Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Washington memperoleh keuntungan besar dari sektor minyak Venezuela setelah operasi militer AS yang menargetkan mantan Presiden Nicolas Maduro.
Dalam wawancara dengan Fox News usai lawatan kenegaraan ke Tiongkok pada Jumat waktu setempat, Trump memuji kekuatan militer Amerika Serikat sekaligus menyinggung hasil intervensi Washington di Venezuela.
“Selama empat tahun pertama masa jabatan saya, saya membangun militer terkuat di dunia yang ditunjukkan di Venezuela,” ujar Trump, dikutip dari Anadolu, Sabtu, 16 Mei 2026.
Trump mengklaim operasi untuk melengserkan Maduro berlangsung sangat cepat. “Operasi itu berlangsung selama 48 menit dan 13 detik, dan selesai,” katanya.
Ia juga menyebut Venezuela sebagai negara dengan kekuatan militer yang besar, namun situasi disebut berubah dengan cepat setelah operasi tersebut.
Trump kemudian secara terbuka menyatakan Amerika Serikat memperoleh keuntungan ekonomi dari minyak Venezuela. “Ngomong-ngomong, kami telah menghasilkan banyak uang dari minyak mereka,” ujar Trump.
Meski demikian, Trump juga mengklaim Caracas kini memperoleh pemasukan yang lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Pernyataan Trump muncul di tengah kontroversi kebijakan Washington terhadap Venezuela pasca-operasi militer AS pada awal 2026 yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro.
Sejumlah laporan media AS menyebut pemerintahan Trump mendorong perusahaan energi Amerika untuk kembali memperluas pengaruh di sektor minyak Venezuela. Situasi Kuba Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyinggung situasi Kuba. Ia menyebut negara tersebut sebagai “negara yang benar-benar gagal” dan meyakini Havana pada akhirnya akan bergantung pada bantuan Washington.
Trump turut menyinggung paket bantuan kemanusiaan senilai USD100 juta yang sebelumnya diumumkan AS untuk Kuba. “Mereka menerima bantuan itu; mereka menginginkan bantuan. Mereka membutuhkan pertolongan,” katanya.
Pernyataan Trump mengenai Venezuela kembali memicu sorotan internasional karena secara terbuka mengaitkan operasi militer AS dengan kepentingan minyak dan ekonomi.
Sejumlah pengamat sebelumnya menilai pendekatan tersebut berisiko memunculkan tudingan eksploitasi sumber daya dan intervensi geopolitik berbasis kepentingan energi.
Baca juga: Trump Unggah Gambar Peta Venezuela sebagai Negara Bagian ke-51 AS




