Pelemahan rupiah hingga menembus Rp 17.606 per dolar AS menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Jumat (15/5). Selain itu, kerugian Honda untuk pertama kalinya dalam 70 tahun. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Rupiah Makin Melemah, Tembus Rp 17.606 per Dolar ASNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus melemah, menembus Rp 17.606 per dolar AS pada Jumat pagi (15/5) pukul 9.35 WIB. Angka ini mencatatkan pelemahan 77 poin atau 0,44 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Tren pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat menyentuh level terendah Rp 17.500 sebelum menguat sebentar ke Rp 17.475 pada Rabu (13/5), sejalan dengan pelemahan mata uang di berbagai negara.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengidentifikasi beberapa faktor utama di balik pelemahan ini. Faktor pertama adalah aksi jual saham oleh investor asing menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Selain itu, tensi perang antara AS dan Iran di Selat Hormuz yang terus meningkat juga berkontribusi pada penguatan dolar AS, diikuti dengan antisipasi libur panjang Kenaikan Yesus Kristus oleh investor asing.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menambahkan bahwa tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.
“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry.
Menanggapi kondisi ini, BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non Deliverable Forward (NDF).
Honda Merugi untuk Pertama Kalinya dalam 70 tahun TerakhirHonda Motor mencatatkan kerugian tahunan pertamanya dalam hampir 70 tahun sebagai perusahaan publik, seperti yang dilaporkan Reuters dikutip Sabtu (16/5).
Kerugian ini disebabkan oleh beban restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) yang mencapai lebih dari USD 9 miliar atau sekitar Rp 158,45 triliun (kurs Rp 17.606).
Akibatnya, perusahaan asal Jepang ini membatalkan target penjualan EV jangka panjangnya, termasuk target seperlima penjualan mobil baru pada 2030 dan transisi penuh ke EV/sel bahan bakar pada 2040.
Kerugian operasional Honda tercatat sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar USD 2,63 miliar untuk tahun yang berakhir Maret 2026, lebih buruk dari estimasi median kerugian 315,6 miliar yen.
Ini berbanding terbalik dengan laba 1,2 triliun yen pada tahun sebelumnya. Total kerugian terkait EV yang dibukukan Honda mencapai 1,45 triliun yen pada tahun fiskal tersebut, dengan proyeksi tambahan biaya 500 miliar yen di tahun fiskal yang baru.
Penangguhan proyek investasi EV senilai USD 11 miliar di Kanada juga menjadi bagian dari upaya restrukturisasi ini.
Meskipun demikian, Honda optimistis akan kembali mencetak laba pada tahun ini, dengan proyeksi keuntungan 500 miliar yen.
Proyeksi ini ditopang oleh langkah efisiensi biaya dan kinerja positif dari bisnis sepeda motor, yang menargetkan penjualan tertinggi sepanjang sejarah sebesar 22,8 juta unit.
Penjualan kuat di India dan Brasil telah membantu bisnis sepeda motor Honda mencapai volume penjualan dan laba operasional tertinggi, meredam dampak besar dari restrukturisasi EV dan penurunan penjualan mobil di pasar utama seperti China.
Namun, transisi ke kendaraan listrik di pasar-pasar penting seperti India dan Vietnam diperkirakan akan memberikan tekanan margin pada bisnis sepeda motor ini.





