Jakarta: Indonesia dan Tiongkok memperkuat hubungan strategis di sektor energi dan pertambangan. Hal ini menjadi sorotan utama dalam gelaran Indonesia Coal and Energy Expo (ICEE) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Expo, sebagai forum yang mempertemukan pelaku industri, asosiasi, pemerintah, hingga penyedia teknologi dari kedua negara untuk membahas arah baru industri energi yang semakin hijau, efisien, dan terintegrasi.
Bagi MMS Resources, subholding pertambangan dari MMSGI berpartisipasi dalam ICEE 2026 menjadi langkah strategis untuk memperkuat jejaring global sekaligus membaca arah transformasi industri energi regional. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang integrated mining management dan pengelolaan rantai pasok pertambangan, MMS Resources melihat kolaborasi lintas negara sebagai elemen penting dalam menjaga keberlanjutan industri energi nasional di tengah dinamika global.
Head of Marketing MMS Resources Muhamad Saly Putra mengatakan kondisi pasar global saat ini justru memperlihatkan pentingnya hubungan jangka panjang, komunikasi yang terbuka, serta kepastian pasokan energi antara Indonesia dan Tiongkok.
"Forum seperti ICEE menunjukkan hubungan Indonesia dan Tiongkok saat ini tidak lagi sebatas hubungan perdagangan biasa, tetapi sudah berkembang menjadi kemitraan strategis dalam rantai pasok energi regional. Kami melihat adanya kebutuhan besar terhadap continuity of supply, reliability, dan kerja sama jangka panjang dari Indonesia," ujar Saly di sela ICEE 2026, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 16 Mei 2026.
Menurut dia, Tiongkok masih menjadi mitra utama bagi industri batu bara Indonesia. Berdasarkan data Kpler, sekitar 42 persen ekspor batu bara Indonesia setiap tahunnya ditujukan ke Tiongkok, dengan volume ekspor mencapai sekitar 305 juta ton pada 2025. Besarnya hubungan dagang tersebut menjadikan stabilitas dan keberlanjutan kerja sama kedua negara semakin penting, baik bagi keberlanjutan industri energi Indonesia maupun keamanan pasokan energi Tiongkok.
"Indonesia masih memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pasar Tiongkok. Karena itu, forum seperti ICEE menjadi penting untuk memperkuat mutual understanding, membuka peluang kolaborasi baru, serta membangun hubungan industri yang lebih sustainable ke depan," tambah dia.
Baca juga: Indonesia Rajin Gaet Investor Tiongkok
(Ilustrasi industri pertambangan. Foto: dok MI)
Dorong pengembangan industri pertambangan modern
Bagi MMS Resources, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan tersebut membuka peluang strategis dalam pengembangan industri pertambangan yang lebih modern dan adaptif terhadap tantangan global.
"Yang hadir di sini bukan hanya buyer dan seller, tetapi juga asosiasi industri, perusahaan teknologi, hingga perwakilan provinsi dari Tiongkok. Ini membuka ruang diskusi yang jauh lebih strategis, mulai dari pengembangan teknologi pertambangan, efisiensi logistik, digitalisasi operasional, hingga potensi kolaborasi untuk mendukung industri energi yang lebih rendah emisi," kata Saly.
Dalam ICEE 2026, isu green mining, digitalisasi pertambangan, clean coal technology, integrasi energi baru, hingga transformasi industri rendah karbon menjadi fokus utama pembahasan. Lebih dari 150 perusahaan energi dan pertambangan global turut berpartisipasi, termasuk perusahaan teknologi dan alat berat terkemuka dari Tiongkok.
Melalui partisipasi di ICEE 2026, MMS Resources menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran sebagai mitra industri pertambangan yang adaptif, berorientasi jangka panjang, dan siap mendukung transformasi sektor energi Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Sejalan dengan semangat MMSGI, MMS Resources percaya kolaborasi strategis hari ini merupakan bagian penting untuk Berdayakan Masa Depan.




