Viral Saja Tak Cukup, Media Sosial Kini Dituntut Bangun Kepercayaan Audiens

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Perkembangan media digital terus melahirkan pola baru dalam cara masyarakat mengakses informasi. Jika sebelumnya media konvensional bergantung pada situs web, televisi, atau koran sebagai “rumah” utama distribusi konten, kini muncul fenomena homeless media yang berkembang lewat platform media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, hingga Telegram dan Substack. 

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, mengatakan bahwa bisnis homeless media berpotensi tumbuh secara berkelanjutan. Namun, ia menilai keberlangsungan media jenis ini tidak cukup hanya mengandalkan viralitas semata.

Baca Juga :
Skandal Baru Roblox, Dugaan Pekerja Anak di Balik Game Viral Jadi Sorotan
Alasan SMAN 1 Pontianak Tolak Cerdas Cermat Ulang Usai Polemik Nilai Juri yang Viral

"Secara bisnis, model ini bisa berkelanjutan tetapi dengan catatan penting yang bertahan bukan hanya yang viral melainkan yang berhasil membangun community trust dan diversifikasi pendapatan," katanya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurutnya, kemampuan membangun kepercayaan komunitas atau community trust menjadi faktor penting agar homeless media tetap relevan di tengah persaingan konten digital yang semakin ketat. Selain itu, media juga perlu memiliki sumber pemasukan yang beragam agar tidak terlalu bergantung pada satu model bisnis saja.

Rhenald menjelaskan, saat ini sumber pendapatan homeless media sudah berkembang dan tidak lagi hanya mengandalkan iklan. Berbagai model monetisasi mulai digunakan oleh para pelaku creator economy maupun media digital independen.

"Itu sebabnya creator economy pada tingkatan global diperkirakan menuju ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan," tuturnya.

Ia menyebut, pemasukan homeless media kini dapat berasal dari sponsorship, membership, subscription, affiliate commerce, paid community, hingga consulting. Diversifikasi tersebut dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah perubahan pola distribusi konten digital.

Meski demikian, Rhenald mengingatkan bahwa tidak semua homeless media mampu bertahan dalam jangka panjang. Media yang hanya mengejar viralitas disebut rentan mengalami penurunan performa ketika algoritma platform berubah atau tren konten bergeser.

"Hanya sedikit homeless media yang benar-benar sustainable. Banyak yang akhirnya bergantung pada algoritma platform. Ketika algoritma berubah, traffic bisa langsung jatuh," ujarnya.

Pendiri Rumah Perubahan itu juga menilai bahwa fenomena homeless media bukan sekadar tren sementara. Ia memandang perubahan ini sebagai bagian dari transformasi besar dalam industri media.

Baca Juga :
Jemaah Haji Diimbau Bijak Bermedia Sosial, Tak Semua Bisa Jadi Konten di Arab Saudi
Netizen Auto Nyeletuk usai Tahu MC Lomba Cerdas Cermat MPR Ternyata Biasa Jadi MC Wedding
Netizen Geram Lihat Anggota DPRD Jember Santai Main Game Sambil Merokok Ketika Bahas Stunting: Pecat Langsung!

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dihamili Bupati R Ayu Aulia Ngaku Cuma Halu, Gimana Soal Kehilangan Rahim?
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Siswinya Viral Setelah Tampil di LCC MPR Kalbar, SMAN 1 Pontianak Berpotensi Kebanjiran Pendaftar di SPMB 2026
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Alasan Anggota DPRD Jember Merokok dan Main Game saat Rapat
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
Sidoarjo Tuan Rumah Jatim Open Woodball 2026, 400 Atlet Ramaikan Piala Gubernur Jatim
• 9 jam lalurealita.co
thumb
Hydroplus Soccer League Bandung: Tiga Tim Rebutan Juara di Musim Perdana
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.