Waspada Ablasio Retina Sebelum Kebutaan Total

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Bulan Mei diperingati sebagai Bulan Kesehatan Penglihatan di beberapa negara, khususnya Amerika Serikat. Kampanye Healthy Vision Month ini digagas National Eye Institute (NEI) sejak Mei 2003 guna membangun kesadaran preventif perihal kesehatan mata.

Kala itu, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan mata masih sangat minim. Umumnya, orang merasa tidak punya masalah mata. Padahal, memburuknya kondisi mata tidak jarang justru karena terlambatnya penanganan.

Secara global, diperkirakan ada 295 juta orang yang mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat berdasarkan studi Global Burden of Disease pada 2019. Gangguan penglihatan paling dikhawatirkan, yakni kebutaan, dampak mental, kehilangan kemandirian. Selain itu, yang paling umum, yaitu hambatan penglihatan sehari-hari.

Studi tersebut juga memperkirakan ada sekitar 43,3 juta orang di dunia yang mengalami kebutaan pada tahun 2020. Dari 1990 hingga 2020, jumlah penderita kebutaan meningkat 50,6 persen. Bahkan, pada 2050, jumlahnya diprediksi akan meningkat hingga 55 persen atau mencapai 61 juta orang.

Lima penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan global di antaranya, yaitu katarak, glaukoma, gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, degenerasi makula akibat usia (AMD), dan retinopati diabetik.

Kabar baiknya, penanganan katarak modern memiliki tingkat kesuksesan sangat tinggi. Lebih dari 90 persen pasien tanpa komorbiditas mata berhasil memiliki penglihatan yang lebih baik, enam bulan pascaoperasi

Di Indonesia, keseriusan menuntaskan katarak tecermin melalui Permenkes Nomor 28 Tahun 2014 dan Peraturan BPJS Nomor 1 Tahun 2020. Aturan ini memudahkan pembiayaan yang sebelumnya sering menjadi penghalang utama. Ditambah, operasi katarak gratis juga sering ditemui melalui kegiatan-kegiatan sosial sejumlah pihak.

Kendati begitu, semangat Healthy Vision Month untuk membentuk perilaku preventif tidak hanya berhenti pada katarak saja. Masih ada kelompok gangguan mata lain yang gejalanya mungkin banyak dialami. Hanya, belum banyak mendapat perhatian terkait risiko kebutaan. Salah satu gejalanya yaitu gangguan refraksi, seperti rabun, baik miopia maupun hipermetropia.

Ablasio retina

Tiga region Asia adalah ’rumah’ bagi lebih dari separuh masyarakat global yang terganggu penglihatannya (62 persen). Di Asia Tenggara, jumlahnya diperkirakan mencapai 24 juta orang. Laporan Kementerian Kesehatan memperkirakan ada 8 juta jiwa dengan gangguan penglihatan. Di antaranya, 1,6 juta mengalami kebutaan dan 6,4 juta lainnya gangguan sedang hingga berat.

Khusus untuk ablasio retina, diperkirakan ada 17.000-25.000 kasus baru di Indonesia per tahun. Ablasio retina merupakan kondisi darurat medis saat lapisan saraf mata terlepas dari jaringan pendukungnya.

Ini mengakibatkan penurunan penglihatan drastis hingga seakan tertutup tirai gelap Kondisi ini bisa terjadi karena kecelakaan pada mata akibat benda tajam, tumpul, atau terpapar air keras dan zat kimia lainnya.

Namun, risiko ini juga berlaku bagi siapa saja yang mengalami rabun jauh atau miopia. Sebagai gambaran, risiko ablasio retina tiga kali lebih tinggi akibat miopia dibandingkan yang tidak. Angkanya bahan melonjak hingga 39 kali lipat bagi penderita miopia tinggi (minus mata di atas enam).

Sayangnya, prevalensi rabun jauh di Indonesia termasuk tinggi di level Asia Tenggara. Artinya, penderita rabun jauh di Indonesia perlu lebih mawas terhadap risiko ablasio retina. Yang lebih mengkhawatirkan, studi rekam medik di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Jakarta Eye Hospital menunjukkan bahwa ablasio retina justru sering terjadi pada kelompok usia muda dan produktif.

