REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM, – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menantang para pelaku industri kopi untuk menciptakan racikan kopi khas daerah yang menggabungkan arabika Lombok dan robusta Sumbawa. Tantangan ini disampaikan oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dalam acara Karya Kreatif NTB di Epicentrum Mall, Mataram, Jumat.
Pencampuran biji kopi arabika dari Sembalun dan Sajang di Pulau Lombok dengan robusta dari Tepal dan Tambora di Pulau Sumbawa diharapkan dapat membentuk identitas baru serta memperkuat daya saing kopi lokal NTB. Selama ini, kopi NTB lebih dikenal sebagai single origin, dan diharapkan di masa mendatang akan ada inovasi dalam bentuk blended coffee.
Kopi arabika dari kawasan Sembalun dan Sajang ditanam di lereng Gunung Rinjani dan memiliki cita rasa khas yang dipengaruhi oleh kondisi tanah vulkanik serta ketinggian wilayah tanam 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, robusta Sumbawa dikenal dengan rasa bold-nya. Perpaduan ini diharapkan melahirkan produk kopi baru dengan cita rasa yang unik.
Gubernur Iqbal mendorong barista, pelaku UMKM, dan komunitas pencinta kopi untuk bereksperimen menemukan racikan kopi terbaik dari kombinasi arabika Lombok dan robusta Sumbawa. Pemerintah daerah juga menawarkan bantuan agar racikan kopi campuran tersebut bisa memperoleh hak kekayaan intelektual dari Kementerian Hukum.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, luas perkebunan kopi di Nusa Tenggara Barat mencapai 14.038 hektare dengan produksi seberat 6.460 ton. Perkebunan kopi terluas berada di Kabupaten Sumbawa dengan 4.789 hektare, Lombok Timur 2.210 hektare, dan Kabupaten Bima 1.670 hektare.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Konten ini diolah dengan bantuan AI.