REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON — Sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) menuding kelompok peretas (hacker) asal Iran berada di balik serangkaian pembobolan sistem pemantau volume bahan bakar pada tangki penyimpanan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di beberapa negara bagian.
Menurut sumber yang mendapatkan pengarahan terkait insiden ini, para peretas mengeksploitasi sistem pengukur tangki otomatis (automatic tank gauge/ATG) yang terhubung secara daring tanpa dilindungi kata sandi. Celah keamanan ini memungkinkan pelaku memanipulasi tampilan data indikator tangki, meski tidak mengubah volume riil bahan bakar di dalamnya, seperti dikutip dari CNN.
Baca Juga
Kebanjiran Order 13 Negara, Gubernur Khofifah Beberkan Keunggulan Lulusan SMK Jawa Timur
Sebelum Pulang, Delegasi AS Buang Semua Barang Pemberian dari China, Ada Pin Hingga HP
Trump Pergi, Putin akan Datang, Pertama Kali China Terima Pemimpin AS-Rusia di Bulan yang Sama
Kendati infiltrasi siber ini dilaporkan tidak menimbulkan kerusakan fisik atau korban jiwa, insiden tersebut memicu kekhawatiran serius terkait aspek keselamatan. Para pakar keamanan swasta dan pejabat AS memperingatkan bahwa akses ilegal terhadap sistem ATG secara teori dapat membuat kebocoran gas atau bahan bakar tidak terdeteksi.
Pihak penyelidik menyatakan bahwa rekam jejak Iran yang kerap mengincar sistem tangki bahan bakar menjadi alasan utama negara tersebut menjadi tertuduh utama. Namun, sumber tersebut mengingatkan bahwa pemerintah AS kemungkinan akan kesulitan memastikan pelaku secara definitif akibat minimnya bukti forensik digital yang ditinggalkan peretas.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Hingga saat ini, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) belum memberikan komentar resmi terkait peretasan ATG ini, sementara Biro Investigasi Federal (FBI) menolak memberikan pernyataan.