jpnn.com, NEW YORK - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut langkah antisipasi menghadapi ancaman krisis iklim tak boleh surut meski terjadi kompleksitas geopolitik.
Hal demikian dikatakan dia Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests (UNFF21) di Markas Besar PBB, New York, Senin (11/5).
BACA JUGA: Menhut Ungkit Komitmen Bisnis Kehutanan Berkelanjutan Saat Hadiri Forum di New York
Raja Juli menekankan bahwa rimbawan di seluruh dunia harus tetap teguh dan fokus pada misi utama melindungi paru-paru dunia.
"Melindungi hutan dunia di tengah lanskap geopolitik yang kompleks saat ini memerlukan pembaruan semangat multilateralisme," kata dia dalam keterangan persnya, Jumat (15/5).
BACA JUGA: Bertemu Menhut, Badan Dunia Singgung Komitmen Politik dalam Melindungi Satwa
Namun, Raja Juli mengingatkan tantangan lingkungan yang makin berat memerlukan pendekatan global yang lebih solid dan tak terfragmentasi.
"Kita membutuhkan solidaritas yang semakin kuat serta aksi kolektif yang nyata untuk memastikan keberlangsungan hutan bagi generasi mendatang," ujar Menhut di hadapan para delegasi PBB.
BACA JUGA: Angka Karhutla di Indonesia Menurun, Menhut Singgung Koordinasi Lintas Kementerian
Menhut juga mengajak komunitas internasional untuk melihat hutan melampaui batas-batas administratif maupun politik.
Menurutnya, kerja sama internasional yang diperkuat dan kemitraan multipihak adalah jalan memobilisasi dukungan serta investasi yang pengelolaan hutan berkelanjutan.
"Komitmen terhadap kelestarian alam dan perlindungan keanekaragaman hayati harus tetap menjadi prioritas bersama demi masa depan bumi yang lebih hijau dan inklusif," kata dia. (ast/jpnn)
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi




