EtIndonesia. Dalam pertemuan Amerika Serikat dan Partai Komunis Tiongkok (PKT), isi ringkasan pertemuan yang dirilis kedua pihak ternyata sangat berbeda, sehingga pengamat menyebutnya “seperti menghadiri dua pertemuan yang berbeda.”
Pihak Gedung Putih memfokuskan pembahasan pada kerja sama perdagangan dan isu Iran, tanpa menyinggung Taiwan. Sementara itu, pihak PKT justru menonjolkan isu Taiwan dan memperingatkan bahwa kesalahan penanganan masalah Taiwan dapat memicu konflik antara PKT dan Amerika Serikat.
Para analis menilai Beijing sengaja meningkatkan sorotan terhadap isu Taiwan untuk mengalihkan perhatian dari tekanan akibat konsesi ekonomi dan perdagangan, sekaligus menstabilkan opini publik domestik.
Pada Kamis (14 Mei), pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin PKT Xi Jinping di Beijing berlangsung selama 2 jam 15 menit. Gedung Putih menggambarkan hasil pembicaraan itu sebagai “berjalan dengan baik.”
Pihak PKT disebut setuju membeli kedelai, energi, dan pesawat dari AS, serta berjanji membantu menyelesaikan masalah Iran.
Setelah pertemuan, Gedung Putih merilis ringkasan yang berfokus pada kerja sama perdagangan, situasi Iran, dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, tanpa menyebut isu Taiwan.
Namun, pihak PKT secara terbuka menyatakan bahwa kedua pihak membahas masalah Taiwan, tetapi tidak menyinggung isu Iran. Xi Jinping juga disebut menyampaikan peringatan keras kepada Trump bahwa jika masalah Taiwan ditangani secara tidak tepat, kedua negara bisa mengalami konflik.
Dua ringkasan pertemuan yang sangat bertolak belakang ini menunjukkan bahwa kedua pihak tidak mencapai kesepakatan mengenai isu Taiwan.
“Alasan PKT sangat menonjolkan masalah Taiwan sepenuhnya karena kebutuhan politik Xi Jinping,” ujar komentator masalah PKT, Li Linyi.
Langkah PKT memperbesar gaung isu Taiwan dipandang sebagai bentuk operasi propaganda. Banyak pihak menafsirkan bahwa setelah Beijing membuat sejumlah konsesi besar dalam isu perdagangan, mereka menggunakan isu Taiwan untuk mengurangi kesan bahwa PKT telah terlalu banyak mengalah.
Ada pula pandangan bahwa konflik internal PKT saat ini sedang memanas, sehingga ancaman terkait Taiwan lebih menunjukkan sikap “keras di luar tetapi lemah di dalam.”
Sumber tertentu mengungkapkan bahwa Taiwan memang menjadi salah satu topik pembicaraan kedua pihak. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancara dengan NBC News di Beijing menyatakan bahwa posisi Amerika Serikat terhadap Taiwan tidak berubah. Ia mengatakan bahwa upaya merebut Taiwan dengan kekuatan militer akan menjadi “kesalahan yang mengerikan.”
Pada saat yang sama, juru bicara Eksekutif Yuan Taiwan, Lee Hwei-chih juga menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat terhadap Taiwan tetap tidak berubah.
“Saya percaya respons dari pihak Taiwan juga menunjukkan bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan pada dasarnya tidak akan mengalami perubahan besar. Itu sudah pasti. Jika ada konsesi terhadap Taiwan, hal itu akan sangat merugikan Presiden Trump, baik dalam pemerintahan maupun politik domestik, karena saat ini sikap anti-PKT dan dukungan terhadap Taiwan merupakan arus utama opini publik di Amerika,” kata Li Linyi.
Seorang akademisi Taiwan menyatakan bahwa kepentingan nasional Amerika Serikat justru merupakan hal-hal yang ingin dirusak oleh PKT, baik keamanan rantai pulau pertama, dominasi Amerika Serikat, maupun keunggulan teknologinya. Karena itu, negosiasi antara AS dan PKT dinilai sulit menghasilkan konsensus mendasar atau terobosan besar.
Ada juga pengamat yang menyebut bahwa karena Xi Jinping sudah sangat menjaga “penampilan luar” dalam pertemuan ini, kemungkinan isi pembicaraan sebenarnya justru tidak berjalan baik bagi pihak PKT.
Terkait isu Iran, pihak PKT disebut menyetujui bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan bahwa PKT setuju untuk tidak memasok peralatan militer kepada Iran, namun tetap bersikeras membeli minyak dari Iran.
“Terobosan terbesar Trump kali ini adalah membuat Xi Jinping secara terbuka menyetujui bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, yang membuka jalan bagi kemungkinan langkah militer AS terhadap Iran di tahap berikutnya,” kata komentator politik, Lan Shu.
Dilaporkan oleh reporter NTD, Chen Yue dan Chang Chun.