Tiga gejala yang paling sering mencirikan ablasio retina, yaitu munculnya benda melayang hitam (floaters) secara tiba-tiba. Lalu, kilatan cahaya (photopsia) di sisi pinggir penglihatan terutama ketika mata bergerak. Terakhir, pada tingkat darurat akan muncul tirai atau bayangan gelap yang menutupi sisi penglihatan.

Pada ranah medis, ablasio retina tergolong non-communicable disease (NCD). Artinya, gangguan ini berkembang lambat dan baru terasa saat sudah cukup parah. Di Asia, gangguan penglihatan NCD terus meningkat dalam tiga dekade terakhir dengan angka mencapai separuh dari total kasus di dunia.

Oleh karena itu, kesadaran proaktif berkonsultasi dengan tenaga medis ketika muncul gejala awal menjadi krusial. Apalagi belum banyak rilis resmi yang berhasil mendokumentasikan ablasio retina secara masif.

Antisipasi terstruktur semakin mendesak mengingat prevalensi gangguan penglihatan dan kebutaan Indonesia relatif tinggi di tingkat nasional dan global. Belum lagi, tren masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan terus meningkat. Ditambah, kondisi ini mengancam kelompok usia muda dan produktif.

Pencegahan dan tingkat keberhasilan

Risiko kehilangan kemandirian menjadi ancaman yang sangat nyata bagi penyintas ablasio retina. Kondisi retina yang ’lebih lemah’ memaksa mereka untuk membatasi aktivitas fisik. Hal tersebut membuat para penyintas menghadapi keterbatasan peluang kerja sekaligus aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan seperti olahraga.

Tidak mengherankan jika kemudian WHO mencatat para penderita gangguan penglihatan rentan mengalami depresi, kecemasan, dan tingkat partisipasi kerja yang lebih Dampak finansial akibat pengobatan jangka panjang juga menjadi beban yang dihadapi sehingga berpotensi membuat para penyintas semakin bergantung pada orang lain.

Dimensi-dimensi inilah yang kerap luput dari percakapan publik tentang gangguan mata. Secara lebih luas, gangguan penglihatan juga berimplikasi pada ekonomi. Di level global, kerugian produktivitas tahunan diestimasi mencapai Rp 7.100 triliun.

Baca JugaPenyebab Kebutaan yang Tak Terduga

Di Indonesia, nilainya ditaksir Rp 117,4 triliun akibat gangguan penglihatan sedang-berat dan Rp 50 triliun akibat kebutaan. Kebutaan akibat kelainan genetik sebenarnya sudah cukup sering disuarakan. Namun, kampanye pada gangguan lain seperti ablasio retina masih perlu penguatan. Pasalnya, taruhannya bukan sekadar penglihatan melainkan kebebasan sebagai manusia yang utuh dan mandiri.

Kabar baiknya, tingkat keberhasilan penanganan global sudah di atas 80 persen. Di Indonesia, data RSCM mencatat keberhasilan hingga 93 persen untuk operasi vitrektomi ablasio retina. Kendati masih menjadi catatan, keberhasilan membaiknya penglihatan enam bulan pascaoperasi masih di kisaran 77 persen.

Perbedaan angka itu mencerminkan betapa kompleksnya perjalanan seorang penyintas ablasio retina. Operasi yang berhasil secara teknis bukan jaminan penglihatan pulih sepenuhnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Kapabilitas layanan patut terus diperkuat dibarengi dengan upaya mereka yang bergejala juga harus segera mencari informasi dan berkonsultasi pada ahli. Tidak jarang kondisi yang parah bukan karena tidak ada jalan keluar, tetapi karena terlambat dikomunikasikan.

Di luar ranah medis, kehilangan penglihatan menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Mata bukan semata organ biologis, melainkan juga penghubung antara manusia dan dunia, antara pengalaman dan makna.

Mungkin karena itu pula, hampir setiap tradisi spiritual menempatkan penglihatan sebagai simbol kesadaran tertinggi. Di titik inilah kesadaran untuk menjaga kesehatan mata bukan hanya perkara jasmani melainkan juga rohani. (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaMata Kering Berisiko Picu Kebutaan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jepang pertimbangkan ekspor rudal antikapal ke Filipina
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
DPRD Maluku Dorong Semangat Generasi Muda di Hari Pattimura
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Prabowo Akan Resmikan Museum Pahlawan Buruh Marsinah Besok
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Perundingan Israel-Lebanon Berlanjut Saat Serangan Meningkat
• 19 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Hubungan China-AS bukan sekadar slogan, kata Wang Yi
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.