Grid.ID – Sutradara kenamaan Joko Anwar resmi membuka pameran instalasi bertajuk Macabre Art Installation yang menampilkan berbagai objek ikonik dari film horor terbarunya, Ghost in the Cell. Bertempat di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan, pameran ini dibuka secara gratis untuk umum mulai 16 hingga 22 Mei 2026.
Namun, pameran ini bukan sekadar ajang pamer properti film. Joko Anwar atau yang akrab disapa Jokan, menjadikannya sebagai ruang protes terhadap berbagai isu sosial dan kekerasan sistemik yang tengah mencekik masyarakat Indonesia.
Jokan menegaskan bahwa memindahkan objek-objek "makabre" dari layar lebar ke dunia nyata adalah upaya agar publik merasakan urgensi dari isu yang diangkat. Menurutnya, penonton seringkali merasa berjarak dengan isu di film, sehingga kehadiran fisik instalasi ini diharapkan mampu memberikan hantaman realitas.
"Tujuan kita membawa ini ke dunia nyata supaya orang melihat bahwa this is real," tegas Joko Anwar saat ditemui di lokasi pameran, Sabtu (16/5/2026).
"Kita sedang menghadapi kasus korupsi, terutama korupsi sumber daya alam (SDA). Ini adalah kutukan kita sebagai negara kaya, tapi korupsi SDA-nya paling besar," lanjutnya.
Selain korupsi, Joko Anwar secara tajam menyoroti ketimpangan hukum di Indonesia. Ia memandang kekerasan sistemik telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat akibat hukum yang tidak lagi berpihak pada rakyat kecil.
"Satu lagi isu yang mau kita angkat adalah hukum di Indonesia tidak berpihak kepada rakyat. Kekerasan sistemik ini sudah kita rasakan bertahun-tahun. Lewat Macabre Art ini, kami mencoba menyuarakannya ke luar," imbuhnya.
Salah satu instalasi yang paling mencuri perhatian adalah The Fan (Kipas Angin). Instalasi ini menampilkan sosok manusia yang tubuhnya dipaksa menjadi baling-baling kipas di langit-langit. Jokan menjelaskan bahwa karya ini adalah metafora dari siklus kekerasan yang tak pernah berhenti.
"Kipas angin seharusnya memberikan kesejukan dan kepastian hidup, seperti seharusnya sistem melindungi rakyat. Tapi alih-alih sejuk, kipas ini justru menyebarkan bau tidak sedap. Ini menggambarkan ketidaknyamanan kita sebagai warga negara," jelas sutradara Ghost in the Cell tersebut.
Menariknya, Joko Anwar memberikan pernyataan satir mengenai akses pameran ini.
"Gratis bagi mereka yang ingin hukum adil di Indonesia. Jadi bagi orang-orang (yang tidak adil), itu tidak gratis," candanya.
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi lintas profesi yang melibatkan ilustrator dan seniman kelas dunia seperti Benny Kusnoto, Rudy AO, hingga penata rias efek Novie. Jokan berharap riak-riak kecil dari karya seni ini bisa beresonansi menjadi gelombang kesadaran yang lebih besar bagi masyarakat.
Pameran Macabre Art Installation dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Pengunjung bisa menyaksikan secara detail enam instalasi utama: The Fan, Shower Head, The Stove, The Dancer, Flood Light, dan Lady Justice, yang masing-masing menyimpan pesan mendalam tentang luka dan harapan bangsa. (*)
Artikel Asli




