Ketika Maggot Mengubah Kampung

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di sudut permukiman padat RW 01 Tugu Utara, ada perubahan kecil yang perlahan mengubah wajah kampung.

Bukan gedung baru atau proyek infrastruktur besar. Perubahan itu datang dari makhluk mungil bernama maggot, larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang setiap hari melahap sisa makanan, sayuran busuk, hingga limbah dapur warga.

Dulu, aroma sampah organik kerap tercium dari sudut-sudut lingkungan. Kini, bau itu mulai menghilang.

Di Bank Sampah Cemara, maggot menjadi “pekerja” utama yang membantu warga mengurangi timbunan sampah organik hingga sekitar 100 kilogram per hari.

Baca juga: Kala Maggot jadi Pahlawan, Urai 100 Kg Sampah Organik Per Hari

“Maggot digunakan untuk mengurai sampah organik lunak (sisa dapur). Produksi maggot di sini sekitar 80 kg sampai 100 kg per hari,” tutur Ketua Bank Sampah Cemara, Dani Arwanto, saat ditemui Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Bagi warga, maggot bukan sekadar larva. Ia telah menjadi solusi.

Sampah yang berubah makna

Di tempat ini, sampah tak lagi dipandang sebagai barang buangan.

Setiap sisa makanan yang masuk ke tempat pengolahan justru menjadi “makanan” bagi maggot. Dalam waktu singkat, tumpukan limbah organik itu diurai hingga menyusut drastis.

Hasilnya bukan hanya lingkungan yang lebih bersih.

Baca juga: Mahasiswa Kanada Jauh-jauh ke Bogor, Ternyata Ingin Belajar Olah Sampah dengan Maggot

Larva yang telah tumbuh besar kemudian dipanen, dikeringkan, lalu dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak karena kaya protein.

Sementara sisa kotorannya, dikenal sebagai kasgot bisa langsung digunakan sebagai pupuk organik.

Dengan kata lain, hampir tak ada yang terbuang.

Dari rumah warga ke pasar

Meski dikelola di tingkat komunitas, pasokan sampah yang diolah di Bank Sampah Cemara datang dari banyak tempat.

Tak hanya dari rumah warga sekitar, mereka juga menerima sampah organik dari pasar, rumah makan, sekolah, hingga dapur program pemerintah.

“Kami mengambil sampah dari berbagai sumber, seperti Pasar Koja, rumah makan, sekolah, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” kata Dani.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Mengolah Sampah dengan Maggot: Awalnya Geli, Lama-lama Tanpa Sarung Tangan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komisi XI DPR minta mitigasi berlapis cegah inflasi impor
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Hari Raya Idul Adha Diprediksi Panas, BMKG Imbau Tetap Waspada Hujan Lokal
• 18 jam laludetik.com
thumb
Cek Syarat Penerima JKP BPJS Ketenagakerjaan, Pekerja Kantoran hingga Pabrik Bisa Dapat Manfaat
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Dede Sunandar Akui Pernah Lakukan KDRT ke Istri, Emosi Dipicu Teman Pria di Rumah
• 6 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Menhut Perkuat Akses Produk Kehutanan Indonesia ke Pasar AS
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.