Gencatan Senjata Gagal, Konflik Israel dan Hizbullah di Lebanon Meluas Jadi Perang Terbuka

metrotvnews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Beirut: Konfrontasi bersenjata antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah kembali memanas dan meluas.

Gempuran Israel kini merembet dari kawasan desa-desa di perbatasan selatan hingga ke wilayah Bekaa barat. Eskalasi ini terjadi hanya beberapa jam sebelum sesi negosiasi langsung pertama antara perwakilan Lebanon dan Israel dijadwalkan dibuka di Washington, Amerika Serikat.

Menyikapi serangan tersebut, Hizbullah merespons dengan meluncurkan rentetan roket dan pesawat tak berawak (drone) yang menargetkan pergerakan pasukan maupun kendaraan militer Israel.

Sementara itu, militer Israel terus mengeluarkan peringatan evakuasi baru yang kini menjangkau kota-kota padat penduduk yang berada lebih jauh dari garis depan pertempuran. Beberapa di antaranya bahkan berjarak sekitar 40 kilometer dari perbatasan, seperti wilayah Lebaya, Sohmor, Yohmor, dan Ain al-Tineh di Bekaa barat, serta Teffahta, Kfar Melki, Houmine al-Fawqa, dan Mazraat Sinai di wilayah selatan.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah wilayah yang diperintahkan untuk dievakuasi kini telah mencapai 95 kota dan desa sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April lalu. Kondisi ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran, khususnya dari distrik Nabatieh, Sidon, Bekaa barat, dan Zahrani, sebagaimana dikutip dari laporan Aawsat, Jumat, 15 Mei 2026.

Dalam peringatan terbarunya, militer Israel (IDF) berdalih bahwa langkah tegas tersebut terpaksa diambil akibat adanya pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Hizbullah.

"Demi keselamatan, Anda harus segera mengosongkan rumah dan pindah setidaknya 1.000 meter ke area terbuka. Siapa pun yang berada di dekat anggota, fasilitas, dan peralatan tempur Hizbullah mempertaruhkan nyawanya," bunyi pernyataan peringatan dari IDF. Ribuan Pelanggaran Gencatan Senjata Data resmi dari Dewan Riset Ilmiah Nasional Lebanon sebelumnya mencatat adanya sekitar 8.200 serangan Israel antara rentang 2 Maret dan 16 April. Mirisnya, sejak gencatan senjata diklaim berlaku pada 17 April hingga 11 Mei, dewan tersebut justru mencatat adanya 3.318 pelanggaran darat dan 2.324 pelanggaran udara.

Angka-angka ini menegaskan bahwa status gencatan senjata di lapangan pada dasarnya telah berubah menjadi ajang pengelolaan konfrontasi terbuka tanpa batas waktu, yang diwarnai oleh serangan udara dan penembakan timbal balik.

Pesawat tempur Israel dilaporkan mengintensifkan serangannya di wilayah selatan Lebanon sejak Kamis pagi, menghantam Mansouri, Kfar Tebnit, Teffahta, Kafra, Siddiqine, Jabal al-Batm, hingga Zebqine. Pengeboman kemudian meluas ke Bekaa barat, menghancurkan Lebaya, Sohmor, dan Ain al-Tineh hanya beberapa jam setelah wilayah tersebut menerima peringatan evakuasi dari Israel.

Selain serangan udara jet tempur, drone Israel juga kian masif menyasar kendaraan sipil dan tim tanggap darurat. Serangan drone dilaporkan secara beruntun menghantam pos dan ambulans milik Asosiasi Pramuka Islam Risala di Qsaybeh, Nabatieh, yang secara jelas menandakan perluasan target serangan terhadap fasilitas medis dan tim bantuan darurat.
Balasan Sengit Hizbullah dan Kekhawatiran Israel Sebagai aksi balasan, Hizbullah mengumumkan serangkaian operasi militer balasan terhadap pasukan Israel yang disebut sebagai respons atas serangan ke desa-desa sipil.

Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut mengeklaim telah berhasil menghantam kumpulan kendaraan dan tentara Israel di Bayyada, melumpuhkan sebuah tank Merkava di pinggiran Kfar Kila, serta menyerang pasukan yang bergerak menuju Naqoura menggunakan rudal berpemandu dan tembakan artileri.

Dalam sebuah perkembangan penting, laporan dari saluran berita Kan Israel menyebutkan bahwa sebuah drone bermuatan bahan peledak milik Hizbullah sukses menghantam daerah Ras al-Naqoura. Insiden itu melukai tiga orang, di mana dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis.

Radio Angkatan Darat Israel mengonfirmasi bahwa sirene peringatan tidak menyala dan sistem pertahanan udara mereka gagal mencegat ancaman tersebut, sehingga menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem pencegatan drone Israel.

Kondisi ini praktis memicu kekhawatiran besar di kalangan militer Israel. Surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa tentara Israel yang bertugas di front utara kini diwajibkan selalu mengenakan pelindung tubuh dan helm akibat kewaspadaan tinggi terhadap serangan pesawat tak berawak Hizbullah. Selama dua minggu terakhir saja, serangan drone tersebut telah melukai sedikitnya 17 tentara Israel.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Layanan Bus Shalawat Menuju Masjidil Haram Hari ini Dihentikan Sementara
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Motor Dinas N-Max Desa di Aceh Hilang, Inspektorat Temukan Kerugian Rp33,4 Juta
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Belajar dari Lilin yang Menyala
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Peringatan Dini BMKG: Waspada Gelombang Tinggi 6 Meter hingga 17 Mei 2026
• 18 jam laluokezone.com
thumb
6 Shio Ini Ketiban Rezeki dan Sukses Finansial Besar pada Jumat 15 Mei 2026!
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.