Bisnis.com, MAKASSAR - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melalui Regional Office (RO) Makassar mencatatkan kinerja positif dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang tahun 2025.
Perseroan berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp16,87 triliun kepada 356.611 debitur di wilayah kerja tersebut, di mana sektor agribisnis tercatat menjadi tulang punggung utama penyaluran kredit bersubsidi ini.
Wilayah BRI RO Makassar sendiri mencakup empat provinsi di Indonesia Timur, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku.
RCEO BRI Regional 15 Makassar Argo Prabowo merinci bahwa sektor pertanian menyerap porsi terbesar, yakni senilai Rp8,78 triliun yang disalurkan kepada 177.416 debitur.
Kemudian sektor perdagangan sebesar Rp4,25 triliun untuk 96.281 debitur; sektor jasa sebesar Rp2,76 triliun untuk 58.448 triliun; sektor perikanan sebesar Rp642, 57 miliar untuk 14.765 debitur; dan sektor industri pengolahan sebesar Rp439,11 miliar untuk 9.701 debitur.
Sementara dari sisi segmen, KUR Mikro mendominasi sebesar 66,69% dari total penyaluran dan KUR Kecil sebesar 4243%.
Baca Juga
- BRI Kuasai 73,86% Penyaluran KUR di Sulsel, Tembus Rp12,43 Triliun pada 2025
- Simak Kurs Dolar AS BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI, Jumat (15/5)
- Sambal Khas Makassar Laku di Jepang dan Selandia Baru, Kini Sasar Malaysia dan Thailand
"Pada 2025, sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar di antara sektor lainnya yaitu Rp8,7 triliun atau mencakup 52,04% dari total. Sedangkan KUR Mikro mendominasi dengan cakupan 66,69%," jelas Argo Prabowo di Makassar, Jumat (15/5/2026).
Berdasarkan sebaran wilayah, Provinsi Sulawesi Selatan mendominasi serapan kredit dengan realisasi Rp12,43 triliun atau setara 73,69% dari total penyaluran. Posisi selanjutnya ditempati oleh Sulawesi Tenggara dengan Rp2,43 triliun (14,44%), Sulawesi Barat Rp1,29 triliun (7,65%), dan Maluku sebesar Rp710,81 miliar (4,21%).
Di tengah masifnya penyaluran kredit, BRI Regional 15 Makassar memperketat pengawasan untuk menjaga kualitas aset dan menekan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL). Strategi mitigasi difokuskan pada penguatan kapabilitas sumber daya manusia dan edukasi nasabah.
Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar Iwan Suprianto mengungkapkan bahwa langkah preventif dimulai sejak tahap awal pemilihan debitur. Pihaknya berupaya meningkatkan kompetensi para Mantri dan Relationship Manager (RM) Mikro dalam menganalisis kebutuhan riil nasabah.
"Kami memastikan proses bisnis sehat sejak dari akarnya. Salah satu penyebab kredit bermasalah adalah overcrediting. Orang butuh Rp50 juta kita kasih Rp50 juta, jangan sampai dikasih Rp150 juta," tegas Iwan.
Selain faktor internal, BRI juga menekankan pentingnya edukasi bagi nasabah saat proses akad kredit. Debitur didorong untuk menggunakan dana KUR hanya untuk kegiatan produktif dan diwajibkan melakukan transaksi melalui ekosistem BRI guna menjaga transparansi arus kas.
"Kami mengedukasi agar uang tersebut tidak lari ke hal-hal yang bersifat konsumtif. Pendampingan dilakukan sejak penandatanganan hingga operasional di lapangan oleh para Mantri untuk memastikan dana digunakan sesuai peruntukannya," tutupnya.





