Industri Bank Syariah Segera Kedatangan Pemain Baru di KBMI 2

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Industri perbankan syariah nasional diperkirakan segera kedatangan pemain baru di kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 2 pada tahun ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, satu Bank Umum Syariah atau BUS hasil spin-off ditargetkan mulai terbentuk tahun ini guna memperkuat struktur industri perbankan syariah nasional.

“Pada tahun ini juga diharapkan terbentuk satu BUS baru hasil proses spin-off yang akan memperkuat struktur industri perbankan syariah nasional pada kelompok KBMI 2,” ungkap OJK dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026).

Saat ini, OJK mengungkapkan terdapat tiga bank syariah berskala besar yang mengisi posisi KBMI 2 dan 3. Untuk diketahui, OJK mengelompokkan bank berdasarkan KBMI. Hal itu tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) No.12/POJK.03/2021 tentang Konsolidasi Bank Umum.

Perinciannya, KBMI 1 untuk bank dengan modal inti kurang dari Rp6 triliun, KBMI 2 untuk bank dengan modal inti Rp6 triliun—Rp14 triliun, KBMI 3 untuk bank dengan modal inti Rp14 triliun—Rp70 triliun, dan KBMI 4 untuk bank dengan modal inti lebih dari Rp70 triliun.

Adapun sejalan dengan upaya memperkuat struktur dan ketahanan industri perbankan syariah, konsolidasi industri juga terus berlangsung pada sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Syariah.

Baca Juga

  • Bank Syariah Nasional (BSN) Segera Layani KUR Perumahan Rp500 Miliar
  • Era Baru Industri Bank Syariah Usai Terbitnya POJK 4/2026
  • OJK Rilis Aturan Baru untuk Bank Syariah, Pisahkan Simpanan dan Investasi

Hingga saat ini, OJK tengah memroses penggabungan terhadap 21 BPR/BPR Syariah yang ditargetkan menghasilkan 9 BPR Syariah yang lebih kuat, efisien, dan berdaya saing.

OJK menyebut, berbagai langkah tersebut semakin memperkuat struktur industri perbankan syariah yang merupakan bentuk implementasi dari pilar pertama dalam RP3SI, yaitu Penguatan Struktur dan Ketahanan Industri Perbankan Syariah.

Kinerja Industri Perbankan Syariah

Hingga Maret 2026, industri perbankan syariah mencatat pertumbuhan aset dua digit sebesar 10,49% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1.061,61 triliun.

Sejalan dengan itu, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% YoY menjadi Rp716,40 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional. Pertumbuhan tersebut turut ditopang kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11,14% YoY menjadi Rp811,76 triliun.

Di sisi lain, rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai 87,65%, seiring menguatnya kontribusi perbankan syariah terhadap sektor riil.

Kinerja industri juga tetap terjaga dengan kualitas pembiayaan yang baik, tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) Gross sebesar 2,28% dan NPF Net 0,87%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Nobar Film Pesta Babi di Ciputat, Begini Suasananya
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Ayu Ting Ting Kepergok Gandeng Kevin Gusnadi di Bioskop, Begini Reaksi Ayah Rozak dan Umi Kalsum, Sudah Beri Restu?
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Trump Peringatkan Taiwan Usai Bertemu Xi Jinping, Tak Boleh Deklarasi Kemerdekaan dari China
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Pengakuan Dennis Lim: Judi Online Bisa Ditutup, Tapi Kue -nya Terlalu Besar | ROSI
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Tiba di Museum dan Rumah Singgah Marsinah
• 15 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.