Politisi Gerindra Sebut Papua Butuh Pembangunan yang Hargai Martabat Orang Asli

republika.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perdebatan mengenai film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita harus dibaca secara lebih dewasa di tengah maraknya perang persepsi di era digital modern.

Menurut anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, saat ini sebuah bangsa tidak selalu dilemahkan melalui kekuatan militer, tetapi juga lewat pembentukan opini publik secara perlahan melalui media, film dokumenter, dan ruang digital.

Baca Juga
  • Mengapa Masyarakat Mesir Sangat Menghormati Roti dan Menyebutnya 'Isy atau Kehidupan?
  • Mesir Kirim Jet Tempur ke Uni Emirat Arab, Begini Tanggapan Santai Iran
  • Hizbullah, Para Pemburu Mematikan, dan 3 Pesan Kuat untuk Tentara Israel

“Di zaman sekarang, propaganda tidak lagi hadir dalam bentuk slogan kasar atau orasi kebencian. Ia hadir lebih halus melalui visual, emosi, dan narasi yang perlahan membentuk cara masyarakat memandang negaranya sendiri,” kata Azis dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Azis menegaskan kritik terhadap pembangunan di Papua merupakan sesuatu yang sah dalam demokrasi.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Namun dia mengingatkan, kritik juga harus memiliki tanggung jawab etik agar tidak berubah menjadi propaganda sosial yang memperbesar ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara.

“Tidak ada pembangunan yang boleh kebal kritik. Tetapi kritik yang kehilangan keberimbangan bisa berubah menjadi penggiringan persepsi yang terus-menerus menumbuhkan rasa curiga terhadap negara,” ujarnya.

Dia menilai film Pesta Babi lahir dari tradisi dokumenter advokatif yang memang memiliki orientasi perjuangan sosial tertentu. Karena itu, masyarakat perlu menyikapinya dengan kesadaran kritis.

“Film ini membangun narasi emosional yang sangat kuat tentang Papua Selatan, mulai dari hutan yang hilang, tanah adat yang berubah, hingga masyarakat yang merasa tersingkir. Sebagian keresahan itu memang nyata. Tetapi masalah muncul ketika kompleksitas Papua direduksi menjadi panggung moral sederhana antara negara sebagai perampas dan masyarakat adat semata sebagai korban,” katanya.

Pembubaran paksa nobar film Pesta Babi di Universitas Khairun. - (Tangkapan Layar)

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RI dan Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama Ekonomi 2026–2030
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Satu Pasien Meninggal saat Kebakaran di RSUD dr Soetomo Surabaya karena Penyakitnya
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Trump: AS dan China sama-sama tak ingin Iran punya senjata nuklir
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Rupiah Kian Melemah, Money Changer Catat Kenaikan Permintaan Dolar AS
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Viral! Emak-Emak Ricuh di Konser Afgan, Nyaris Lempar Speaker dari Lantai Atas hingga Pengunjung Histeris
• 19 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.