Harga Emas Ambles ke Level Terendah 2026, Tertekan Konflik Iran dan Dolar AS

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas anjlok hingga US$111 per troy ounce pada perdagangan Jumat (15/5/2026) di tengah lonjakan yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan dolar AS yang agresif akibat eskalasi konflik Iran.

Melansir Kitco, Harga emas di pasar spot ditutup melemah US$111,80 atau 2,4% ke posisi US$4.539,20 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka Comex kontrak Juni 2026 ditutup di kisaran US$4.615 per ons, memperpanjang pelemahan mingguan sekitar 3% sekaligus membawa harga emas terkoreksi lebih dari 17% dari rekor tertinggi US$5.589 yang tercapai pada Januari 2026.

Tekanan muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkeras sikap terhadap Iran usai pertemuan dua hari dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing berakhir tanpa terobosan konkret.

Trump menolak proposal perdamaian Iran dan memperingatkan bahwa operasi militer dapat meningkat apabila Teheran menolak syarat AS terkait penghentian pengayaan nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Alih-alih mendorong arus dana masuk ke emas, eskalasi konflik justru memicu lonjakan harga minyak menuju US$109 per barel dan memperbesar kekhawatiran inflasi global. Situasi itu membuat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve tidak memiliki ruang untuk melonggarkan suku bunga dalam waktu dekat.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun pun melonjak ke level tertinggi sepanjang 2026. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat ke posisi tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga

  • Investasi Emas vs Perak, Mana yang Paling Menguntungkan?
  • Rupiah Anjlok, Emas Melonjak, Ini 5 Investasi yang Dinilai Aman untuk Menjaga Tabungan
  • Harga Emas Global Terkoreksi, Kemendag Pangkas HPE jadi US$150.555 per Kg

Market Analyst Kitco Metals Gary Wagner mengatakan dinamika tersebut menunjukkan mengapa hubungan antara inflasi dan emas berbalik drastis dalam siklus saat ini.

”Emas selama ini dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, namun karakter inflasi kali ini, yang dipicu lonjakan harga minyak akibat risiko perang, menciptakan efek berantai yang secara bersamaan mendorong Federal Reserve (The Fed) ke arah kebijakan moneter lebih ketat sekaligus memperkuat dolar AS,” ungkap Wagner seperti dilansir Kitco, Sabtu (16/5/2026).

Wagner mengatakan kedua faktor itu menjadi sentimen negatif bagi logam mulia.

Rangkaian data ekonomi sepanjang pekan semakin memperjelas tekanan tersebut. Indeks Harga Konsumen (CPI) tercatat sebesar 3,8% pada Selasa, diikuti lonjakan Indeks Harga Produsen (PPI) terbesar sejak awal 2022 pada Rabu. Selanjutnya, harga impor dan ekspor pada Kamis melonjak jauh melampaui ekspektasi pasar.

Hingga Jumat, pelaku pasar sepenuhnya menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga sepanjang 2026 dan mulai memperhitungkan peluang sekitar 30% bagi kenaikan suku bunga sebelum Desember.

”Dalam situasi seperti itu, kepemilikan aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi semakin sulit dipertahankan, terutama ketika imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi tahun ini,” ungkap Wagner.

Tekanan terhadap emas terjadi bersamaan dengan pelemahan pasar saham global. Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 380 poin, sedangkan S&P 500 kembali tergelincir di bawah level 7.500. Nasdaq memimpin pelemahan seiring kenaikan yield yang menekan saham-saham teknologi.

Namun, emas justru terkoreksi lebih dalam dibandingkan ekuitas secara persentase. Kondisi ini mencerminkan bahwa arah pergerakan emas dalam jangka pendek kini lebih ditentukan ekspektasi suku bunga dibanding fungsi tradisionalnya sebagai aset lindung nilai.

Di sisi lain, KTT antara Donald Trump dan Xi Jinping, yang sejak awal pekan dipromosikan sebagai potensi katalis kemajuan dalam isu perdagangan dan Iran, berakhir tanpa terobosan konkret yang diharapkan pasar.

Komunike bersama hanya menegaskan kesepakatan kedua pemimpin bahwa Selat Hormuz harus tetap beroperasi demi menjaga stabilitas perdagangan global, sebuah pernyataan prinsip yang dinilai terlalu lemah untuk menggerakkan pasar.

Dalam isu Taiwan, komunike tersebut tidak memuat pernyataan apa pun. Xi mengakui adanya kemajuan dalam pembahasan perdagangan, tetapi memperingatkan bahwa perselisihan terkait Taiwan dapat membebani hubungan kedua negara dan bahkan berisiko memicu konflik.

Pernyataan itu mempertegas bahwa warisan utama pertemuan tersebut adalah pengelolaan ketegangan, bukan penyelesaian konflik.

Secara teknikal, Wagner mengatakan level US$4.600 kini menjadi area krusial bagi harga emas. Jika mampu bertahan, emas berpeluang membentuk basis konsolidasi baru dan memicu aksi beli kembali.

”Namun, apabila level tersebut ditembus, area support berikutnya diperkirakan berada pada kisaran US$4.500 hingga US$4.450 per troy ounce,” jelasnya.

Meski tekanan jangka pendek masih besar, proyeksi jangka panjang sejumlah institusi global terhadap emas belum berubah. J.P. Morgan masih menargetkan harga emas mencapai US$5.000 per ons pada akhir tahun, sedangkan Goldman Sachs mempertahankan proyeksi di level US$5.400 per ons.

Permintaan bank sentral global juga tetap tinggi dengan pembelian diperkirakan mencapai sekitar 585 ton per kuartal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri PU Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat di Wonosobo
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Bakal Umumkan Status Perkara Ijazah Jokowi, Roy Suryo: P21 Bukan Akhir!
• 21 jam laluokezone.com
thumb
UEA Tegaskan Siap Hadapi Ancaman Iran Tanpa Bantuan Pihak Luar
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wamendag RI Terbang ke Rusia Demi Genjot Penjualan Kopi hingga Pupuk
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Timwas Haji Berangkat Besok, Bakal Cek Temuan Overkapasitas hingga Jarak Hotel Jamaah
• 18 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.