- 1. Isu Taiwan hingga Iran Warnai Pertemuan
- 2. Gencatan Perang Dagang Masih Bertahan
- 3. Angin Segar untuk Bisnis AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke China pekan ini memberi dorongan besar terhadap gencatan senjata dagang yang rapuh antara Washington dan Beijing. Pertemuan tersebut juga membantu menstabilkan hubungan kedua negara.
Meski sempat tertunda lebih dari sebulan akibat perang Iran, pertemuan puncak dua hari Trump dengan Presiden China Xi Jinping berakhir Jumat waktu setempat dengan kesepakatan untuk kembali bertemu pada musim gugur tahun ini.
Berikut tiga poin penting dari hasil pertemuan bersejarah tersebut:
1. Isu Taiwan hingga Iran Warnai Pertemuan
Peringatan Xi kepada Trump terkait Taiwan menjadi salah satu sorotan utama. Media pemerintah China melaporkan Xi menegaskan bahwa penanganan Taiwan yang keliru dapat menempatkan hubungan AS-China dalam "bahaya besar".
Di sisi lain, harga minyak dunia turut menguat setelah Trump mengatakan kepada Fox News bahwa China sepakat membeli minyak mentah AS dan akan membantu proses negosiasi terkait Iran. Namun Trump belum mengungkap kapan pembelian dimulai maupun volumenya.
- Kesabaran Trump Habis, Bilang Begini Usai Ketemu Xi Jinping
- Jalan Hidup Trump vs Xi Jinping, Si Kaya vs Pernah Tinggal di Gua
Sampai saat ini, China belum mengonfirmasi rencana pembelian minyak tersebut. Pemerintah AS juga belum memberikan pernyataan tambahan terkait Taiwan.
"Saya pikir masing-masing pihak telah memenuhi janjinya. Namun, tidak ada diskusi substantif tentang Taiwan, yang tidak mengejutkan," ujar Kepala Ekonom China di Economist Intelligence Unit, Yue Su, seperti dikutip CNBC International, Jumat (15/5/2026).
"Diskusi lebih lanjut tentang Iran menyoroti bahwa mereka memiliki kesamaan. Fakta bahwa kedua pihak ingin menggambarkan pertemuan itu sebagai kemenangan menunjukkan niat baik, setidaknya," tambahnya.
Ia juga menilai kemampuan China untuk membantu Iran tetap terbatas.
"Ada batasan untuk apa yang secara realistis dapat dilakukan China, karena rezim Iran beroperasi dalam mode bertahan hidup dan akan memprioritaskan kepentingan dan agendanya sendiri di atas segalanya," katanya.
2. Gencatan Perang Dagang Masih BertahanBaik AS maupun China belum mengumumkan detail spesifik dari kesepakatan terbaru mereka. Namun undangan Trump kepada Xi untuk berkunjung ke AS pada 24 September membuka peluang pembicaraan lanjutan sebelum masa gencatan perang dagang berakhir pada Oktober 2025.
Sebelumnya, kedua negara sepakat menurunkan tarif dan mencabut pembatasan logam tanah jarang setelah ketegangan meningkat pada awal 2025. Xi mengatakan AS dan China sepakat membangun "stabilitas strategis" yang konstruktif untuk tiga tahun ke depan.
Analis China Macro Group, Jack Lee, menilai Beijing sedang mencoba memanfaatkan pendekatan transaksional Trump untuk membangun hubungan jangka panjang dengan Washington.
"Secara strategis, Beijing tampaknya mencoba mengubah kesediaan transaksional Trump untuk menstabilkan hubungan menjadi kerangka kerja operasional jangka panjang untuk hubungan AS-China," ujarnya.
Menurut dia, kerangka tersebut berpotensi menjadi fondasi hubungan kedua negara bahkan untuk pemerintahan AS berikutnya.
3. Angin Segar untuk Bisnis ASTrump juga mengungkapkan bahwa China akan memesan 200 pesawat dari Boeing. Jumlah itu lebih tinggi dari ekspektasi awal perusahaan yang berada di kisaran 150 unit, meski masih jauh di bawah proyeksi awal pasar sebanyak 500 unit.
Selain itu, Nvidia dikabarkan mendapat izin dari pemerintah AS untuk kembali menjual chip H200 ke perusahaan-perusahaan besar China. Kabar tersebut mendorong penguatan saham teknologi.
CEO Boeing Kelly Ortberg dan CEO Nvidia Jensen Huang turut mendampingi Trump ke Beijing. Sejumlah bos besar AS lain seperti CEO Apple Tim Cook hingga Tesla milik Elon Musk juga ikut dalam pertemuan dengan Perdana Menteri China Li Qiang pada Kamis.
Meski demikian, pemerintah China hanya menjanjikan pembukaan pasar yang lebih luas bagi bisnis asing tanpa perincian kebijakan baru yang konkret.
(tfa) Add as a preferred
source on Google




