Rupiah Masih Tertekan Dolar AS, Purbaya Tegaskan Indonesia Bukan Krisis 1998

eranasional.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tetap tenang menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mendekati level Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan pekan ini. Pemerintah menilai kondisi ekonomi nasional masih berada dalam situasi yang terkendali sehingga masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi pasar valuta asing.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya setelah nilai tukar rupiah di pasar spot sempat menyentuh level psikologis Rp17.479 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Posisi tersebut menjadi salah satu titik pelemahan terdalam rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan memicu perhatian pelaku pasar serta masyarakat.

Meski demikian, pemerintah memastikan pelemahan mata uang nasional saat ini tidak dapat disamakan dengan kondisi krisis moneter yang pernah terjadi pada 1998. Purbaya menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis dua dekade lalu.

“Enggak perlu panik. Karena pondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin,” ujar Purbaya di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah memahami berbagai tantangan yang dihadapi perekonomian nasional, termasuk tekanan eksternal yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Karena itu, pemerintah optimistis kondisi tersebut masih dapat dikendalikan melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Menurut Purbaya, situasi ekonomi Indonesia saat ini memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan masa krisis moneter 1998. Berbagai indikator ekonomi disebut masih berada dalam kondisi relatif stabil, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga kondisi sektor perbankan nasional.

“Kita enggak akan sejelek kayak tahun ’98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan pondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya,” katanya.

Pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir memang menjadi perhatian karena terjadi di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. Penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia dipicu sejumlah faktor eksternal, termasuk kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian pasar keuangan internasional.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga menekan mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. Dalam situasi seperti itu, arus modal global cenderung bergerak menuju aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Meski rupiah sempat melemah cukup dalam, pergerakan mata uang nasional kemudian menunjukkan perbaikan pada perdagangan berikutnya. Pada Rabu, 13 Mei 2026, rupiah tercatat menguat sekitar 53 poin atau 0,30 persen ke posisi Rp17.475 per dolar AS.

Penguatan tersebut dinilai menunjukkan bahwa pasar masih merespons positif langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Pemerintah meyakini koordinasi yang terus dilakukan dengan otoritas moneter akan membantu menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Purbaya juga menyampaikan keyakinannya terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam mengendalikan volatilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, bank sentral memiliki instrumen kebijakan yang cukup untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

“Ya itu anda tanya Bank Sentral saja, mereka yang berwenang. Tapi saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia memang aktif melakukan berbagai langkah stabilisasi nilai tukar, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen moneter, hingga koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekonomi makro.

Pemerintah menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup baik. Inflasi relatif terkendali, konsumsi domestik tetap tumbuh, dan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif meski tekanan global meningkat.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga dinilai masih berada pada level aman untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mendukung kebutuhan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Di tengah pelemahan rupiah, pemerintah juga terus memantau dampaknya terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk harga barang impor, industri manufaktur, serta sektor energi. Pelemahan mata uang biasanya dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan memengaruhi harga sejumlah komoditas di dalam negeri.

Namun pemerintah memastikan koordinasi lintas kementerian dan lembaga terus dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Langkah antisipasi juga disiapkan agar gejolak nilai tukar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap masyarakat maupun dunia usaha.

Pergerakan rupiah belakangan ini menjadi sorotan karena kurs mendekati level psikologis Rp17.500 per dolar AS. Angka tersebut dianggap sensitif oleh pasar karena dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi ekonomi domestik.

Meski begitu, pemerintah menegaskan pelemahan rupiah tidak semata-mata disebabkan faktor internal. Situasi global yang belum stabil masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar keuangan dunia.

Ketidakpastian ekonomi global dipicu berbagai faktor, mulai dari tensi geopolitik, perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, hingga kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.

Kondisi tersebut membuat banyak mata uang negara berkembang mengalami tekanan serupa terhadap dolar AS. Karena itu, pemerintah meminta masyarakat melihat situasi secara lebih luas dan tidak langsung mengaitkan pelemahan rupiah dengan krisis ekonomi domestik.

Purbaya menekankan bahwa pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi erat dengan Bank Indonesia serta berbagai lembaga terkait. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan baik dan kepercayaan investor tetap terjaga.

Selain menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah juga berupaya memperkuat sektor riil melalui berbagai kebijakan fiskal dan investasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Pemerintah berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh spekulasi maupun kekhawatiran berlebihan terkait fluktuasi nilai tukar. Menurut Purbaya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini memiliki ketahanan yang jauh lebih baik dibanding masa-masa krisis sebelumnya sehingga tetap mampu menghadapi tekanan eksternal dengan lebih siap.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terpopuler: Jadwal Debut Megawati Hangestri di Hyundai Hillstate, Gregoria Mariska Mundur dari Pelatnas PBSI
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Iran sebut AS eksploitasi dukungan untuk resolusi Selat Hormuz
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Tegaskan Bertanggung Jawab Penuh Terhadap Pangan 287 Juta Rakyat Indonesia
• 43 menit lalueranasional.com
thumb
DPR Sebut Kondisi Ekonomi Indonesia Sekarang Berbeda dengan Krisis 98
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
5 Fakta Menarik dari Jam Saku Kolaborasi Audemars Piguet dengan Swatch
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.