Sepuluh Kejanggalan dalam Pertemuan Trump-Xi, Analis: Mengungkap Masalah Besar

erabaru.net
13 jam lalu
Cover Berita

Selama kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing, “pasukan pendahulu” pengamanannya mengejutkan banyak pihak. Pada 14 Mei, selama pertemuan Trump-Xi, muncul banyak insiden dan detail menarik, terutama terkait sistem pengawasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan tindakan kasar aparat keamanan PKT yang juga disaksikan media asing. Menurut pengamatan, sedikitnya ada sepuluh detail penting di dalam dan di luar lokasi acara.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Beijing pada 13 Mei malam untuk melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke Tiongkok. Sejak awal Mei, sekitar 70 kendaraan pengamanan Amerika dan lebih dari 10 pesawat angkut militer besar C-17 AS telah tiba di Beijing. Kendaraan kepresidenan lapis baja “The Beast” dan pesawat “Air Force One” juga menjadi pusat perhatian.

Veteran media Yan Chun-gou menulis di Facebook bahwa kunjungan Trump ke Beijing kali ini menunjukkan kekuatan besar dari tim pendahulu presiden: kendaraan kepresidenan yang tak tertandingi, perlindungan ketat Secret Service, ditambah pusat komando satelit terenkripsi dan jaringan komunikasi militer global. Ia menyebutnya seperti “Gedung Putih bergerak” yang dibawa masuk ke jantung Tiongkok.

Menurutnya, selain kebutuhan menghadapi situasi darurat di tengah konflik Timur Tengah saat ini, hal itu juga merupakan bentuk unjuk kekuatan tak langsung terhadap PKT.

Pada 14 Mei, media menangkap banyak detail menarik selama “pertemuan Trump-Xi”.

Pagi hari itu, pembawa acara Fox News, Bret Baier, yang ikut bersama Trump ke PKT, mengalami langsung sistem pengawasan PKT. Ia mengatakan:“Di sini ada kamera di mana-mana, memantau kami setiap detik.”  “Inilah komunisme!”

Pada 14 Mei, rombongan pers Gedung Putih yang mengikuti Trump mengalami sedikitnya tiga bentrokan fisik dengan staf pihak PKT.

Menurut reporter Gedung Putih dari New York Post, Emily Goodin, hanya dalam sehari terjadi beberapa insiden:

Saat Trump tiba di Temple of Heaven untuk berkunjung, petugas keamanan PKT secara paksa mengurung rombongan pers Gedung Putih di sebuah ruangan kecil. Hal itu memicu kemarahan para wartawan hingga mereka menerobos keluar secara paksa.

Di lokasi Temple of Heaven juga terjadi konfrontasi sengit. Pihak PKT memaksa seorang agen Secret Service AS menyerahkan senjatanya terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk, sehingga jadwal kunjungan tertunda setengah jam.

Ketika Trump hendak meninggalkan lokasi, pejabat PKT kembali menolak membiarkan wartawan Amerika bergabung dengan iring-iringan presiden. Akibatnya, para wartawan AS berlari menerobos kerumunan petugas PKT dan akhirnya berhasil masuk kembali ke rombongan kendaraan presiden.

Komentator politik Zhou Xiaohui menulis dalam artikel di Epoch Times bahwa pembukaan pertemuan Trump-Xi pada  Mei pagi sangat menarik. Menurutnya, terlepas dari hasil pembicaraan kedua pihak, berbagai insiden kecil dan detail sepanjang proses justru memperlihatkan masalah yang lebih besar.

Ia merangkum sepuluh detail utama:

  1. Seekor burung murai datang saat Trump turun dari kendaraan
  2. Xi memakai sepatu penambah tinggi agar tampak sejajar dengan Trump
  3. Energi Trump terlihat sama seperti saat kunjungan 2017, sedangkan Xi tampak kurang percaya diri dan kehilangan semangat
  4. Jumlah pejabat tinggi PKT yang ikut upacara penyambutan lebih sedikit
  5. Rombongan AS terlihat santai, sedangkan rombongan PKT tampak tegang
  6. Musik yang dimainkan orkes militer dianggap memiliki makna tersembunyi
  7. Xi masih sangat sering melihat catatan kecil saat pertemuan
  8. Kali ini tidak ada konferensi pers bersama maupun forum pengusaha AS-PKT
  9. Xi hanya menemani Trump mengunjungi Aula Qinian di Temple of Heaven
  10. Durasi berita CCTV mengenai acara ini lebih singkat

Penulis menganalisis bahwa kemunculan burung murai saat menyambut Trump bisa dianggap simbol tertentu. Jika itu menandakan bahwa tekanan Trump akan mempercepat “tenggelamnya kapal merah PKT”, maka banyak rakyat PKT akan merasa gembira dari hati mereka.

Dari tayangan resmi terlihat bahwa suasana rombongan AS selama upacara penyambutan tampak santai, sedangkan pejabat PKT terlihat serius dan kaku. Menurut penulis, mereka sadar bahwa mereka bukan tokoh utama hari itu dan tidak boleh mencuri perhatian.

Penulis juga berpendapat bahwa perbedaan sikap pejabat kedua negara mencerminkan perbedaan sistem politik yang membentuk mereka. Pihak AS dianggap memiliki rasa tanggung jawab dan semangat melayani rakyat, sedangkan pejabat PKT dianggap lebih berorientasi melayani elite kekuasaan dan memuja kekuasaan itu sendiri.

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gak Usah Beli, Ini Resep Croissant Nutella yang Renyah di Luar dan Lumer di Dalam
• 9 jam laluherstory.co.id
thumb
Jaga Gengsi, Persik Ingin Kalahkan Persija di Kediri
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Tanah Longsor di Subang, 2 Korban Hilang Ditemukan Meninggal
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Atlet berkuda Indonesia Dinov lolos ke Olimpiade Remaja 2026 di Dakar
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Aldi Taher Minta Maaf ke Dewi Perssik Usai Disindir Soal Gabriel
• 13 jam laluintipseleb.com
Berhasil disimpan.