Jakarta, ERANASIONAL.COM – Produsen otomotif asal Jepang, Honda Motor Co., mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya sejak perusahaan melantai di bursa saham pada 1957. Tekanan besar dari bisnis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) membuat perusahaan harus mengubah arah strategi bisnisnya dengan memperbesar fokus pada pengembangan mobil hybrid.
Laporan keuangan terbaru Honda menunjukkan perusahaan mengalami rugi bersih sebesar 423,94 miliar yen atau sekitar Rp47,1 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan capaian tahun sebelumnya ketika Honda masih membukukan laba bersih sebesar 835,84 miliar yen atau sekitar Rp92,8 triliun.
Kerugian tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah panjang Honda sebagai salah satu produsen otomotif terbesar di dunia. Selama puluhan tahun, perusahaan dikenal mampu mempertahankan stabilitas bisnis meski industri otomotif global mengalami berbagai gejolak, mulai dari krisis ekonomi, pandemi, hingga gangguan rantai pasok. Namun kali ini, tekanan besar dari transformasi industri menuju kendaraan listrik membuat kondisi keuangan Honda mengalami penurunan signifikan.
Selain rugi bersih, laba operasional Honda juga berubah drastis menjadi minus 414,35 miliar yen atau sekitar Rp46 triliun. Padahal pada tahun fiskal sebelumnya perusahaan masih mampu mencetak laba operasional mencapai 1,21 triliun yen atau setara Rp134,3 triliun.
Meski demikian, pendapatan perusahaan sebenarnya masih mengalami pertumbuhan tipis. Honda mencatat penjualan sebesar 21,80 triliun yen atau sekitar Rp2.419,8 triliun, naik 0,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun kenaikan pendapatan tersebut tidak mampu menutup tingginya beban restrukturisasi dan investasi pada bisnis kendaraan listrik.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengakui kondisi yang dihadapi perusahaan saat ini cukup serius. Ia menegaskan bahwa prioritas utama Honda sekarang adalah menghentikan tekanan kerugian secepat mungkin sambil menyusun ulang strategi bisnis jangka panjang perusahaan.
Menurut Honda, sumber utama kerugian berasal dari restrukturisasi bisnis kendaraan listrik. Perusahaan membukukan beban restrukturisasi mencapai 1,58 triliun yen atau sekitar Rp175,4 triliun, lebih besar dibanding perkiraan awal.
Besarnya biaya restrukturisasi menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik membutuhkan investasi sangat besar, mulai dari pengembangan teknologi baterai, pembangunan pabrik baru, hingga penyesuaian rantai pasok global. Di tengah ketatnya persaingan industri otomotif dunia, beban investasi tersebut menjadi tantangan berat bagi banyak produsen mobil, termasuk Honda.
Tidak hanya itu, Honda juga memperkirakan bisnis EV masih akan membebani kinerja perusahaan pada tahun berjalan. Perusahaan memprediksi tambahan kerugian sekitar 500 miliar yen atau setara Rp55,5 triliun dari sektor kendaraan listrik pada tahun fiskal berikutnya.
Sebagai langkah penghematan dan evaluasi strategi, Honda memutuskan menghentikan pengembangan tiga model kendaraan listrik untuk pasar Amerika Utara. Selain itu, rencana pembangunan pabrik kendaraan listrik dan baterai di Kanada juga sementara dibekukan.
Keputusan tersebut menandai perubahan besar dalam arah strategi elektrifikasi Honda. Jika sebelumnya perusahaan cukup agresif mendorong pengembangan EV penuh, kini Honda memilih pendekatan yang lebih fleksibel dengan memprioritaskan kendaraan hybrid.
Honda menilai mobil hybrid masih memiliki peluang besar di pasar global, terutama di tengah transisi industri otomotif yang belum sepenuhnya siap beralih total ke kendaraan listrik berbasis baterai. Faktor harga kendaraan, infrastruktur pengisian daya, hingga kebijakan pemerintah di masing-masing negara menjadi pertimbangan penting dalam menentukan strategi bisnis.
Sebagai bagian dari strategi baru tersebut, Honda menargetkan peluncuran 15 model hybrid baru secara global hingga tahun 2030. Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya saing perusahaan di tengah perubahan tren pasar otomotif dunia.
Perusahaan juga merevisi target elektrifikasi penuh yang sebelumnya cukup ambisius. Honda membatalkan target seluruh model kendaraan menjadi EV atau fuel-cell pada tahun 2040. Perubahan itu menunjukkan bahwa perusahaan kini memilih pendekatan yang lebih realistis sesuai kondisi pasar dan permintaan konsumen global.
Di pasar internasional, penjualan mobil Honda mengalami penurunan sebesar 8,9 persen menjadi 3,39 juta unit. Pelemahan pasar di China menjadi salah satu faktor utama penurunan tersebut.
China selama ini merupakan salah satu pasar otomotif terbesar dunia sekaligus medan persaingan paling ketat untuk kendaraan listrik. Produsen lokal China kini semakin dominan berkat dukungan teknologi, harga kompetitif, serta ekosistem kendaraan listrik yang berkembang sangat cepat.
Kondisi tersebut membuat sejumlah produsen otomotif Jepang menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan pangsa pasar mereka di China. Honda menjadi salah satu perusahaan yang terdampak langsung oleh perubahan persaingan tersebut.
Di tengah tekanan bisnis mobil, sektor sepeda motor Honda justru mencatatkan performa positif. Penjualan motor global mencapai 22,10 juta unit atau naik 7,4 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong tingginya permintaan dari negara berkembang seperti India dan Brasil. Honda masih menjadi salah satu pemain dominan di pasar roda dua global berkat jaringan distribusi yang luas dan reputasi merek yang kuat.
Selain tekanan dari bisnis EV, Honda juga menghadapi dampak kebijakan tarif impor kendaraan Jepang ke Amerika Serikat. Beban dari kebijakan tersebut diperkirakan mencapai 347 miliar yen atau sekitar Rp38,5 triliun.
Amerika Serikat sendiri merupakan salah satu pasar penting bagi Honda. Karena itu, perubahan kebijakan perdagangan dan tarif impor turut memberikan pengaruh besar terhadap biaya operasional perusahaan.
Meski menghadapi tekanan besar, Honda tetap optimistis mampu memperbaiki kinerja keuangan pada tahun mendatang. Perusahaan menargetkan laba bersih sebesar 260 miliar yen atau sekitar Rp28,9 triliun pada tahun fiskal berikutnya.
Honda berharap strategi baru yang lebih fokus pada kendaraan hybrid, efisiensi operasional, dan restrukturisasi bisnis dapat membantu perusahaan keluar dari tekanan kerugian. Selain itu, perusahaan juga terus mengevaluasi arah pengembangan kendaraan listrik agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar global yang terus berubah.
Perubahan strategi Honda menunjukkan bahwa transisi menuju era kendaraan listrik tidak selalu berjalan mulus bagi industri otomotif global. Meski banyak negara mendorong percepatan elektrifikasi, produsen kendaraan tetap harus menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan konsumen di berbagai negara.





