiliki striker asing dengan produktivitas luar biasa seperti yang dimiliki rival-rival mereka.
Ketika klub lain punya bomber tajam yang mampu mencetak belasan hingga puluhan gol semusim, PSM justru lebih banyak bertumpu pada kolektivitas permainan dan kontribusi gol yang tersebar dari banyak posisi.
Ironisnya, justru striker lokal seperti Ramadhan Sananta yang berkembang menjadi mesin gol utama di era Bernardo Tavares.
Musim 2022/2023 menjadi bukti paling jelas.
Saat membawa PSM juara, Sananta tampil luar biasa dengan torehan 11 gol dan dua assist. Ia berkembang menjadi penyerang agresif dengan kemampuan menyerang ruang, duel fisik, serta pressing tinggi — karakter yang sangat cocok dengan gaya bermain Bernardo.
Sementara di sisi lain, PSM terus berganti-ganti mencari sosok striker asing ideal.
Ada yang kuat secara fisik tetapi kurang tajam. Ada yang cukup produktif tetapi tidak cocok dengan intensitas pressing yang diinginkan Bernardo. Ada pula yang kesulitan beradaptasi dengan ritme sepak bola Indonesia.
Situasi itu membuat Bernardo seperti belum pernah benar-benar mendapatkan “striker impian” selama di Makassar.
Dan kini, peluang itu tampaknya mulai muncul di Surabaya.
Miguel Pereira hadir dengan profil yang sangat berbeda dibanding kebanyakan striker asing yang pernah bermain di era Bernardo bersama PSM. Ia bukan hanya penyerang kotak penalti, tetapi pemain yang bisa bergerak dinamis di berbagai area serangan.
Striker asal Portugal itu mampu bermain sebagai penyerang tengah, sayap kiri, maupun sayap kanan. Mobilitas seperti itu sangat penting dalam sistem permainan Bernardo yang menuntut lini depan aktif menekan sejak fase pertama.
Bagi Bernardo, striker bukan sekadar pencetak gol.
Penyerang adalah titik awal tekanan, pembuka ruang, sekaligus pemicu transisi cepat. Filosofi itu membuat ia lebih menyukai pemain yang agresif bergerak dibanding striker statis yang hanya menunggu suplai bola di kotak penalti.
Dan Miguel Pereira tampaknya memenuhi banyak aspek tersebut.
Meski belum pernah bermain di level elite Eropa, statistiknya menunjukkan konsistensi yang cukup menarik. Bersama Lusitânia FC Lourosa, Miguel menjadi bagian penting dalam perjalanan klub promosi ke Liga Portugal 2.
Dalam dua musim terakhir, ia mencatat total 16 gol bersama Lourosa. Namun yang lebih menarik adalah kontribusinya secara keseluruhan: 35 gol dan 18 assist sepanjang perjalanan karier senior dan level usia muda.
Catatan itu memperlihatkan bahwa Miguel bukan tipe striker egois.
Ia bisa mencetak gol, tetapi juga mampu terlibat dalam proses membangun serangan.
Karakter seperti itu sangat cocok dengan pendekatan Bernardo Tavares yang selama ini mengutamakan fluiditas lini depan.
Karena itu, rumor kedatangan Miguel Pereira terasa seperti kepingan penting dalam proyek baru Persebaya.
Green Force sendiri memang sedang mencoba membangun identitas permainan yang berbeda untuk musim 2026/2027. Kedatangan Bernardo Tavares membawa arah baru: sepak bola yang lebih intens, agresif, dan cepat dalam transisi.
Dan lini depan menjadi sektor yang paling ingin diubah.
Musim ini, Persebaya beberapa kali dinilai terlalu bergantung pada momen individu dan belum memiliki kombinasi serangan yang benar-benar stabil untuk bersaing dalam perebutan gelar.
Karena itu, proyek mendatangkan Miguel Pereira dan Ramadhan Sananta terlihat seperti upaya membangun lini depan dengan dua karakter berbeda tetapi saling melengkapi.
Sananta memberi kekuatan duel fisik, agresivitas, dan kemampuan menyerang ruang kosong.
Miguel Pereira menawarkan fleksibilitas, mobilitas, dan koneksi permainan antarlini.
Kombinasi itu jauh lebih sesuai dengan filosofi Bernardo dibanding sekadar mengandalkan striker murni seperti David da Silva yang lebih dominan sebagai finisher di kotak penalti.
Bukan berarti Bernardo tidak menyukai striker tajam seperti David da Silva.
Namun sistem permainan pelatih asal Portugal itu membutuhkan penyerang yang lebih aktif bergerak, mampu membuka ruang, dan siap terlibat dalam pressing tanpa bola selama 90 menit.
Dan itulah mengapa Miguel Pereira mulai dipandang sebagai representasi ideal lini depan versi Bernardo Tavares.
Selain faktor teknis, kedekatan kultur Portugal juga menjadi alasan penting.
Kehadiran Bernardo Tavares, Pedro Matos, hingga rumor Miguel Pereira memperlihatkan bahwa Persebaya sedang membangun fondasi baru dengan sentuhan sepak bola Portugal.
Mereka tampaknya ingin menciptakan sistem yang lebih terintegrasi — mulai dari pelatih, metode latihan, hingga profil pemain.
Situasi kontrak Miguel Pereira juga membuat peluang transfer semakin realistis.
Kontraknya bersama Lusitânia FC Lourosa akan habis pada 30 Juni 2026. Artinya, Persebaya berpotensi mendapatkan striker tersebut tanpa biaya transfer besar.
Dan bagi Bernardo, itu bisa menjadi kesempatan sempurna untuk akhirnya mewujudkan obsesi lamanya.
Sebab setelah bertahun-tahun membangun tim dengan kolektivitas dan kerja keras di PSM Makassar, kini ia berpeluang memiliki lini depan yang benar-benar sesuai dengan identitas sepak bola yang selama ini ingin ia ciptakan.





