REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kekhawatiran masyarakat terhadap hantavirus mulai meningkat setelah berbagai informasi terkait virus tersebut ramai beredar di media sosial. Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Yudha Permana, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengambil langkah mitigasi sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan.
Menurut Yudha, pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat dibayangi ketakutan akibat informasi yang belum sepenuhnya dipahami publik.
Baca Juga
Peringati Tragedi Nakba, Rumah Zakat Ajak Warga Bandung Terus Suarakan Palestina
Trump Pergi, Putin akan Datang, Pertama Kali China Terima Pemimpin AS-Rusia di Bulan yang Sama
Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Ekonom Soroti Masalah Ini
“Sekarang masyarakat mulai takut setelah melihat berbagai informasi di medsos. Pemerintah harus hadir memberikan edukasi yang jelas, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” kata Yudha di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Ia juga mendorong Pemprov DKI memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan serta sistem penanganan apabila kasus hantavirus berkembang lebih luas.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Harapannya tentu tidak sampai meluas. Tapi pemerintah tetap harus siap mengantisipasi kemungkinan terburuk,” ujarnya.
Yudha menilai potensi penyebaran hantavirus tidak boleh dianggap remeh. Menurut dia, pengalaman pandemi Covid-19 harus menjadi pelajaran penting agar pemerintah lebih sigap menghadapi ancaman penyakit menular baru.
“Jangan sampai kita terlambat mengantisipasi. Pengalaman COVID-19 harus jadi pelajaran besar,” katanya.
Karena itu, ia meminta Pemprov DKI bersama pemerintah pusat segera melakukan kajian mendalam terkait potensi penyebaran hantavirus di Indonesia.
“Ini harus ada kajian khusus dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Pemerintah Pusat. Intinya harus siap sedia payung sebelum hujan, belajar dari pengalaman COVID-19,” ucap Yudha.
Ancaman Penyakit di Kota Besar
Meningkatnya kekhawatiran terhadap hantavirus juga kembali menyoroti persoalan klasik kota-kota besar seperti Jakarta: sanitasi lingkungan dan populasi tikus yang sulit dikendalikan. Kepadatan penduduk, buruknya pengelolaan sampah, hingga drainase yang tidak optimal dinilai menjadi faktor yang dapat memperbesar risiko munculnya berbagai penyakit berbasis lingkungan.